Kamis, 05 November 2026

PGEO Perluas Pasar Panas Bumi, Jajaki Pasokan Listrik bagi Data Center

Foto: Pertamina Geothermal Energy
Foto: Pertamina Geothermal Energy

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mulai menjajaki kerja sama penyediaan listrik berbasis panas bumi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan pusat data atau data center. Sebagai tahap awal, PGEO menyiapkan kapasitas sebesar 5 megawatt (MW) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat.

Pilot project tersebut menjadi bagian dari upaya PGEO memperluas pemanfaatan energi panas bumi ke sektor digital, yang membutuhkan pasokan listrik stabil untuk menjalankan operasional pusat data.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, mengatakan perseroan saat ini tengah berdiskusi intensif dengan sejumlah pelaku industri data center yang berpotensi menjadi pembeli listrik (off-taker).

Namun, realisasi proyek masih bergantung pada penyesuaian sejumlah regulasi dan penyelesaian kajian internal perusahaan.

“Hari ini PGEO sedang berdiskusi intens dengan data center player untuk menjadi off-taker nantinya,” kata Edwil dalam media briefing di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Penyesuaian Regulasi Ditargetkan Rampung Akhir 2026

Edwil menjelaskan, penyediaan listrik langsung kepada perusahaan data center memerlukan penyesuaian regulasi, termasuk ketentuan perizinan dan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

Selain aspek perizinan, PGEO juga tengah mengkaji kapasitas pasokan listrik yang dapat dialokasikan tanpa mengganggu kewajiban penyediaan listrik kepada pembeli eksisting, termasuk PT PLN (Persero).

Penyesuaian regulasi dan kajian internal tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026 atau sekitar awal 2027. Setelah itu, perseroan dapat melanjutkan proyek ke tahap berikutnya.

Dengan demikian, penjajakan kerja sama yang berlangsung saat ini belum berarti penyaluran listrik kepada perusahaan data center telah dimulai.

Kamojang Jadi Lokasi Pilot Project 5 MW

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, mengatakan dari sisi teknologi perusahaan telah memiliki kesiapan untuk menjalankan proyek tersebut. Fokus berikutnya adalah membawa teknologi yang dikembangkan menuju tahap komersialisasi.

Sebagai langkah awal, PGEO memilih pendekatan bertahap dengan mengalokasikan kapasitas 5 MW dari Kamojang. Listrik tersebut akan dibangkitkan menggunakan energi panas bumi.

“Kami coba dengan step kecil dulu 5 MW di Kamojang, kita bangkitkan menggunakan energi geothermal. [Waktu pilot project] sekitar 1–2 tahun,” ujar Yani.

Durasi pilot project diperkirakan berlangsung selama satu hingga dua tahun. Tahap ini menjadi bagian dari pengujian dan pengembangan model pasokan listrik panas bumi untuk kebutuhan operasional pusat data.

Peluang Panas Bumi Masuk ke Sektor Digital

Jika terealisasi, proyek tersebut berpotensi membuka pasar baru bagi energi panas bumi di Indonesia, khususnya untuk memenuhi kebutuhan listrik sektor pusat data.

Kebutuhan listrik yang berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam operasional data center. Di sisi lain, pemanfaatan energi panas bumi dapat memperluas penggunaan energi bersih ke sektor industri digital.

PGEO menyebut proyek ini berpeluang menjadikan perseroan sebagai perusahaan energi bersih pertama yang memasok listrik untuk kebutuhan data center.

Meski demikian, realisasi komersialnya masih menunggu penyelesaian penyesuaian regulasi, kajian kapasitas pasokan, serta kesepakatan dengan calon off-taker.

Disclaimer

Artikel ini merupakan rilis publikasi dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!