Sabtu, 31 Oktober 2026

ITB Perkenalkan Teknologi Pengolahan Air Laut Menjadi Air Bersih dan Garam Bernilai Ekonomi di Mentawai

Foto: Dok. itb.ac.id
Foto: Dok. itb.ac.id

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Mentawai – Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkenalkan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih sekaligus pemanfaatan garam hasil sampingnya sebagai produk bernilai ekonomi bagi masyarakat pesisir Desa Beriulou, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Inisiatif tersebut dilaksanakan melalui program pengabdian masyarakat PRISMA SEA (Prisma for Salt & Empowered Aqua) pada 28 Juni hingga 1 Juli 2026. Program ini bertujuan membantu masyarakat menghadapi keterbatasan akses air bersih sekaligus membuka peluang usaha melalui pengolahan garam konsumsi.

Program yang dijalankan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB melalui Program Pengabdian Masyarakat Tahun 2026 ini melibatkan Universitas Andalas (Unand) dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kegiatan diketuai oleh Dr. Lamona Irmudyawati Bernawis, S.Pi., M.Sc., dengan dukungan tim multidisiplin dari ITB dan Unand. Tim tersebut melibatkan peneliti, dosen, serta mahasiswa dari bidang oseanografi dan kimia.

Puncak kegiatan berlangsung pada 30 Juni 2026 dan diikuti 62 peserta yang terdiri atas masyarakat Desa Beriulou, perangkat desa, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Peserta mendapatkan pelatihan dan praktik pengolahan air laut, pemurnian garam, serta penyaringan air menggunakan teknologi tepat guna.

Gambar Artikel

Tiga Teknologi untuk Pengolahan Air dan Garam

Program PRISMA SEA memperkenalkan tiga inovasi yang dirancang agar dapat diterapkan sesuai kondisi dan ketersediaan sumber daya lokal.

Inovasi pertama berupa desalinator sederhana yang memanfaatkan energi matahari untuk mengubah air laut menjadi air tawar. Perangkat ini menggunakan rangka aluminium dan penutup polikarbonat untuk mendukung proses penyulingan melalui pemanasan energi surya.

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat mempelajari prinsip kerja desalinator sekaligus mempraktikkan perakitan alat menggunakan bahan yang disediakan tim pengabdian. Teknologi ini diperkenalkan sebagai alternatif penyediaan air bersih dengan memanfaatkan energi terbarukan.

Inovasi kedua berfokus pada pemanfaatan garam hasil samping proses desalinasi. Garam yang tertinggal setelah penyulingan air laut diolah melalui tahapan pencucian dan pemurnian untuk meningkatkan kualitas serta potensi nilai jualnya.

Peserta diperkenalkan pada teknik pencucian garam menggunakan air tua sebagai salah satu tahapan pemurnian. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan usaha pengolahan garam konsumsi oleh masyarakat setempat.

Sementara itu, inovasi ketiga berupa sistem filtrasi air sederhana menggunakan drum berkapasitas 120 liter. Media penyaringnya disusun berlapis, terdiri atas kerikil, pasir pantai, arang kayu, dan kerikil sebagai lapisan penutup.

Dipandu Dr. Andi Egon, S.T., M.Sc., peserta mempelajari fungsi setiap lapisan sekaligus mempraktikkan penyusunan sistem filtrasi. Penggunaan bahan lokal memungkinkan masyarakat memperoleh material dengan lebih mudah dan melakukan perawatan secara mandiri.

Gambar Artikel

Teknologi Tepat Guna untuk Kemandirian Masyarakat Pesisir

Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Lamona Irmudyawati Bernawis, mengatakan PRISMA SEA dirancang untuk menghadirkan solusi sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan penyediaan air bersih di wilayah pesisir dan kepulauan.

"Kami berharap teknologi yang diperkenalkan melalui program PRISMA SEA dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Beriulou. Selain membantu memenuhi kebutuhan air bersih, teknologi ini juga membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pemanfaatan garam hasil samping desalinasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," ujarnya.

Selain pelatihan dan transfer teknologi, tim pengabdian juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai serta melakukan evaluasi hasil kegiatan untuk mendukung keberlanjutan penerapan teknologi.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, ITB berharap teknologi PRISMA SEA dapat dikembangkan secara mandiri di Desa Beriulou. Program ini tidak hanya diarahkan untuk memperkuat akses air bersih, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya laut menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!