SEMARANG — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (UNNES) resmi memulai rangkaian program Inkubasi Startup Tahun 2026 pada Selasa (28/4/2026)
Mengusung tema "Zero to Startup: Mengembangkan Ide Menjadi Bisnis Siap Tumbuh", acara ini dihadiri oleh 34 tenant terpilih. Tingkat kehadiran tercatat mencapai 100 persen, menunjukkan tingginya komitmen para peserta. Tenant yang diinkubasi berasal dari berbagai sektor inovasi, mulai dari teknologi, kesehatan, hingga edukasi hukum komersial.

Ketua LPPM UNNES, Prof. Dr. Benny Riyanto, S.H., M.Hum., CN, menyampaikan bahwa program ini adalah jembatan vital antara dunia riset akademis dan industri komersial.
"Inkubasi ini adalah wujud nyata komitmen UNNES dalam menghilirisasi riset dan inovasi mahasiswa menjadi bisnis yang riil. Kami berharap 34 tenant terpilih ini tidak hanya berhenti pada ide, tetapi mampu bertumbuh menjadi startup yang mandiri, tangguh, dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat," ujarnya.Agenda krusial dalam kegiatan ini diawali dengan prosesi penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Tim Inkubator Unit Bisnis (IUB) dan para tenant. Penandatanganan ini memberikan landasan legalitas serta jaminan dukungan kelembagaan selama proses inkubasi berjalan.

Untuk memperkuat fondasi pengembangan produk, peserta dibekali dengan dua materi fundamental. Sesi pertama berfokus pada pendekatan Design Thinking yang disampaikan oleh pakar IT, Budi Prasetiyo, S.Si., M.Kom.
"Banyak startup gagal di fase awal karena asyik membuat produk yang ternyata tidak dibutuhkan pasar. Design thinking memaksa kalian untuk turun ke lapangan, berempati pada masalah nyata pengguna, sebelum merancang solusi yang tepat guna," tegas Budi.

Sementara itu, sesi kedua diisi oleh Muhammad Luqmanul Hakim, Export Manager PT. Agro Global Persada, yang membedah esensi Founder Mentality. Ia menyoroti pentingnya ketahanan psikologis dalam merintis usaha.
"Mentalitas seorang pendiri adalah penentu arah bisnis. Kalian harus siap menghadapi penolakan, persaingan, dan titik terendah. Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang dipimpin oleh founder bermental baja," katanya.

Materi dan dukungan legalitas ini direspons sangat positif oleh para peserta. Kayla Achri, perwakilan dari tenant Sobat HAKI, menilai ekosistem inkubasi ini sangat relevan dengan kebutuhan bisnis rintisan.
"Penandatanganan PKS hari ini memberikan kami kepastian legal dan dukungan fasilitas yang sangat berarti. Selain itu, materi Design Thinking benar-benar menyadarkan kami di Sobat HAKI untuk lebih tajam dan akurat dalam memetakan kebutuhan edukasi kekayaan intelektual di masyarakat," ungkap Kayla.

Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Stifani A dari tenant Savera. Ia mengaku terinspirasi oleh materi ketahanan bisnis.
"Sesi Founder Mentality sangat membuka mata. Membangun startup ternyata bukan sekadar memamerkan produk yang keren, tapi seberapa kuat mental kita sebagai tim untuk bisa bertahan dan mencari solusi saat berada di fase kritis," tuturnya.Melalui pendampingan dari IUB LPPM UNNES ini, diharapkan tercipta proses inkubasi yang terstruktur dan berkelanjutan, sehingga mampu melahirkan wirausaha muda yang kompetitif di kancah nasional.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.