Manado, 27 Agustus 2026 — Pengembangan panas bumi Indonesia memasuki tahap baru melalui upaya mengoptimalkan panas dari pembangkit yang telah beroperasi. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power menandatangani Letter of Intent (LoI) pembelian tenaga listrik untuk dua proyek bottoming unit dengan total kapasitas 45 megawatt (MW).
Kedua proyek tersebut adalah Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara dan Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 MW di Lampung.
Kesepakatan tersebut diumumkan dalam rangkaian The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. LoI ini menjadi bagian dari proses pengembangan kedua proyek dan memperkuat kerja sama PGE dengan PLN Indonesia Power dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi yang telah tersedia.
Bukan PLTP baru dari nol
Yang membuat proyek ini berbeda adalah teknologi yang digunakan.
Lahendong dan Ulubelu dikembangkan menggunakan konsep bottoming cycle atau binary unit. Teknologi tersebut memungkinkan panas yang masih tersisa dari proses pembangkitan pada PLTP eksisting dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik tambahan.
Dengan pendekatan ini, peningkatan kapasitas tidak sepenuhnya bergantung pada pembukaan lapangan panas bumi baru.
PLN Indonesia Power menyebut teknologi bottoming dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan sumber daya pada Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang telah beroperasi. Dengan memanfaatkan aset dan sumber daya yang sudah tersedia, kapasitas pembangkitan dapat ditingkatkan.
Secara sederhana, pembangkit utama telah menghasilkan listrik dari sumber panas bumi. Namun, fluida yang keluar dari proses tersebut masih memiliki kandungan panas. Melalui sistem bottoming, panas tersebut dimanfaatkan kembali dalam siklus tambahan untuk menghasilkan listrik.
Di sinilah nilai strategis proyek tersebut: menambah listrik dengan mengoptimalkan sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Lahendong: 15 MW dari lapangan yang sudah beroperasi
Bagi Sulawesi Utara, proyek Lahendong memiliki arti khusus.
Lapangan panas bumi Lahendong merupakan salah satu wilayah pengembangan geothermal penting di Indonesia. PGE menyebut terdapat enam unit PLTP yang telah beroperasi secara komersial di Lahendong dengan total kapasitas terpasang 120 MW, yang menjadi salah satu sumber pasokan listrik bagi sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo.
Kini, kawasan tersebut kembali diproyeksikan menghasilkan tambahan listrik melalui Lahendong Bottoming Unit 15 MW.
Namun, angka 15 MW tersebut perlu dibaca secara tepat.
15 MW belum merupakan kapasitas pembangkit yang sudah beroperasi.
Proyek ini masih berada dalam proses pengembangan. Sebelumnya, pada April 2026, konsorsium PGE dan PLN Indonesia Power telah mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PLN untuk proyek Lahendong Bottoming Unit 15 MW. Setelah kesepakatan tarif, proyek masih harus melewati tahapan lanjutan sebelum dapat memasuki fase operasi komersial.
Proyek Lahendong tersebut ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
Dengan demikian, tambahan 15 MW yang disebut dalam kerja sama bukan berarti Sulawesi Utara sudah mendapatkan tambahan 15 MW pada saat ini.
Ulubelu menyumbang 30 MW
Proyek kedua berada di Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas 30 MW.
PGE dan PLN Indonesia Power sebelumnya telah mencapai kesepakatan tarif untuk proyek Ulubelu Bottoming Unit pada Desember 2025. Proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan co-generation untuk memanfaatkan energi panas bumi dari fasilitas yang telah ada.
Jika kedua proyek tersebut berhasil direalisasikan, Lahendong dan Ulubelu secara keseluruhan berpotensi menambah 45 MW kapasitas pembangkitan.
Tetapi sekali lagi, angka tersebut merupakan kapasitas proyek yang sedang dikembangkan, bukan kapasitas yang sudah masuk dalam operasi sistem kelistrikan Indonesia.
Dari 45 MW menuju potensi yang lebih besar
Kerja sama PGE dan PLN Indonesia Power sebenarnya memiliki cakupan lebih luas daripada dua proyek tersebut.
PGE sebelumnya menyebut pengembangan proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power memiliki potensi hingga sekitar 230 MW. Sejumlah wilayah kerja panas bumi telah diidentifikasi untuk pengembangan konsep tersebut, termasuk Lahendong, Ulubelu, Lumut Balai, Hululais, Kamojang, Sibayak, dan Sungai Penuh.
Tahap awalnya adalah dua proyek yang kini menjadi fokus, yakni 45 MW dari Lahendong dan Ulubelu.
Karena itu, angka 230 MW sebaiknya tidak dipahami sebagai kapasitas yang akan langsung dibangun. Angka tersebut merupakan potensi pengembangan dalam pipeline kerja sama, sementara realisasinya tetap bergantung pada kelayakan teknis, keekonomian, proses pengadaan, pembiayaan, konstruksi, dan tahapan proyek lainnya.
Kenapa pendekatan ini penting bagi geothermal Indonesia?
Pengembangan panas bumi selama ini identik dengan eksplorasi, pengeboran, dan pembangunan pembangkit baru.
Namun, pendekatan bottoming cycle menawarkan strategi yang berbeda: mengoptimalkan lapangan yang sudah ada terlebih dahulu.
Kementerian ESDM sebelumnya juga telah mendorong pengembangan PLTP co-generation sebagai salah satu cara meningkatkan kapasitas pembangkitan dari aset panas bumi eksisting. Pemerintah mengidentifikasi sejumlah WKP untuk pengembangan proyek tersebut dan menargetkan proyek co-generation dapat masuk tahap operasi secara bertahap.
Strategi tersebut menjadi relevan karena pembangunan proyek geothermal baru memiliki tantangan besar, mulai dari risiko eksplorasi hingga kebutuhan investasi dan kepastian proyek.
Sementara pada lapangan yang telah berproduksi, sebagian infrastruktur dan sumber daya telah tersedia.
Artinya, potensi penambahan listrik tidak selalu harus dimulai dengan mencari panas bumi di tempat baru.
Tantangannya justru ada pada realisasi
LoI 45 MW merupakan sinyal positif, tetapi bukan garis akhir.
Masih terdapat jarak antara kesepakatan, pembangunan pembangkit, dan listrik yang benar-benar masuk ke jaringan.
Bagi sektor energi terbarukan Indonesia, perbedaan ini penting.
Sebab keberhasilan transisi energi tidak ditentukan oleh berapa banyak potensi panas bumi yang tercatat atau berapa banyak kesepakatan yang ditandatangani, tetapi oleh berapa banyak kapasitas yang akhirnya dibangun, beroperasi, dan menghasilkan listrik secara konsisten.
Dalam konteks Lahendong, target COD 2028 akan menjadi salah satu titik penting untuk mengukur apakah strategi optimalisasi panas bumi eksisting benar-benar mampu diterjemahkan menjadi tambahan listrik bagi sistem Sulawesi Utara.
Lahendong dan babak baru geothermal Indonesia
Proyek Lahendong Bottoming Unit 15 MW menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi Indonesia mulai bergerak dari sekadar mengejar sumber daya baru menuju optimalisasi sumber daya yang telah dimiliki.
Jika pendekatan ini berhasil diterapkan secara luas pada berbagai lapangan panas bumi eksisting, Indonesia memiliki peluang mendapatkan tambahan kapasitas tanpa selalu bergantung pada pengembangan lapangan baru.
Namun, angka 45 MW hari ini masih merupakan target kapasitas proyek yang sedang dikembangkan.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih penting:
Kapan 45 MW tersebut benar-benar menjadi listrik yang masuk ke sistem?
Untuk Lahendong, jawabannya saat ini diarahkan menuju 2028.
Dan bagi Sulawesi Utara, perjalanan menuju tambahan 15 MW tersebut akan menjadi salah satu perkembangan penting dalam babak berikutnya pemanfaatan panas bumi di daerah yang selama lebih dari dua dekade telah menjadi salah satu pusat geothermal Indonesia.
Panas Bumi, Geothermal, Lahendong, Sulawesi Utara, PGE, PLN Indonesia Power, Ulubelu, Energi Terbarukan, EBT, Bottoming Unit, Co-generation, Energi Bersih, Transisi Energi, Ketahanan Energi, Energi Indonesia
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.