SINERGYNEWS.ID, Bandung — Juan Leonardo, lulusan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), Institut Teknologi Bandung (ITB), meraih salah satu IPK tertinggi pada jenjang sarjana dalam Wisuda Ketiga ITB Tahun Akademik 2025/2026 pada Agustus 2026.
Mahasiswa angkatan 2022 yang akrab disapa Leon tersebut memandang keberhasilan akademik bukan semata-mata tentang nilai, melainkan kemampuan memahami dan menerapkan ilmu untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Prinsip itu ia terapkan melalui berbagai pengalaman selama kuliah, mulai dari program double degree dengan universitas di Tiongkok, kompetisi, magang, hingga proyek bersama dosen. Berbagai kegiatan tersebut memperluas pemahamannya mengenai penerapan ilmu teknik sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan bekerja sama.
Menariknya, meraih IPK tertinggi bukanlah target utama Leon sejak awal memasuki bangku kuliah.
“Sebelumnya saya belum tahu mau ke mana. Saya minta masukan dari guru, dan dari situ saya melihat saya cukup kuat di fisika. Akhirnya saya mengajukan untuk masuk teknik. Kalau di Indonesia, salah satu yang terbaik adalah ITB, dan saya memang lebih suka fisika,” ujarnya.
Memanfaatkan Kesempatan untuk Mengembangkan Diri

Selama menjalani perkuliahan, Leon berusaha memanfaatkan kesempatan yang tersedia untuk memperluas pengalaman dan kemampuan. Baginya, seseorang tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar siap sebelum mencoba hal baru.
Sejak semester enam, ia mulai terlibat dalam proyek bersama tim dosen. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan persoalan nyata dan membantunya memahami bagaimana teori yang dipelajari di ruang kelas diterapkan dalam praktik.
Di luar kegiatan akademik, Leon juga menikmati kehidupan mahasiswa di Bandung dengan berjalan-jalan dan mengeksplorasi kuliner lokal. Baginya, masa perkuliahan merupakan kesempatan untuk mencoba hal baru, menghadapi kegagalan, serta mengenali potensi diri.
Rasa Ingin Tahu Menjadi Kunci Menghadapi Tantangan
Pendidikan Teknik Mesin ITB menghadirkan tantangan tersendiri bagi Leon. Ia mengakui hampir setiap mata kuliah memiliki tingkat kesulitan masing-masing.
Meski tidak menerapkan metode belajar yang sangat terstruktur, Leon berusaha memahami alasan di balik setiap jawaban ketika menghadapi materi yang sulit.
“Saya cukup keras kepala untuk tahu kenapa jawabannya begitu. Kalau belum tahu, saya akan selalu cari tahu sampai menemukan alasannya,” tuturnya.
Dalam perjalanan akademiknya, dukungan dosen dan teman-teman turut memberikan arti penting. Salah satu sosok yang berkesan baginya adalah dosen pembimbing, Ir. Satrio Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., yang memberikan arahan akademik sekaligus nasihat kehidupan.
Salah satu pesan yang terus diingat Leon adalah pentingnya berani mengambil langkah meskipun seluruh perhitungan belum sempurna.
Kebersamaan dengan teman-teman seangkatan juga menjadi bagian penting dari perjalanan kuliahnya. Mereka saling membantu, berbagi pengetahuan, dan menjalankan tanggung jawab bersama, termasuk ketika menghadapi kegiatan orientasi jurusan yang intensif.
Di balik pencapaiannya, Leon secara khusus mempersembahkan prestasi tersebut kepada nenek dan ibunya. Ia mengenang peran nenek yang mendampinginya sejak kecil serta ibunya yang merawat, membesarkan, memotivasi, dan membimbingnya tanpa memberikan banyak tuntutan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Olivia yang senantiasa memberikan dukungan, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit selama perkuliahan.
Lanjut Magister dan Bersiap Memasuki Dunia Kerja

Leon mensyukuri pencapaiannya sebagai salah satu lulusan sarjana dengan IPK tertinggi. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Tuhan dan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanannya.
Bagi Leon, prestasi tersebut merupakan amanah yang harus diikuti dengan tanggung jawab untuk terus mengembangkan kemampuan.
“Di Teknik Mesin ITB saya diajari, kalau ditanya bisa atau tidak, haram untuk bilang tidak bisa. Sebaik-baiknya saya akan berusaha mengemban amanah ini,” kata Leon.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Leon melanjutkan studi magister. Ia berencana memasuki dunia kerja setelah lulus untuk memperoleh pengalaman profesional, menerapkan pengetahuan teknik, dan menemukan arah karier yang sesuai dengan minatnya.
Kepada mahasiswa ITB, Leon berpesan agar mampu mengelola waktu antara perkuliahan, tugas, istirahat, dan kehidupan pribadi secara seimbang. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami materi secara mendalam, bukan sekadar mengejar nilai.
“Jangan pernah berhenti bertanya sampai tahu alasan yang jelas. Jangan hanya mengejar nilai, tetapi harus tahu why-nya,” katanya.
Pesan tersebut mencerminkan pandangannya terhadap pendidikan: pencapaian akademik perlu berjalan seiring dengan pemahaman, rasa ingin tahu, dan kemampuan menerapkan ilmu untuk menjawab persoalan nyata.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.