SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) diproyeksikan berpotensi menciptakan 5,5 juta lapangan kerja di Indonesia. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) mulai membahas pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan pengembangan kompetensi lulusan perguruan tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai pemetaan talenta diperlukan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan bidang pendidikan yang perlu diperkuat.
“Kita bisa memetakan dengan jelas secara supply, mengetahui pertama permasalahannya, apakah kita ini undersupply dan jika iya di bidang mana saja,” ujar Stella dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Kebutuhan Tenaga Kerja Capai 5,5 Juta Orang
Berdasarkan pemaparan AESI, potensi 5,5 juta lapangan kerja dari program PLTS 100 GW terdiri atas sekitar 3,5 juta pekerjaan di sektor industri dan 2 juta pekerjaan di bidang konstruksi.
Namun, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai. AESI memperkirakan jumlah tenaga kerja kompeten yang telah teridentifikasi saat ini baru sekitar 10.000 orang.
Kebutuhan industri energi surya mencakup berbagai bidang, mulai dari manufaktur panel surya dan baterai, perencanaan serta desain proyek, konstruksi, instalasi, hingga operasi dan pemeliharaan. Selain itu, dibutuhkan pula peneliti, insinyur riset dan pengembangan, manajer proyek, serta ahli pemodelan keuangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri energi surya tidak hanya membutuhkan investasi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kesiapan tenaga kerja dengan keahlian yang relevan.
Perguruan Tinggi Didorong Sesuaikan Kompetensi Lulusan
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, AESI menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi melalui pelatihan, program magang, dan penyesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Salah satu langkah yang dibahas adalah integrasi sertifikasi kompetensi ke dalam kurikulum perguruan tinggi. Stella menilai kejelasan standar kompetensi dan sertifikasi dapat membantu institusi pendidikan menyiapkan mahasiswa sesuai kebutuhan industri.
“Yang paling efisien adalah jika kita sudah tahu end point dari sertifikasinya,” ujarnya.
AESI juga tengah mengembangkan AESI Academy sebagai platform pembelajaran energi surya. Platform ini diharapkan dapat memperluas akses pelatihan, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, sekaligus memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri.
Pemetaan Riset Energi Surya Jadi Agenda Lanjutan
Selain pengembangan sumber daya manusia, Stella meminta AESI mengkaji peta jalan riset energi surya yang disusun pemerintah dalam Konvensi Sains, Teknologi, Industri dan Indonesia (KSTI) 2025.
Kajian tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi kebutuhan serta kesenjangan riset yang masih perlu ditindaklanjuti. Menurut Stella, perkembangan teknologi panel surya membutuhkan riset dan pengembangan berkelanjutan agar kapasitas keilmuan dan industri nasional dapat terus diperkuat.
Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek merencanakan pembahasan bersama AESI dan unit terkait di bidang pendidikan tinggi serta riset dan pengembangan. Agenda tersebut akan mencakup pemetaan keunggulan perguruan tinggi, kebutuhan kompetensi, serta peluang pengembangan pelatihan dan sertifikasi.
Pemetaan kebutuhan tenaga kerja dan riset diharapkan dapat menyelaraskan kesiapan pendidikan tinggi dengan perkembangan industri energi surya. Langkah ini menjadi salah satu aspek pendukung dalam pelaksanaan program PLTS 100 GW di Indonesia.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.