SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus memperluas program Desa Energi Berdikari (DEB) sebagai upaya mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di tingkat desa. Sejak dikembangkan pada 2018, program ini telah menjangkau 310 desa, dengan 24 desa lainnya masih dalam proses pengembangan.
Program yang dijalankan melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan dengan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Pendekatan ini diterapkan agar ketersediaan energi tidak hanya memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, tetapi juga mendukung kegiatan produktif dan menciptakan sumber penghasilan baru.
Dampak program tersebut terlihat di Desa Tumpak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Masyarakat setempat berhasil menghijaukan kembali kawasan hutan lindung yang sempat mengalami kerusakan pada 2018. Kini, sekitar 30 ribu pohon telah tumbuh di kawasan tersebut dan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.
Penggerak masyarakat Desa Tumpak, Burhanudin, menjelaskan bahwa pemulihan lingkungan turut membuka peluang usaha melalui peternakan, ekowisata, serta pengolahan produk turunan kelapa seperti cocopeat, virgin coconut oil (VCO), dan briket.
Berbagai kegiatan tersebut melibatkan sekitar 60 tenaga kerja dan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp60 juta per tahun. Aktivitas produktif masyarakat juga didukung oleh instalasi panel surya berkapasitas 6,6 kilowatt-peak (kWp).
“Semakin banyak pohon yang tertanam, semakin banyak sumber perekonomian baru yang tumbuh di desa ini,” kata Burhanudin dalam kegiatan DETalk bertajuk “Desa Berdaya, Energi Terjaga: Cetak Biru Transisi Energi Masa Depan” yang digelar secara daring, Senin (2/11/2026).

Energi Terbarukan Buka Akses Listrik dan Air Bersih
Perubahan serupa dirasakan masyarakat Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Sebelum hadirnya pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH), wilayah tersebut belum teraliri listrik hingga 2017. Masyarakat bahkan harus menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer menggunakan perahu untuk mendapatkan air bersih.
Kehadiran PLTH mengubah aktivitas masyarakat melalui penyediaan listrik yang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menggerakkan aerator tambak dan teknologi desalinasi untuk mengolah air payau menjadi air bersih.
Program tersebut turut mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui pelatihan pengolahan hasil tambak bagi para ibu. Sementara itu, keberlanjutan operasional pembangkit dijaga melalui koperasi desa dengan mekanisme iuran sebesar Rp25 ribu per keluarga setiap bulan.
Dusun Bondan juga berkembang menjadi lokasi pembelajaran bagi mahasiswa Politeknik Negeri Cilacap. Penggerak masyarakat setempat, Jamaludin, yang menerima Local Hero Award TJSL Pertamina Group 2023, menyebut program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi warga.
“Program ini telah kami buktikan berjalan baik dan memberi manfaat nyata dan luas bagi masyarakat Dusun Bondan,” ujar Jamaludin.
Pertamina Targetkan 732 Desa pada 2030
VP CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa pengembangan Desa Energi Berdikari dilakukan melalui tiga kategori, yakni Ketahanan Pangan, Pesisir Modern, dan Wisata Energi.
Program tersebut juga memiliki tahapan pengembangan mulai dari DEB Putih, Hijau, Biru hingga Siap Mandiri. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola energi terbarukan sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi secara berkelanjutan.
Dari 310 desa yang telah dikembangkan, sebanyak 60 persen berada di luar Pulau Jawa. Pertamina menargetkan jumlah Desa Energi Berdikari mencapai 334 desa pada akhir 2026 dan meningkat menjadi 732 desa pada 2030.
“Kami berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat, berbasis sumber daya lokal,” kata Rudi.
Dari sisi pemanfaatan energi, program DEB telah mengembangkan berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, biogas, mikrohidro, biodiesel hingga pembangkit hibrida. Seluruh pengembangan tersebut menghasilkan kapasitas listrik sebesar 1,595 juta watt-peak (Wp) dan produksi biogas mencapai 973 ribu meter kubik.
Kontribusi terhadap Ekonomi dan Pengurangan Emisi
Selain memperluas akses energi, Desa Energi Berdikari juga mencatatkan kontribusi terhadap sektor pangan dan perikanan.
Di sektor pertanian, program ini menghasilkan lebih dari 21 ribu ton beras dan 5 ribu ton komoditas nonberas dari lahan sekitar 2.000 hektare. Sementara di sektor perikanan, DEB Pesisir Modern berkontribusi terhadap produksi 390 ton ikan tangkap per tahun.
Nilai ekonomi kerakyatan yang dihasilkan mencapai lebih dari Rp26 miliar per tahun dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 283 ribu orang.
Sejumlah desa juga berhasil mengembangkan potensi wisata sebagai sumber pendapatan masyarakat. Ekowisata DEB Uma Palak di Denpasar menghasilkan pendapatan sekitar Rp540 juta per tahun, sedangkan Kampung Kepiting di Cilacap mencatatkan Rp601 juta per tahun.
Pengembangan kapasitas sumber daya manusia turut menjadi bagian dari program tersebut. Hingga saat ini, sebanyak 223 local hero telah memperoleh sertifikasi sebagai operator energi baru terbarukan.
Di Desa Keliki, Ubud, pemanfaatan energi terbarukan turut mendukung peningkatan produktivitas pertanian. Frekuensi panen padi yang sebelumnya hanya sekali dalam setahun meningkat menjadi hingga tiga kali. Hasil panen juga naik dari sekitar 3–4 ton menjadi 7 ton per hektare.
Program ini juga memberikan manfaat dalam situasi darurat. DEB Watumite di Ende, misalnya, mampu menjaga ketersediaan listrik dan akses internet ketika terjadi bencana.
Dari aspek lingkungan, pengembangan Desa Energi Berdikari berkontribusi terhadap pengurangan emisi lebih dari 1,1 juta ton CO2 ekuivalen serta pengelolaan sekitar 145 ribu ton sampah per tahun.
Pelaksanaan program turut didukung pendekatan kolaborasi pentahelix. Bersama 13 perguruan tinggi, Pertamina telah menghadirkan 40 jenis teknologi tepat guna yang diterapkan di 134 desa.
Melalui pengembangan Desa Energi Berdikari, Pertamina mengintegrasikan pemanfaatan energi terbarukan dengan pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan pangan, pengembangan usaha lokal, serta pelestarian lingkungan. Program ini menjadi salah satu pendekatan perusahaan dalam mendorong transisi energi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.