SINERGYNEWS.ID, Manado 31 Oktober 2026 – Geonusa Institute secara resmi menyatakan dukungan penuh sekaligus mendesak percepatan realisasi rencana pengembangan pusat data ramah lingkungan (Green Data Center) berbasis panas bumi di Sulawesi Utara. Langkah progresif ini dinilai sebagai momentum emas yang harus segera dieksekusi tanpa penundaan demi menyatukan potensi energi terbarukan lokal dengan ekosistem digital masa depan.
Ketua Umum Geonusa Institute, Josua Sondakh, menyerukan aksi nyata dan gerak cepat dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pelaku lainnya untuk memberikan dukungan penuh terhadap proyek strategis ini.

"Dengan digunakannya Pembangkit Listrik Panas Bumi sebagai sumber energi Data Center, ini menjadi langkah strategis bagi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara. Ini adalah langkah yang sangat positif untuk menjadikan Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang pembangunan kawasan Indonesia Timur. Oleh karena itu, kita harus melakukan percepatan secara masif. Rencana baik dari PGE ini wajib dikawal penuh oleh pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait agar penguatan pertumbuhan ekonomi hijau kita segera terwujud," tegas Josua Sondakh dalam pernyataan resminya.
Menurut Josua, dukungan dan percepatan proyek ini akan menjadi kunci utama dalam memotong ketimpangan akses digital nasional. Sulawesi Utara harus didorong secepat mungkin menjadi episentrum baru bagi pemerataan teknologi tinggi, sehingga kue pembangunan benar-benar hadir dan dirasakan langsung demi kepentingan masyarakat luas di kawasan Indonesia Timur.
Geonusa Institute mencatat bahwa Bumi Nyiur Melambai menyimpan kekayaan geologis yang sangat luar biasa dengan total potensi energi panas bumi mencapai 865 megawatt (MW). Anugerah alam yang melimpah dan stabil (baseload energy) ini menempatkan Sulawesi Utara di posisi tawar tertinggi global, karena mampu menyuplai kebutuhan daya pusat data selama 24 jam penuh tanpa risiko intermitensi cuaca.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Geonusa Institute menekankan pentingnya langkah percepatan di beberapa sektor krusial:
- Mendorong pemerintah daerah untuk bertindak responsif dalam menyiapkan regulasi pendukung, kemudahan perizinan, serta kesiapan tata ruang.
- Mendukung penuh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) untuk mempercepat komitmen ekspansi jangka panjangnya menuju target kapasitas 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028 dan 1,8 GW pada tahun 2034, termasuk proyek PLTP Lahendong Unit 7 & 8 (2x20 MW), pemanfaatan teknologi binary unit, serta eksplorasi Kotamobagu (50–60 MW).
- Mendorong perguruan tinggi di Sulawesi Utara untuk mempercepat sinkronisasi kurikulum berbasis kecerdasan buatan (AI) dan energi terbarukan agar ribuan lapangan kerja hijau yang tercipta nantinya dapat diisi oleh pemuda-pemuda asli Sulawesi Utara.
Mengakhiri seruannya, Josua Sondakh mengingatkan bahwa status Sulut sebagai Pintu Gerbang Asia Pasifik yang ditopang jaringan kabel bawah laut (subsea cable) internasional akan mencapai titik optimalnya hanya jika didukung oleh pasokan daya hijau terintegrasi secara cepat.
"Saatnya kita bersinergi tanpa sekat. Pengawalan ketat dan percepatan terhadap rencana ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia Timur siap memimpin era digitalisasi hijau dunia tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan," pungkas Josua.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.