Jumat, 30 Oktober 2026

MIND ID Perkuat Hilirisasi Nikel, Danantara Bidik Mitra Investasi Strategis

Foto.Dok. Istimewa
Foto.Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Danantara Indonesia mendorong pengembangan industri hilir nikel melalui kemitraan dengan investor strategis dari berbagai negara. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat rantai nilai industri sekaligus membangun ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi di Indonesia.

Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan Danantara Investment Management (DIM) dapat berperan dalam mencari mitra yang memiliki keahlian untuk mengembangkan fasilitas produksi dan berinvestasi bersama di Indonesia.

Pahala mencontohkan pengembangan hilirisasi yang dilakukan Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Ketiga entitas tersebut terlibat dalam pengembangan industri hilir dengan menggandeng calon investor maupun mitra investasi dari berbagai negara.

“Contoh lain adalah yang dilakukan oleh teman-teman di tempatnya MIND ID. Karena, kan, ini ada Inalum, ada Antam, ada IBC. Mereka dalam hal ini melakukan upaya hilirisasi bermitra dengan calon investor lain atau investor lain yang berasal dari negara lain juga,” ujar Pahala dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Rantai Produksi Baterai dari Hulu hingga Hilir

Menurut Pahala, pengembangan hilirisasi nikel mencakup sejumlah tahapan produksi yang saling terhubung. Prosesnya dimulai dari pengolahan nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat, kemudian dilanjutkan ke produksi katoda, sel baterai, hingga paket baterai.

Pengembangan rantai produksi tersebut membutuhkan investasi di berbagai tahapan agar ekosistem industri baterai dapat terbentuk secara terintegrasi.

Dalam Grup MIND ID, Antam berperan di sektor pertambangan nikel, sedangkan IBC terlibat dalam pengembangan ekosistem baterai. Kemitraan dengan investor strategis menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengembangan industri hingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Namun, pengembangan industri hilir membutuhkan dukungan modal besar serta kepastian pasokan bahan baku. Keterkaitan antara sektor hulu dan hilir menjadi faktor penting agar investasi dapat berjalan sesuai dengan perencanaan.

Investasi Hilirisasi Membutuhkan Modal Besar

Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, menilai investasi di sektor hilirisasi membutuhkan modal berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan investasi di sektor hulu.

Karena itu, menurut Seto, keterhubungan kedua sektor perlu diperkuat untuk memberikan kepastian kepada investor, terutama terkait ketersediaan bahan baku bagi fasilitas pengolahan dan industri lanjutan.

“Jadi, pertama bagaimana keterkaitan hulu dan hilir ini sebenarnya sesuatu yang sangat fundamental ya. Jadi, hulu itu merupakan basis jaminan atau kenyamanan untuk orang melakukan hilirisasi. Kita tahu bahwa investasi di hilirisasi itu berkali-kali lipat besarnya dibandingkan investasi di sektor hulu ya,” ujar Seto.

Kepastian pasokan bahan baku dan kesinambungan rantai produksi menjadi bagian penting dalam pengembangan industri baterai. Tanpa dukungan sektor hulu yang memadai, investasi di fasilitas pengolahan dan manufaktur hilir menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan operasional.

Proyek Ekosistem Baterai Bernilai US$5,9 Miliar

Salah satu pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia melibatkan Antam, IBC, serta perusahaan asal China, Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL).

CBL merupakan perusahaan patungan yang melibatkan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), Brunp, dan Lygend.

Total investasi proyek ekosistem baterai terintegrasi tersebut mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp96,04 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp16.278 per dolar AS.

Proyek ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai industri baterai kendaraan listrik dari sektor hulu hingga hilir di Indonesia. Melalui kolaborasi antara perusahaan nasional dan investor strategis, pengembangan industri diharapkan dapat memperkuat nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.

Dorongan hilirisasi nikel tersebut menempatkan kemitraan investasi, kepastian bahan baku, dan keterhubungan rantai produksi sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!