SEMARANG, 28 Agustus 2026 — Pengembangan panas bumi Gunung Ungaran, Jawa Tengah, kembali memasuki babak baru setelah pemerintah memberikan ruang bagi PT PLN (Persero) untuk melanjutkan tahapan eksplorasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran.
Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.TK/EK.04/MEMBPE/2026, WKP Gunung Ungaran didelegasikan kepada PLN. Pemerintah Jawa Tengah menyebut kawasan tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas pengembangan hingga 55 megawatt (MW) dengan estimasi investasi sekitar US$300 juta.
Namun, proyek ini belum berada pada tahap pembangunan pembangkit.
Pengeboran eksplorasi baru ditargetkan berlangsung pada akhir 2028 atau awal 2029 dengan kedalaman sekitar 1.900–2.200 meter. Jika hasil pengeboran menunjukkan sumber daya panas bumi yang cukup dan seluruh tahapan perizinan berjalan sesuai rencana, pembangkit ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada 2031.
Dengan demikian, angka 55 MW perlu ditempatkan secara tepat. Kapasitas tersebut merupakan target pengembangan yang masih harus dibuktikan melalui data bawah permukaan dan pengujian sumur.
Potensi yang Telah Lama Diteliti
Gunung Ungaran bukan wilayah yang baru dikenal memiliki potensi panas bumi.
Kajian Badan Geologi menunjukkan adanya sistem panas bumi di kawasan Ungaran yang ditandai oleh sejumlah manifestasi permukaan, antara lain mata air panas, fumarol, tanah panas, dan batuan ubahan.
Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga kelompok daerah panas bumi, yakni Gedongsongo, Nglimut, dan Kendalisodo, kemudian menyusun model konseptual yang mencakup batuan penudung, reservoir, batuan dasar, sumber panas, serta distribusi temperatur bawah permukaan.
Secara geologi, kawasan Gunung Ungaran tersusun antara lain oleh batuan vulkanik Kuarter berupa breksi vulkanik, lava, dan tuf. Batuan yang telah mengalami alterasi juga ditemukan di sekitar fumarol dan mata air panas Gedongsongo. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator keberadaan sistem hidrotermal di kawasan Gunung Ungaran.
Artinya, pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran memiliki landasan penelitian geosains yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Temperatur Reservoir Menunjukkan Prospek Menjanjikan
Salah satu informasi penting dari penelitian sebelumnya adalah estimasi temperatur reservoir.
Penelitian UGM yang diterbitkan pada 2006 memperkirakan temperatur reservoir Gunung Ungaran sekitar 230°C berdasarkan geothermometri gas. Studi tersebut menempatkan Gedongsongo di lereng selatan Gunung Ungaran sebagai daerah prospek panas bumi.
Penelitian akademik terbaru UGM pada 2026 kembali memberikan gambaran yang menarik. Dengan menggunakan metode multicomponent geothermometer, penelitian tersebut memperkirakan temperatur reservoir sistem panas bumi Gunung Ungaran dan sekitarnya berada pada rentang 176–260°C, dengan temperatur representatif sekitar 230°C.
Penelitian tersebut mengindikasikan sistem panas bumi Gunung Ungaran berada pada kategori temperatur menengah hingga tinggi.
Bagi pengembangan pembangkit, temperatur tersebut merupakan indikasi yang positif.
Namun, temperatur tinggi tidak otomatis berarti pembangkit mampu menghasilkan 55 MW.
Dalam pengembangan panas bumi, temperatur hanyalah salah satu parameter. Produktivitas sumur juga ditentukan oleh jumlah fluida, tekanan, permeabilitas, karakteristik reservoir, serta kemampuan fluida mengalir menuju sumur produksi.
Karena itu, pertanyaan sebenarnya bukan hanya seberapa panas reservoir Gunung Ungaran, tetapi juga seberapa besar dan produktif reservoir tersebut.
55 MW Bukan Angka yang Bisa Langsung Dianggap Terbukti
Perbedaan antara potensi sumber daya dan kapasitas pembangkit menjadi penting dalam membaca proyek Gunung Ungaran.
Literatur mengenai kawasan ini menghasilkan angka potensi yang berbeda sesuai metode, asumsi, luas prospek, dan tingkat keyakinan data.
Penelitian UGM 2006, misalnya, menghitung sekitar 11,25 MWe untuk luasan prospek tertentu berdasarkan asumsi yang digunakan dalam penelitian tersebut. Sementara kajian Badan Geologi pada periode berikutnya mencatat estimasi potensi yang lebih besar untuk WKP Gunung Ungaran.
Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan penelitian.
Dalam panas bumi, estimasi potensi dapat berubah ketika data geologi, geokimia, geofisika, temperatur, luas reservoir, permeabilitas, maupun asumsi teknis diperbarui.
Bahkan, dokumen Pemprov Jawa Tengah pada 2022 mencatat bahwa estimasi awal pengembangan 55 MW pernah dihitung ulang menjadi sekitar 20 MW setelah survei dan perhitungan kembali. Penurunan tersebut pada saat itu berdampak pada keekonomian proyek.
Fakta ini penting untuk memahami posisi proyek pada 2026.
Target 55 MW yang kembali muncul bukan berarti 55 MW telah terbukti di dalam reservoir. Angka tersebut masih harus dikonfirmasi melalui eksplorasi dan pengeboran.
Pengeboran Menjadi Titik Pembuktian
Pemerintah Jawa Tengah menyebut eksplorasi merupakan proses untuk membuktikan hasil kajian tidak langsung yang selama ini telah dilakukan.
Sumur eksplorasi ditargetkan mencapai kedalaman sekitar 1.900–2.200 meter.
Melalui pengeboran, pengembang dapat memperoleh data langsung mengenai kondisi bawah permukaan, termasuk temperatur, tekanan, zona masuknya fluida, permeabilitas, karakteristik fluida, serta produktivitas sumur.
Data tersebut akan jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar indikasi permukaan.
Jika hasil pengeboran menunjukkan panas atau uap yang tidak mencukupi, eksplorasi dapat dihentikan pada titik tersebut dan dialihkan ke prospek lainnya. Sebaliknya, jika reservoir terbukti produktif, data sumur dapat menjadi dasar untuk masuk ke tahap pengembangan lapangan dan pembangkit.
Karena itu, pengeboran 2028/2029 dapat menjadi titik balik utama bagi masa depan proyek Gunung Ungaran.
29.800 Hektare Bukan Berarti Seluruhnya Dibangun PLTP
WKP Gunung Ungaran memiliki luas sekitar 29.800 hektare.
Angka tersebut juga perlu dibaca secara tepat.
Luas WKP merupakan ruang kerja untuk pencarian dan pengembangan sumber daya, bukan luas tapak pembangkit.
Pemerintah Jawa Tengah menegaskan bahwa pengeboran tidak dilakukan secara sembarangan. Titik eksplorasi akan ditentukan berdasarkan hasil penelitian dan prospek bawah permukaan, serta mempertimbangkan kesiapan infrastruktur.
Dengan demikian, pembangunan fisik nantinya hanya menggunakan sebagian kecil dari wilayah kerja tersebut.
Pemahaman ini penting untuk mencegah munculnya persepsi bahwa seluruh 29.800 hektare akan berubah menjadi kawasan pembangkit.
Risiko Geothermal Bukan Sekadar Soal Ada atau Tidak Ada Panas
Dalam pengembangan panas bumi, keberadaan panas saja tidak cukup.
Setidaknya terdapat beberapa risiko yang harus dijawab melalui eksplorasi.
Pertama, resource risk, yaitu apakah sumber daya yang tersedia cukup besar.
Kedua, permeability risk, yaitu apakah fluida dapat mengalir melalui batuan menuju sumur.
Ketiga, productivity risk, yakni apakah sumur dapat menghasilkan fluida dalam jumlah yang memadai.
Keempat, reservoir sustainability, yaitu apakah produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kelima, chemical risk, termasuk kemungkinan terjadinya scaling atau korosi akibat karakteristik fluida.
Dan keenam, economic risk, yakni apakah keseluruhan investasi dapat menghasilkan proyek yang layak secara ekonomi.
Karena itu, keberhasilan Gunung Ungaran tidak cukup dinilai dari satu angka kapasitas.
Ia merupakan kombinasi antara sumber daya, reservoir, sumur, keekonomian, lingkungan, dan penerimaan masyarakat.
Lingkungan Tetap Menjadi Bagian dari Keberhasilan
Sebagai proyek energi terbarukan, panas bumi memiliki posisi penting dalam transisi energi. Namun, status sebagai energi terbarukan tidak berarti proyek dapat mengabaikan aspek lingkungan.
Pemerintah Jawa Tengah menyatakan pengembangan Gunung Ungaran masih harus melewati sejumlah tahapan, termasuk Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), serta persetujuan lingkungan dan AMDAL.
Pemerintah juga menyatakan akan membuka public hearing yang melibatkan masyarakat, pemangku kepentingan, dan organisasi masyarakat sipil.
Hal tersebut menjadi penting karena kawasan Gunung Ungaran memiliki fungsi ekologis dan sosial yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Beberapa isu yang perlu mendapatkan perhatian antara lain perlindungan sumber air, kondisi hutan, keanekaragaman hayati, stabilitas lahan, aktivitas masyarakat, lalu lintas kendaraan proyek, limbah pengeboran, serta pengelolaan fluida panas bumi.
Bagi proyek geothermal yang ingin memperoleh dukungan publik dalam jangka panjang, kajian lingkungan dan keterbukaan informasi bukan hambatan, melainkan bagian dari fondasi proyek.
Air dan Masyarakat Tidak Boleh Menjadi Catatan Kaki
Gunung Ungaran memiliki berbagai manifestasi hidrotermal. Karena itu, hubungan antara sistem panas bumi dan sistem air permukaan maupun air tanah menjadi salah satu aspek yang perlu dipahami secara ilmiah.
Pemantauan idealnya dilakukan sejak sebelum pengeboran sebagai baseline, kemudian dilanjutkan selama eksplorasi dan pengembangan.
Dengan cara tersebut, perubahan kualitas atau kuantitas air dapat dibandingkan berdasarkan data sebelum dan sesudah kegiatan.
Pada saat yang sama, masyarakat sekitar juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai lokasi sumur, penggunaan lahan, akses proyek, potensi lapangan kerja, risiko kegiatan, mekanisme pengaduan, serta manfaat ekonomi yang mungkin diperoleh.
Keterlibatan masyarakat seharusnya tidak berhenti pada forum formal, tetapi menjadi bagian dari tata kelola proyek.
Peluang Strategis bagi Jawa Tengah
Jika reservoir Gunung Ungaran nantinya terbukti mampu menopang pengembangan 55 MW, proyek tersebut dapat memberikan tambahan kapasitas energi terbarukan bagi sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali.
Pemerintah Jawa Tengah memperkirakan pengembangan tersebut dapat memberikan kontribusi sekitar 4–5 persen terhadap bauran EBT Jawa Tengah.
Saat ini, Pemprov Jateng menyebut bauran EBT daerah telah mencapai 22,3 persen, melampaui target RUED 2025 sebesar 21,32 persen. Di sektor panas bumi, Jawa Tengah juga memiliki sejumlah wilayah prospek lain seperti Dieng, Baturraden, Guci, Umbul Telomoyo, dan Jenawi.
Dengan demikian, Gunung Ungaran bukan proyek yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya memperbesar peran panas bumi dalam sistem energi Jawa Tengah.
Menuju 2031, Apa yang Harus Dibuktikan?
Target COD 2031 masih berada beberapa tahun di depan.
Sebelum sampai ke sana, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui.
Pada fase saat ini, PLN perlu menyelesaikan persiapan dan perizinan.
Selanjutnya dilakukan pengeboran eksplorasi yang ditargetkan pada akhir 2028 atau awal 2029.
Setelah pengeboran, hasil pengujian reservoir akan menentukan apakah sumber daya yang ditemukan cukup untuk dikembangkan.
Jika terbukti, pembangunan infrastruktur dan fasilitas pembangkit dapat dilanjutkan menuju target COD 2031.
Namun jika hasil eksplorasi tidak memenuhi ekspektasi, rencana pengembangan harus disesuaikan berdasarkan data lapangan.
Karena itu, 2031 sebaiknya dibaca sebagai target pengembangan, bukan kepastian operasi.
Dari Potensi Menuju Pembuktian
Gunung Ungaran memiliki alasan kuat untuk terus dieksplorasi.
Manifestasi panas bumi telah ditemukan sejak lama. Kajian geologi, geokimia dan geofisika telah dilakukan. Model konseptual sistem panas bumi juga telah dibangun. Penelitian akademik terbaru kembali menunjukkan estimasi temperatur reservoir yang menarik, sekitar 176–260°C dengan temperatur representatif 230°C.
Namun, seluruh data tersebut masih berada pada tahap yang berbeda dengan pembuktian produktivitas reservoir melalui sumur eksplorasi.
Di sinilah proyek Gunung Ungaran memasuki fase penting.
Bukan lagi sekadar mencari apakah panas bumi ada, tetapi membuktikan apakah sumber daya tersebut cukup produktif dan ekonomis untuk dikembangkan menjadi pembangkit 55 MW.
Jika berhasil, Gunung Ungaran berpotensi menjadi tambahan sumber energi terbarukan bagi sistem Jamali sekaligus memperkuat posisi Jawa Tengah dalam pengembangan panas bumi.
Tetapi keberhasilan itu harus dibangun melalui data.
Dari survei menuju pengeboran. Dari pengeboran menuju pembuktian reservoir. Dari reservoir menuju pembangunan. Dan akhirnya, dari potensi menjadi listrik.
Itulah perjalanan yang kini harus ditempuh Gunung Ungaran menuju target 55 MW.
Referensi Utama
- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah — Dinas ESDM Jateng Beberkan Potensi Pengembangan PLTP Gunung Ungaran — memuat informasi terbaru mengenai WKP, target 55 MW, investasi sekitar US$300 juta, kedalaman pengeboran 1.900–2.200 meter, serta target COD 2031. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah — Pemprov Jateng Pastikan Eksplorasi Geothermal Gunung Ungaran Lewati Perizinan Ketat — menjadi rujukan aspek perizinan, lingkungan, AMDAL, dan pelibatan masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
- Badan Geologi, Kementerian ESDM — kajian geosains Gunung Ungaran mengenai manifestasi panas bumi, prospek Gedongsongo, Nglimut, dan Kendalisodo serta model konseptual sistem panas bumi. Buletin Sumber Daya Geologi – Badan Geologi
- Universitas Gadjah Mada (UGM) — kajian potensi panas bumi Gunung Ungaran dan estimasi temperatur reservoir sekitar 230°C. Jurnal UGM – BIMIPA
- UGM Repository — penelitian mengenai penggunaan multicomponent geothermometer untuk memperkirakan temperatur reservoir panas bumi Gunung Ungaran, dengan rentang estimasi 176–260°C. UGM Electronic Theses and Dissertations
- Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral – Badan Geologi — kajian geologi dan geomorfologi Gunungapi Ungaran sebagai dasar pemahaman kondisi geologi kawasan. Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.