Selasa, 05 Mei 2026 Indonesia

Incel Bukan Sekadar Label, Membaca Kriminogen dalam Series Adolescence

K
Kayla Achri
05 May 2026
38
Incel Bukan Sekadar Label, Membaca Kriminogen dalam Series Adolescence

Serial Adolesence di Platform Netflix yang tayang pada tanggal 13 Maret 2025 ini menyuguhkan sebuah alur cerita yang fenomenal. Serial garapan Sutradara Philip Barantini hadir bukan sebagai tontonan kriminal biasa, melainkan sebagai studi sosial yang memaksa penonton untuk memahami kejahatan dari sudut yang lebih dalam. Alih-alih membangun misteri tentang “siapa pelaku”, serial ini sejak awal justru menempatkan fokus pada “mengapa kejahatan itu terjadi”, khususnya ketika pelakunya adalah seorang anak.


Sinopsis dan Premis Dasar

Adolescence mengikuti kasus Jamie Miller, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap teman sekelasnya, Katie. Episode pertama dibuka dengan adegan penggeledahan rumah dan penangkapan Jamie yang dilakukan secara intens oleh aparat, menciptakan kontras antara usia pelaku yang masih sangat muda dengan pendekatan penegakan hukum yang terkesan “overpowering”.

Narasi kemudian berkembang melalui empat episode yang masing-masing berfokus pada satu ruang dan satu peristiwa utama. Episode kedua memperlihatkan proses penyidikan di sekolah, episode ketiga berisi dialog intens antara Jamie dan psikiater di lembaga pembinaan anak, sementara episode terakhir menyoroti dampak sosial dan psikologis terhadap keluarga Jamie setelah 13 bulan penahanan.

Peran Jamie dalam serial ini dibawakan oleh aktor muda Owen Cooper yang mendapatkan pengakuan luas secara internasional, termasuk penghargaan setingkat Oscar, yang semakin memperkuat kualitas emosional dan kedalaman karakter yang ditampilkan.


Pendekatan Sinematik: One Take sebagai Realisme

Salah satu kekuatan utama Adolescence terletak pada teknik pengambilan gambarnya. Serial ini menggunakan pendekatan one take, di mana setiap episode direkam tanpa banyak pemotongan adegan. Teknik ini menciptakan kesan real-time yang intens, membuat penonton seolah berada langsung di dalam ruang yang sama dengan karakter.

Minimnya perpindahan lokasi juga memperkuat fokus pada dinamika interpersonal, bukan pada aksi. Kamera tidak memberi jarak, sehingga emosi, ketegangan, dan konflik terasa lebih mentah dan tidak terfilter.

Pendekatan ini menjadi sangat efektif terutama pada episode ketiga, yang dapat dikatakan sebagai puncak intensitas dalam serial ini. Dialog antara Jamie dan psikiater Misha Frank berkembang menjadi eksplorasi psikologis yang dalam, di mana Jamie mulai merasa “diserang” oleh pertanyaan-pertanyaan yang menggali identitas dan persepsinya terhadap diri sendiri. Reaksinya yang meledak-ledak menunjukkan bahwa apa yang selama ini terpendam sebenarnya jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.


Dinamika Sosial Remaja dan Proses Penyidikan

Episode kedua memberikan gambaran penting mengenai bagaimana lingkungan sosial remaja bekerja. Inspektur penyidik Bascombe yang datang ke sekolah menggunakan pendekatan yang relatif lembut dan komunikatif terhadap siswa. Namun, proses penyidikan tidak berjalan mulus.

Beberapa hambatan muncul, seperti respons emosional Jade, sahabat Katie, yang tiba-tiba meledak saat dimintai keterangan, atau Ryan, sahabat dekat Jamie yang tiba tiba kabur keluar jendela saat detektif Bascombe menemukan kejanggalan pada pertemanan mereka, serta gangguan eksternal seperti alarm kebakaran yang berbunyi secara tiba-tiba. Situasi ini mencerminkan bahwa dalam konteks remaja, informasi tidak selalu dapat diperoleh melalui pendekatan rasional semata, karena emosi memainkan peran yang sangat dominan.

Relasi pertemanan di usia remaja juga digambarkan sangat erat dan eksklusif. Remaja cenderung merasa bahwa hanya lingkaran pertemanan terdekat mereka yang benar-benar memahami diri mereka. Hal ini terlihat pada karakter Jade yang bersikap defensif dan agresif terhadap pihak luar, bahkan melampiaskan emosinya kepada Ryan, teman Jamie yang dituduh terlibat dalam kasus tersebut.

Arah penyidikan mulai berubah ketika Adam, anak dari detektif Bascombe, mengungkap adanya dinamika sosial yang tidak terlihat oleh orang dewasa. Ia menunjukkan bahwa Jamie merupakan korban perundungan di media sosial, di mana Katie secara terbuka menyebutnya sebagai “incel” dan pelabelan tersebut mendapat dukungan dari siswa lain.


Incel, Cyberbullying, dan Faktor Kriminogen

Dalam konteks ini, istilah incel tidak dapat dipahami sebagai sekadar ejekan atau label kosong. Secara konseptual, incel merupakan singkatan dari involuntary celibate, yaitu individu, umumnya laki-laki yang merasa tidak mampu menjalin hubungan romantis atau seksual, bukan karena pilihan, tetapi karena penolakan sosial yang berulang. Dalam perkembangannya, istilah ini tidak lagi bersifat netral, melainkan telah membentuk sebuah subkultur digital yang sarat dengan narasi keterasingan, inferioritas, serta dalam beberapa kasus, kemarahan terhadap perempuan dan struktur sosial yang dianggap tidak adil.

Tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah ini adalah seorang perempuan bernama Alana pada akhir 1990-an melalui forum daring yang awalnya ditujukan sebagai ruang berbagi pengalaman kesepian. Namun, seiring waktu, istilah tersebut mengalami pergeseran makna dan diapropriasi oleh komunitas tertentu di internet, hingga berkembang menjadi subkultur yang lebih eksklusif dan dalam beberapa kasus problematik.

Dalam serial Adolescence, label “incel” dilekatkan pada Jamie oleh Katie melalui media sosial. Pelabelan ini kemudian diperkuat oleh respons kolektif teman-temannya, baik melalui komentar maupun bentuk persetujuan lainnya. Di titik ini, label tidak lagi berfungsi sebagai deskripsi, melainkan sebagai mekanisme sosial yang membentuk identitas. Dalam kerangka Labeling Theory, proses ini menjadi krusial, karena individu yang secara terus-menerus dilabeli dengan identitas tertentu berpotensi menginternalisasi label tersebut sebagai bagian dari dirinya.

Jamie, bersama dua temannya, juga digambarkan sebagai korban bullying, baik secara fisik maupun verbal. Namun, bentuk perundungan yang paling signifikan justru terjadi di ruang digital. Cyberbullying memiliki karakteristik yang berbeda dari bullying konvensional, ia bersifat lebih publik, berulang, dan melibatkan partisipasi banyak pihak dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, tekanan yang dihasilkan menjadi lebih intens dan sulit dihindari.

Ketertarikan Jamie terhadap Katie menjadi salah satu titik penting dalam dinamika ini. Ketika ia mencoba mendekati Katie, respons yang ia terima justru memperkuat posisi sosialnya sebagai pihak yang ditolak. Bahkan ketika foto Katie tersebar, upaya Jamie untuk mendekatinya kembali tidak menghasilkan penerimaan, melainkan semakin memperdalam jarak sosial di antara mereka.

Dari perspektif kriminologi, kondisi ini dapat dipahami sebagai akumulasi faktor kriminogen. Tekanan sosial yang terus-menerus, pengalaman penolakan, serta pelabelan yang bersifat publik menciptakan kondisi emosional yang tidak stabil. Dalam kerangka General Strain Theory, situasi ini berpotensi memunculkan emosi negatif seperti frustrasi dan kemarahan, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada perilaku menyimpang.

Selain itu, paparan terhadap narasi yang berkembang dalam subkultur digital juga dapat memengaruhi cara individu memahami dirinya dan lingkungannya. Dalam konteks ini, Social Learning Theory menjelaskan bahwa individu belajar dari lingkungan sosialnya, termasuk dari interaksi di ruang digital. Narasi yang terus diulang tentang penolakan, ketidakadilan, dan posisi sebagai “outsider” dapat membentuk kerangka berpikir tertentu yang kemudian memengaruhi tindakan.

Dengan  begini kasus Jamie tidak dapat dipahami semata sebagai tindakan individual, melainkan sebagai hasil dari interaksi kompleks antara pengalaman personal, tekanan sosial, dan konstruksi identitas di ruang digital. Label “incel” dalam konteks ini bukan hanya kata, tetapi menjadi bagian dari proses yang secara perlahan membentuk cara Jamie melihat dirinya sendiri dan pada akhirnya, cara ia bertindak.


Keluarga, Maskulinitas, dan Ruang Digital

Serial ini juga menyoroti peran keluarga dalam membentuk pengalaman anak. Hubungan antara Jamie dan orang tuanya menunjukkan adanya kesenjangan dalam pemahaman. Ayah Jamie, misalnya, mencoba “mengarahkan” anaknya dengan cara konvensional, seperti mendorongnya mengikuti kegiatan olahraga yang sebenarnya tidak diminati oleh Jamie.

Di sisi lain, Adolescence juga mengangkat isu toxic masculinity dan bagaimana ekspektasi sosial terhadap laki-laki dapat memengaruhi cara remaja memahami diri mereka. Dalam kombinasi dengan pengaruh subkultur incel di ruang digital, hal ini menciptakan tekanan tambahan yang sulit diartikulasikan oleh anak.

Serial ini secara implisit menekankan pentingnya kehadiran orang tua dan pengawasan terhadap penggunaan media sosial. Ruang digital bukan lagi sekadar tempat interaksi, tetapi telah menjadi ruang pembentukan identitas yang memiliki dampak nyata terhadap perilaku.


Pelaku, Korban, dan Perhatian Publik

Salah satu kritik sosial yang cukup kuat dalam Adolescence adalah bagaimana masyarakat cenderung lebih fokus pada pelaku dibandingkan korban. Perhatian publik sering kali diarahkan pada upaya memahami motif pelaku, “mengapa ia melakukan kejahatan”, “apa yang memicunya” sementara korban justru perlahan menghilang dari narasi.

Serial ini tidak secara eksplisit mengkritik fenomena tersebut, tetapi memperlihatkannya sebagai realitas yang terjadi. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana kejahatan dipahami dan dibicarakan dalam masyarakat.


Penutup

Adolescence bukan sekadar cerita tentang kejahatan, tetapi tentang proses sosial yang melatarbelakanginya. Ia menunjukkan bahwa dalam kasus anak, tindakan kriminal tidak dapat dilepaskan dari lingkungan yang membentuknya, baik lingkungan fisik, sosial, maupun digital.

Melalui pendekatan yang realistis dan minim dramatisasi, serial ini mengajak penonton untuk melihat kejahatan tidak hanya sebagai pelanggaran hukum, tetapi sebagai fenomena sosial yang kompleks.

Dan dari situ, satu hal menjadi jelas:

bahwa memahami kejahatan anak tidak cukup hanya dengan melihat apa yang terjadi,
tetapi juga harus melihat apa yang membentuknya.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Google Masuk dengan Google
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!