Jumat, 30 Oktober 2026

Produksi Tembaga dan Emas Freeport Indonesia Anjlok hingga Kuartal III 2026

Foto.Dok. Freeport Indonesia
Foto.Dok. Freeport Indonesia

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat penurunan produksi dan penjualan tembaga serta emas sepanjang Januari–September 2026. Penurunan ini terjadi di tengah proses pemulihan operasional tambang bawah tanah Grasberg setelah insiden aliran lumpur pada September 2025.

Berdasarkan laporan induk usaha PTFI, Freeport-McMoRan (FCX), produksi tembaga dari operasi Freeport di Indonesia mencapai 549 juta pon selama sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut turun 43,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 966 juta pon.

Produksi emas juga menyusut 42,4% menjadi 505.000 ons, dari sebelumnya 876.000 ons pada Januari–September 2025.

Dari sisi penjualan, penurunan tercatat lebih besar. Volume penjualan tembaga turun 64,5% menjadi 388 juta pon, dibandingkan 1,09 miliar pon pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penjualan emas merosot 65,9% menjadi 332.000 ons, dari 975.000 ons.

Harga Jual Tembaga dan Emas Meningkat

Di tengah penurunan volume produksi dan penjualan, harga jual rata-rata kedua komoditas justru meningkat.

FCX mencatat harga jual rata-rata tembaga PTFI pada Januari–September 2026 mencapai US$6,21 per pon, naik dari US$4,42 per pon pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Harga jual rata-rata emas juga meningkat menjadi US$4.583 per ons, dibandingkan US$3.357 per ons pada Januari–September 2025.

Kenaikan harga jual tersebut berlangsung ketika volume penjualan PTFI masih tertekan akibat pemulihan operasional tambang dan fasilitas pengolahan serta pemurnian.

Operasional Grasberg Berangsur Pulih

Dalam laporannya, FCX menyebut PTFI terus meningkatkan produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden aliran lumpur eksternal pada September 2025.

Pada kuartal III 2026, volume pengolahan bijih rata-rata mencapai 141.000 metrik ton per hari, setara sekitar 67% dari kapasitas. Angka tersebut mencakup pengolahan sekitar 70.000 metrik ton bijih per hari dari tambang Grasberg Block Cave.

PTFI menargetkan operasional mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.

Perusahaan juga telah memulai kembali produksi di Blok Produksi 2 dan 3 pada akhir Maret 2026. Selanjutnya, peningkatan sistem penanganan bijih ditargetkan selesai pada awal 2027, sebelum pengoperasian kembali Blok Produksi 1S yang direncanakan pada pertengahan tahun yang sama.

Pemulihan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian

Pemulihan tambang turut berkaitan dengan operasional fasilitas pengolahan dan pemurnian. PT Smelting kembali beroperasi pada akhir 2025, sedangkan fasilitas peleburan milik PTFI mulai beroperasi kembali pada akhir Agustus 2026.

FCX memperkirakan selisih antara volume produksi dan penjualan PTFI masih relatif tinggi hingga fasilitas pengolahan dan pemurnian di hilir kembali beroperasi pada tingkat normal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan produksi tambang belum sepenuhnya diikuti oleh normalisasi penjualan. Perkembangan operasional tambang Grasberg dan fasilitas pengolahan menjadi faktor penting yang akan memengaruhi kinerja produksi serta penjualan PTFI pada periode berikutnya.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!