Sebagai bagian dari masyarakat yang sehari-hari menelaah irisan antara kebijakan hukum, dinamika sosial, dan psikologi evolusioner, kita sering kali dihadapkan pada sebuah paradoks yang menyayat hati. Namun hari ini, kita tidak akan bicara teori hukum yang kaku. Kita hendak mendiskusikan sembari duduk sejenak dan ngobrolin tentang kegelisahan yang mungkin diam-diam sedang kita perdebatkan dalam pikiran ataupun batin kita: Ada apa dengan cinta di zaman ini?
Coba deh kita mikir, sejak kapan ganti pasangan rasanya udah kayak ganti casing HP? Di era serba aplikasi ini, memulai sebuah hubungan rasanya semudah menggeser ibu jari ke kanan (swipe right). Kita menyeleksi manusia layaknya milih barang diskonan di katalog online. Namun, anehnya, kemampuan kita untuk merawat dan mempertahankan hubungan itu justru berada di titik paling rapuh dan ga bagus-bagus amat.
Cinta, komitmen, dan tubuh manusia seolah telah berubah menjadi barang sekali pakai (disposable).
Begitu bosan, begitu fungsi kepuasannya habis, kita buang dan cari yang baru.
Di tengah rasa lelah itu semua, ternyata tumpukan data perpisahan dan banyak keluh kesah yang kita dengar tentang "pasangan" yang tidak serius, rasanya kita perlu membuka pikiran lewat buku "Why Men Want Sex and Women Need Love" karya Allan dan Barbara Pease. Awalnya, mungkin judulnya terasa terlalu vulgar dan materialistis.
Namun, ketika membalik halaman demi halamannya, kita akan terhenyak. Buku itu menampar kita dengan sebuah realitas brutal yang selama ini kita tutupi dengan puisi dan lagu romantis: bahwa asmara, gairah, bahkan air mata perpisahan, pada esensinya sangat disetir oleh reaksi kimia dan "insting bertahan hidup" warisan manusia purba Zaman Batu.
Dan tahukah di mana letak kengeriannya? Ketika insting hewani ini diberi panggung oleh kemudahan era digital, tabrakannya langsung membunuh rasa saling menghargai, meremukkan kesetiaan, dan menghancurkan komitmen jangka panjang kita hingga jadi sampah. Mari kita bedah isi kepala kita pelan-pelan.
Bayang-Bayang Manusia Purba di Balik Layar Handphone
Mari kita akui satu fakta yang sering kita sangkal. Raga kita saat ini mungkin berada di tahun 2026 dimana serba berkemajuan, tapi otak kita ini masih dengan model otak manusia Pemburu dan Pengumpul dari ribuan tahun lalu.
Buku ini sangat menekankan bahwa otak pria dan wanita memiliki "pengkabelan" (wiring) yang sangat berbeda akibat peran masa lalu:
Pria sebagai Pemburu: Otak pria berevolusi untuk fokus pada satu target (spasial), tidak banyak bicara saat berburu agar mangsa tak lari, dan sangat visual. Ini membuat pria modern tumbuh menjadi sosok yang lebih logis, berorientasi pada pemecahan masalah (solutif), namun sering kali gagap dan membisu saat dituntut menyelami kedalaman emosi, serta amat kesulitan melakukan multitasking.
Wanita sebagai Pengumpul dan Perawat: Otak wanita berevolusi untuk menjaga anak, bersosialisasi dengan wanita lain di sekitar goa, dan peka terhadap perubahan lingkungan sekitarnya. Ini membuat wanita sangat mahir membaca bahasa tubuh, jago multi-tugas, dan cara utama mereka memproses emosi serta stres adalah melalui komunikasi (berbicara).
Perbedaan "cetakan pabrik" inilah awal dari banyaknya perpisahan dalam hubungan. Data dari BPS awal tahun 2025 menyodorkan realitas bahwa sepanjang 2024, terdapat sekitar 394.000 hingga 399.000 kasus perceraian di Indonesia.
Daya Tarik: Mata Pria dan Dahaga Wanita
Kita sering bersikap munafik. Kita mengutuk laki-laki yang hanya memuja fisik, dan mencela perempuan yang dituduh "matre". Padahal, jika kita berani jujur, alam bawah sadar kita hanya sedang menjalankan perintah evolusi.
Pria Adalah Makhluk Visual
Pria didorong oleh biologi untuk mencari tanda-tanda kesuburan. Pria tidak sekadar mencari "kecantikan", melainkan indikator bahwa seorang wanita sehat dan mampu melahirkan keturunan. Indikator ini meliputi kulit yang bersih, mata yang cerah, rambut yang tebal, dan yang paling penting: Rasio Pinggang-Pinggul (Waist-to-Hip Ratio / WHR) di angka 0,7 (bentuk jam pasir). Secara historis dan bawah sadar, ini adalah tanda tingkat kesuburan tertinggi dan bukti bahwa sang wanita belum hamil. Di dunia modern, dorongan visual ini sering menjebak pria pada ilusi fisik, melupakan kecocokan karakter.
Wanita dan Ilusi Keamanan
Jika pria memburu kesuburan, perempuan memburu rasa aman. Kehamilan di masa purba membuat perempuan sangat rentan; mereka butuh jaminan bahwa sang pria bisa membawa pulang "daging" buruan. Di abad ini, daging itu bernama uang.
Mari kita perhatikan kutipan teks asli dari buku ini yang mengutip riset Dr. Thomas Pollett:
"Money does for men what makeup does for women... Dr. Thomas Pollett and Prof. Daniel Nettle found that the pleasure women get from making love is directly linked to the size of their partner's bank account. The higher a man's income and resources go, the higher women's orgasm frequency rises."
Makna & Terjemahan: Uang bagi pria ibarat riasan wajah (makeup) bagi wanita. Peneliti menemukan bahwa kenikmatan seksual yang didapatkan wanita berkorelasi langsung dengan ukuran saldo bank pasangannya. Semakin tinggi pendapatan pria, frekuensi orgasme wanita semakin meningkat. Ini bukan soal materialisme murahan; ini adalah sains evolusi. Rasa aman secara absolut membuat sistem saraf wanita rileks, yang merupakan prasyarat biologis bagi mereka untuk bisa melepaskan diri dan mencapai puncak kepuasan.
Namun, sebuah tragedi yang jauh lebih sunyi dan menyayat hati sedang menggerogoti ruang-ruang keluarga kita hari ini: runtuhnya sosok sang pelindung. Apa jadinya jika pondasi rasa aman itu tidak pernah dibangun, atau justru dihancurkan oleh laki-laki yang lari dari tanggung jawab? Di era modern ini, kita terlalu sering menyaksikan laki-laki yang kehilangan arah, enggan berjuang, dan gagal menjadi tempat bersandar. Ketika seorang laki-laki menyerah pada kemalasan dan gagal memikul bebannya sebagai sang penyedia (provider), matilah satu hal yang paling krusial dalam dada seorang perempuan: rasa hormat.
Kehancuran ini terasa makin perih ketika sang perempuan justru tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih tangguh, dominan, dan mapan secara finansial. Secara insting purba, perempuan mencari dahan untuk bernaung. Namun, ketika ia menengok ke samping dan melihat pasangannya yang tidak mapan justru berubah menjadi "benalu" yang hanya menyedot energi dan kewarasannya, ilusi bahwa ia membutuhkan sosok pelindung pun sirna seketika.
Keputusasaan yang ditahan bertahun-tahun itu perlahan bermutasi menjadi rasa muak. Ia merasa tak lagi membutuhkan pendamping yang hanya menjadi beban. Pada titik inilah cinta benar-benar menemui ajalnya: ketika laki-laki kehilangan harga dirinya karena menanggalkan tanggung jawab, dan perempuan membekukan hatinya karena sadar ia bisa membawa pulang "daging buruannya" sendiri. Tanpa rasa hormat dan rasa aman, ikatan batin itu tidak sekadar retak; ia hancur lebur tanpa sisa.
Seksualitas Modern: Microwave vs. Oven Listrik
Ini adalah area di mana buku ini berbicara paling lantang dan jujur (meski kadang memicu perdebatan).
Cowok Bisa Seks Tanpa Cinta
Dorongan seks pria dikendalikan oleh testosteron, yang kadarnya jauh lebih tinggi daripada wanita. Tujuan biologis pria purba adalah menyebarkan benihnya sebanyak mungkin demi kelangsungan spesies. Oleh karena itu, pria dapat dengan mudah melakukan hubungan seks murni untuk pelepasan fisik tanpa melibatkan perasaan apa pun. Bagi pria, seks dan cinta bisa berada di dua kotak yang terpisah di dalam otaknya.
Fakta ini pulalah yang menjelaskan mengapa pria suka pornografi dan membayar untuk seks: Industri ini memfasilitasi fantasi biologis pria untuk menyebarkan benih ke banyak wanita secara visual atau fisik, tanpa harus mengeluarkan komitmen sumber daya jangka panjang, waktu, atau energi emosional.
Cewek Butuh Konteks Emosi
Sebaliknya, biologi menuntut perempuan untuk berhati-hati memilih pasangan karena merekalah yang akan menanggung beban kehamilan selama 9 bulan. Seks bagi wanita sangat terikat dengan hormon oksitosin (hormon pengikat/cinta).
Penulis menggunakan analogi:
Pria itu seperti microwave: Bisa "panas" dalam hitungan detik hanya dengan stimulasi visual sekilas.
Wanita itu seperti oven listrik: Butuh waktu untuk dipanaskan secara bertahap.
Foreplay bagi wanita tidak dimulai sepuluh menit sebelum berhubungan intim di atas ranjang. Foreplay adalah proses 24 jam sebelumnya: ketika pasangannya membantu mencuci piring, mendengarkan keluh kesahnya, memberikan perhatian kecil, atau memeluknya tanpa tendensi seksual.
Namun, di balik kerasnya cangkang biologi pria, Pease menyuguhkan data mengejutkan yang mendobrak mitos maskulinitas:
"Why Men Regard Sex As More Intimate Than Women Do... In a recent study of “hooking up,” 50% of women and 52% of men said that they went into this sexual experience hoping to begin a longer relationship... Men fall in love faster than women do, because they are so visual. They are more dependent on their girlfriends because they have fewer intimate relationships with their male peers. They are 2.5 times more likely to kill themselves when a relationship ends."
Makna & Terjemahan: Secara mengejutkan, dalam kultur seks kasual (hookup), 52% pria (sedikit lebih tinggi dari wanita di angka 50%) justru berharap hubungan seks sesaat itu bisa berlanjut menjadi hubungan asmara jangka panjang. Pria jatuh cinta lebih cepat karena sifat visual mereka. Dan secara ironis, pria jauh lebih bergantung secara emosional pada pasangan wanitanya, karena pria jarang memiliki tempat curhat yang intim dengan sesama teman prianya. Itulah mengapa pria 2,5 kali lebih rentan bunuh diri saat hubungan hancur.
Anatomi Perselingkuhan
Ketika insting liar menang melawan komitmen, perselingkuhan terjadi. Meskipun tanda-tandanya bisa sama (perubahan rutinitas, mendadak modis, menyembunyikan ponsel, atau reaksi gugup), motivasi dasarnya sangat berbeda menurut gender:
Mengapa Pria Berselingkuh: Biasanya murni karena dorongan seksual, variasi, dan sifat oportunistik (ada kesempatan). Sering kali ini sebatas urusan fisik dan tidak berarti ia membenci istrinya atau ingin bercerai.
Mengapa Wanita Berselingkuh: Jarang sekali murni karena seks. Wanita berselingkuh karena merasa diabaikan secara emosional, kesepian yang teramat sangat, atau secara bawah sadar sedang mencari pasangan/penyedia (provider) yang lebih baik (upgrade). Jika wanita berselingkuh, biasanya hatinya sudah ikut pindah jauh sebelum tubuhnya menyusul.
Karena takut akan luka-luka komitmen seperti ini, generasi muda kita akhirnya membangun benteng pertahanan rapuh yang disebut Situationship—sebuah zona abu-abu demi mendapat kehangatan tanpa tanggung jawab. Imbasnya, lahirlah budaya pengecut seperti Ghosting (menghilang tiba-tiba) atau Breadcrumbing (memberi "remah-remah" perhatian agar korban tetap bergantung). Betapa murahnya harga air mata di era ini.
Mahkota yang Berontak dan Tangis Tak Bersuara Milik Laki-Laki
Lalu, apa yang terjadi ketika perempuan menyadari bahwa ia bisa mencari "daging" buruannya sendiri? Terjadilah pergeseran tektonik. Saat ini, angka perceraian yang diajukan oleh istri (Cerai Gugat) mendominasi secara mutlak (hampir menyentuh angka 80% dari total kasus).
Perempuan modern—terutama di usia 40-an yang kariernya telah mapan—tidak lagi sudi dirantai oleh dogma yang menuntut mereka menelan siksaan batin demi menjaga nama baik keluarga. Kebutuhan purba akan "pria penyedia" telah dipenuhi oleh keringat mereka sendiri. Mereka memilih merdeka, meski kita tahu kemerdekaan ini dibayar mahal dengan lelahnya mengasuh anak sendirian dan menahan gempuran stigma sosial sebagai janda.
Namun, di balik angka-angka perpisahan itu, ada sebuah realitas gelap yang sangat jarang kita bicarakan: runtuhnya mental laki-laki.
Jika perempuan menangis, dunia sering kali datang memeluk. Namun ketika laki-laki hancur, ia biasanya mati dalam diam. Data mengungkap bahwa laki-laki berstatus bercerai atau berpisah memiliki risiko bunuh diri yang meroket mengerikan, bahkan bisa menyentuh angka 9 kali lipat pada usia di bawah 34 tahun.
Mengapa? Karena sejak kecil, laki-laki dilarang menangis. Pada akhirnya, laki-laki cenderung menjadikan pasangan perempuannya sebagai satu-satunya jangkar emosional. Ketika perempuan itu pergi, laki-laki kehilangan rumahnya, identitasnya, dan satu-satunya tempat di muka bumi di mana ia diizinkan untuk menjadi rapuh. Rasa sakit itu mengendap di ruang-ruang sepi, berubah menjadi keputusasaan yang fatal.
Menyemai Kembali Jangkar di Lautan yang Bising
Pada akhirnya, "Why Men Want Sex and Women Need Love" menampar kita dengan satu kesadaran absolut. Membawa insting manusia purba, dikendalikan oleh hormon, dan mudah tergoda pada hal baru memanglah takdir biologi kita. Namun, rentetan sains dan angka-angka ini tidak disuguhkan sebagai pembenaran atas luka-luka yang kita ciptakan. Ia justru meletakkan cermin besar di hadapan kita, menyisakan sebuah pertanyaan sunyi untuk dijawab sendiri.
Di era di mana hubungan begitu mudah dibuang (disposable), sosok tergantikan hanya dengan satu usapan layar, dan manusia nyaman bersembunyi di balik dinginnya dunia digital, akankah kita terus tunduk pada "sandi genetik" tersebut?
Memilih untuk setia dan berempati, pada akhirnya, adalah murni kehendak bebas kita. Di zaman yang serba instan dan mudah menguap ini, kesetiaan jangka panjang justru menjadi bentuk pemberontakan yang paling elegan dan radikal.
Cinta sejati rupanya bukanlah tentang ketidakhadiran insting liar di dalam diri kita. Cinta sejati adalah ketika dua anak manusia ini saling menatap. Keduanya menyadari seberapa rapuh, egois, dan rusaknya kode genetik di dalam kepala mereka, namun tetap tersenyum.
Dan dengan sadar, mereka memilih untuk saling menggenggam tangan—melampaui biologi, menentang algoritma, dan berkomitmen membangun makna bersama.
Setiap hari. Sampai napas berhenti.
Kini, kenyataan evolusi itu sudah tergelar telanjang di depan mata. Akankah kita membiarkan "nafsu" mendikte akhir cerita kita, atau memilih untuk menulis takdir cinta kita sendiri? Jawabannya, sepenuhnya ada di genggaman kita masing-masing.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik (BPS). (2025). Statistik Indonesia 2025: Data Nikah dan Cerai Nasional 2024.
Pease, Allan & Barbara. (2012). Why Men Want Sex and Women Need Love. Orion Publishing Group.
Wilson, Michael, et al. (2025). Separated Men Are Nearly 5 Times More Likely to Take Their Lives Than Married Men: A Global Systematic Review. Orygen Research & University of Melbourne.
Pollet, Thomas V. & Nettle, Daniel. (2009). Partner Wealth Predicts Self-Reported Orgasm Frequency in a Sample of Chinese Women. Journal of Evolution and Human Behavior.
GoodStats Data. (2025). Cerai Gugat Dominasi Kasus Perceraian 2020-2024.
Databoks Katadata. (2025). Perceraian Akibat Judi di Indonesia Meroket 83% pada 2024.
Jumadi. (2025). Fenomena Ghosting dalam Hubungan Romantis: Analisis Psikologis dan Dampaknya. Jurnal Ilmu Psikologi.
Psychology Today. (2025). Decoding Modern Dating: The New Lingo You Need to Know.
very insightful