Sabtu, 18 Juli 2026 Indonesia

Mendekati Tiga Dekade Dinanti, Proyek LNG Abadi Masela Senilai Rp342 Triliun Resmi Groundbreaking

J
Josua Sondakh
18 July 2026
2
Mendekati Tiga Dekade Dinanti, Proyek LNG Abadi Masela Senilai Rp342 Triliun Resmi Groundbreaking

TANIMBAR-MALUKU, 18 Juli 2026 — Perjalanan panjang salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) terbesar di sektor energi akhirnya memasuki babak baru. Pemerintah secara resmi memulai peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Abadi Liquefied Natural Gas (LNG) Blok Masela yang terletak di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Mega proyek dengan nilai investasi fantastis mencapai 21 miliar dolar AS atau setara dengan Rp342 triliun ini diproyeksikan menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan energi dan mendorong hilirisasi nasional.

Berikut adalah rincian data strategis, kapasitas produksi, struktur konsorsium, serta dampak ekonomi dari Proyek LNG Abadi Masela:

Nilai Investasi dan Alokasi Teknologi Hijau

Investasi jumbo sebesar Rp342 triliun (US$ 21 miliar) ini tidak hanya dialokasikan untuk infrastruktur fisik ekstraksi gas, melainkan sudah mencakup alokasi khusus sebesar US$ 1 miliar untuk implementasi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Langkah ini diambil untuk memastikan proyek raksasa di Laut Arafura ini beroperasi sebagai penyedia energi rendah emisi guna mendukung target Net Zero Emission.

Kapasitas Produksi dan Cadangan Raksasa

Ladang gas Abadi Blok Masela dikenal sebagai salah satu ladang gas abadi terbesar di Indonesia. Lapangan ini diperkirakan menyimpan cadangan terbukti hingga 3,06 triliun kaki kubik (TCF) gas serta 119 juta barel kondensat.

Setelah beroperasi penuh, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi:

  • LNG: 9,5 juta ton per tahun (Million Tons Per Annum/MMTPA).

  • Gas Pipa: Hingga 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan industri domestik.

  • Kondensat: Mencapai 35.000 barel per hari.

Keberpihakan pada Pasar Domestik (Hilirisasi)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan aturan ketat terkait pemanfaatan hasil produksi gas ini. Pemerintah menetapkan kebijakan strategis di mana minimal 60% dari total produksi gas akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik guna menyuplai kebutuhan industri dalam negeri, termasuk mendukung hilirisasi dan rencana pembangunan pabrik pupuk di Tanimbar. Sementara itu, 40% sisanya akan dialokasikan untuk pasar ekspor guna mendatangkan devisa bagi negara.

Komposisi Konsorsium Pengelola

Setelah sempat mengalami dinamika perubahan mitra pasca-keluarnya Shell, struktur kepemilikan dan pengelolaan Blok Masela kini resmi dijalankan oleh konsorsium tiga perusahaan besar:

  • INPEX Masela Ltd. (selaku operator utama): Memegang kepemilikan saham mayoritas sebesar 65%.

  • PT Pertamina Hulu Energi (PHE): Memegang kepemilikan saham sebesar 20%.

  • Petronas Masela Sdn. Bhd.: Memegang kepemilikan saham sebesar 15%.

Dampak Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Proyek ini diproyeksikan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang masif bagi perekonomian nasional, khususnya wilayah Indonesia Timur:

  • Kontribusi Pendapatan Negara: Diproyeksikan menyumbang penerimaan negara hingga US$ 37,8 miliar (atau lebih dari Rp600 triliun) sepanjang masa operasionalnya.

  • Lapangan Kerja: Menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja pada masa puncak konstruksi fisik.

  • Pembangunan Infrastruktur Daerah: Kehadiran megaproyek ini mendorong percepatan pembangunan fasilitas umum seperti pelabuhan, jaringan listrik, jalan, dan telekomunikasi di wilayah Kepulauan Tanimbar dan sekitarnya.

Garis Waktu dan Target Operasional

Progres tahapan desain rekayasa awal atau Front-End Engineering Design (FEED) dilaporkan telah mencapai 79,56%. Konsorsium menargetkan Keputusan Investasi Final (Final Investment Decision/FID) dapat dirampungkan pada akhir tahun 2026.

Pengeboran awal akan mencakup 11 sumur pengembangan dan 4 sumur lanjutan, dengan target produksi komersial (onstream) perdana dijadwalkan berjalan pada rentang tahun 2029 hingga 2030.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam arahannya menekankan bahwa proyek Blok Masela merupakan agenda penting untuk transformasi bangsa menjadi negara modern yang produktif. Beliau meminta seluruh pihak memastikan proyek berjalan atas dasar prinsip saling menguntungkan antara kelangsungan iklim investasi global dan kemakmuran nyata bagi rakyat Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Josua Sondakh dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!