SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) mencatatkan produksi energi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan sebesar 4.113 gigawatt hour (GWh) hingga September 2026. Capaian tersebut meningkat 9,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyampaikan pencapaian itu dalam Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Menurutnya, rekor produksi tersebut mencerminkan ketahanan operasional dan fundamental bisnis perusahaan di tengah tekanan pasar modal Indonesia.
“Di tahun ini, sampai September 2026, kami membukukan, memproduksikan all-time high sebesar 4.113 GWh,” ujar Yani.
Ia menegaskan, koreksi pasar saham tidak berdampak langsung terhadap kinerja fundamental PGE. Yani merujuk pada kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami tekanan, termasuk perubahan klasifikasi pasar oleh MSCI serta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG tercatat turun dari 8.647 pada 31 Desember 2025 menjadi 4.919 pada 4 November 2026. Namun, menurut Yani, kondisi tersebut tidak mengubah tren positif kinerja operasional dan keuangan perusahaan.
“Inilah kondisi pasar di Indonesia. Tetapi, kondisi ini tidak memberikan dampak kepada fundamental PGE,” katanya.
Keandalan Operasional Tetap Terjaga
Selain mencatatkan rekor produksi, PGE juga melaporkan tingkat keandalan operasional yang tinggi. Perusahaan membukukan Availability Factor sebesar 98,51 persen, sementara Forced Outage Rate berada pada level rendah, yakni 0,21 persen.
Kedua indikator tersebut menggambarkan tingkat kesiapan fasilitas pembangkit dalam beroperasi serta frekuensi gangguan yang menyebabkan pembangkit berhenti beroperasi secara tidak terencana.
Capaian tersebut menjadi salah satu penopang produksi energi PGE hingga kuartal III-2026.
Pendapatan dan Laba Bersih Tumbuh
Dari sisi keuangan, PGE membukukan pendapatan sebesar US$352,20 juta hingga kuartal III-2026. Nilai tersebut meningkat 10,46 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Laba bersih perusahaan juga tumbuh 21,45 persen menjadi US$126,62 juta. Sementara itu, EBITDA meningkat 15,58 persen menjadi US$287,77 juta.
Pada periode yang sama, kas dan setara kas PGE tercatat sebesar US$713,68 juta. Perusahaan juga berhasil menurunkan total liabilitas sebesar 3,37 persen menjadi US$955,55 juta.
Yani menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tetap positif di tengah ketidakpastian pasar.
“Inilah bentuk nyata bahwasanya kondisi pasar yang tidak menentu tidak berdampak kepada performance PGE ya. Performance PGE tetap positif, terus tumbuh,” ujar Yani.
Rekor produksi, peningkatan pendapatan dan laba bersih, serta indikator keandalan operasional tersebut memperlihatkan perkembangan kinerja PGE hingga September 2026. Capaian ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat peran energi panas bumi dalam penyediaan energi nasional.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.