SEMARANG — Rivalitas abadi antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo ternyata tidak lagi sekadar perdebatan teknis mengenai jumlah gol atau trofi di lapangan hijau. Sebuah studi ilmiah global berskala besar yang dirilis baru-baru ini pada pertengahan tahun 2026 menemukan bahwa preferensi masyarakat terhadap kedua megabintang tersebut mencerminkan identitas politik dan arsitektur psikologis tersembunyi dari para penggemarnya.
Studi komprehensif bertajuk "Political Identity Beyond Politics: Messi–Ronaldo Preferences in 26 Countries" ini dipimpin oleh tim peneliti internasional dari Nanyang Technological University (NTU), National University of Singapore (NUS), dan Universidad Carlos III de Madrid. Melalui survei terhadap 10.661 responden di 26 negara yang mencakup enam benua, riset ini membuktikan bahwa identitas politik kini telah menjalar jauh ke dalam domain budaya pop dan gaya hidup non-politik.
Nuansa Liberal Messi vs Nuansa Konservatif Ronaldo
Para peneliti menemukan bahwa ideologi politik tingkat individu merupakan prediktor terkuat dalam menentukan pilihan pemain, bahkan setelah mengontrol faktor demografi, penggunaan media, dan tingkat kecerdasan. Responden yang mengidentifikasi diri mereka sebagai kelompok liberal terbukti secara signifikan lebih menyukai Lionel Messi. Sebaliknya, mereka yang berhaluan konservatif cenderung lebih memilih Cristiano Ronaldo.
"Sumbu pemisah ini memetakan persona publik yang diproyeksikan oleh masing-masing pemain," tulis Dr. Saifuddin Ahmed dan tim dalam laporan ilmiah tersebut
Secara kultural, Messi kerap dicitrakan sebagai sosok yang tenang, mengutamakan kerja sama tim, berkomitmen pada keluarga, dan bernuansa komunitarian. Di sisi lain, Ronaldo memproyeksikan persona dominasi individu yang kuat, ekspresif dalam mempromosikan diri, dan percaya diri atas keunggulan personal. Perbedaan nilai dasar inilah yang ditangkap secara tidak sadar oleh radar ideologis masyarakat.
Berdasarkan hasil studi lintas negara tersebut, preferensi budaya non-politik yang tecermin dalam rivalitas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo secara signifikan diatur oleh identitas ideologi politik individu. Melalui analisis tersebut ditemukan bahwa kelompok masyarakat yang berideologi lebih liberal cenderung lebih menyukai Lionel Messi, sedangkan kelompok dengan pandangan politik lebih konservatif secara konsisten menjatuhkan pilihan kepada Cristiano Ronaldo. Fenomena pemilahan identitas (identity sorting) global ini terjadi karena kedua ikon sepak bola tersebut memproyeksikan persona publik dengan kluster nilai yang bertolak belakang pada sumbu dominasi-komunitarian. Persona Messi yang dipersepsikan tenang, penuh hormat, mengutamakan tim, dan berorientasi pada keluarga sangat selaras dengan prinsip-prinsip komunitarian yang dijunjung oleh spektrum politik liberal. Sebaliknya, persona Ronaldo yang dominan, terbuka dalam mempromosikan diri, dan eksplisit mengenai keunggulan pribadi menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi kelompok konservatif yang secara watak psikologis lebih menerima hierarki serta dipengaruhi oleh aspek otoritarianisme. Menariknya, fusi budaya-politik yang memosisikan ideologi sebagai prinsip pengorganisasi ini ditemukan paling kuat dan tajam di antara kohort generasi muda yang tersosialisasi di bawah polarisasi kontemporer, serta terbukti melintasi berbagai batasan geografis dan jenis rezim institusional di seluruh dunia.
Fenomena Unik di Indonesia dan Lintas Negara: Indonesia Mayoritas Fans Ronaldo?
Secara agregat, peta preferensi global menunjukkan variasi yang unik antar-negara. Argentina (negara asal Messi) mencatat preferensi pro-Messi paling masif dengan ukuran efek yang sangat besar Menariknya, Portugal (negara asal Ronaldo) memang condong ke Ronaldo,namun kekuatannya jauh di bawah fanatisme publik Argentina terhadap Messi.
Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu negara dengan kecenderungan paling kuat di dunia dalam memihak Cristiano Ronaldo ketimbang Lionel Messi. Tren Pro-Ronaldo ini pula diikuti oleh negara-negara lain seperti Turki, Meksiko, Malaysia, Nigeria, India, Perancis, Tiongkok, Singapura, dan Mesir. Sementara itu, negara-negara seperti Korea Selatan, Finlandia, dan Inggris Raya berdiri kokoh di kubu pro-Messi.
Terkonsentrasi pada Generasi Muda
Salah satu temuan paling krusial dalam studi ini adalah bahwa hubungan antara ideologi politik dan selera sepak bola ini dimoderasi secara ketat oleh faktor usia. Hubungan fusi antara politik dan preferensi budaya pop ini ditemukan paling tajam dan kuat di antara generasi muda serta dewasa awal. Hubungan ini melemah secara bertahap dan menjadi tidak signifikan pada kohort lansia.
Para peneliti menyimpulkan bahwa fenomena ini mencerminkan lingkungan sosialisasi kontemporer. Generasi muda yang tumbuh di era polarisasi digital yang masif cenderung mengalami "pemilahan identitas" (identity sorting), di mana satu label politik yang mereka anut secara tidak sadar ikut mengatur paket gaya hidup, selera estetika, hingga sosok idola olahraga yang mereka puja.
Studi multidimensi ini menegaskan bahwa di era modern, politik tidak lagi sekadar tentang bilik suara, melainkan sebuah lensa tak kasat mata yang menentukan bagaimana manusia memandang dunia termasuk menentukan siapa pemain sepak bola terbaik di planet bumi.
"Jadi, kalau nanti malam Anda berdebat kusir dengan teman di warung kopi tentang siapa yang lebih hebat antara Messi atau Ronaldo, ingatlah satu hal: Anda mungkin tidak sedang mendebatkan soal sepak bola, melainkan sedang mempertontonkan isi kepala dan pandangan politik Anda masing-masing. Selamat berdebat!"
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.