Rabu, 28 Oktober 2026

Pemerintah Targetkan PLTS 100 GWp, Empat Sektor Ini Berpotensi Jadi Pasar Listrik

Foto: Dok. PT PLN
Foto: Dok. PT PLN

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Target pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) membutuhkan pertumbuhan permintaan listrik yang mampu menyerap tambahan pasokan tersebut. Studi Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia mengidentifikasi empat sektor potensial, yakni kendaraan listrik, kompor induksi rumah tangga, industri pengolahan mineral, dan pusat data.

Keempat sektor tersebut diperkirakan memiliki celah kebutuhan listrik sebesar 65–207 gigawatt (GW) hingga 2070. Peningkatan kebutuhan energi dari sektor-sektor itu berpotensi menjadi pasar bagi tambahan pasokan listrik dari energi terbarukan, termasuk tenaga surya.

Elektrifikasi kendaraan dan rumah tangga juga berpeluang mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) impor. Sementara itu, perkembangan industri smelter, terutama pengolahan nikel, serta pertumbuhan pusat data dapat menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala besar.

Potensi Surya Indonesia Capai 3.294 GW

Indonesia memiliki potensi energi surya mencapai 3.294 GW. Namun, kapasitas PLTS yang telah terpasang baru sekitar 1,5 GW, sehingga masih terdapat kesenjangan besar antara potensi yang tersedia dan pemanfaatannya.

Program PLTS 100 GWp dirancang melalui pengembangan sekitar 20 GWp PLTS skala utilitas dan 80 GWp PLTS terdistribusi, termasuk untuk mendukung elektrifikasi wilayah perdesaan.

Pengembangan PLTS terdistribusi diharapkan dapat memperluas akses listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar diesel di wilayah terpencil.

Namun, besarnya potensi energi surya tidak otomatis menjamin seluruh kapasitas yang dibangun dapat terserap. Pertumbuhan permintaan listrik dan kesiapan infrastruktur menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program tersebut.

Baterai dan Transmisi Jadi Infrastruktur Kunci

Produksi listrik tenaga surya bergantung pada ketersediaan sinar matahari. Karena itu, penambahan kapasitas PLTS perlu diikuti pengembangan sistem penyimpanan energi menggunakan baterai atau battery energy storage system (BESS).

BESS berfungsi menyimpan listrik yang dihasilkan saat produksi melimpah untuk digunakan ketika pembangkitan tenaga surya menurun. Teknologi ini dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik.

Selain penyimpanan energi, jaringan transmisi juga perlu diperluas agar listrik dari pembangkit energi terbarukan dapat disalurkan ke pusat-pusat konsumsi, khususnya kawasan industri yang membutuhkan pasokan besar dan andal.

Kepastian mekanisme tarif dan skema pendapatan BESS turut diperlukan agar investasi penyimpanan energi memiliki daya tarik secara komersial.

Elektrifikasi Berpotensi Kurangi Impor Energi

Program PLTS 100 GWp juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Konsumsi BBM dan LPG yang meningkat di tengah kecenderungan penurunan produksi minyak domestik dapat membuat Indonesia lebih rentan terhadap perubahan harga energi global.

Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap anggaran subsidi dan kompensasi energi.

Elektrifikasi kendaraan dan penggunaan kompor induksi dapat mengalihkan sebagian kebutuhan energi dari BBM dan LPG ke listrik. Apabila kebutuhan listrik tersebut dipenuhi dengan tambahan pasokan energi terbarukan, langkah ini berpotensi mendukung pengurangan konsumsi energi fosil.

Di sisi lain, peningkatan kebutuhan listrik dari smelter dan pusat data perlu diimbangi pasokan yang memadai agar pertumbuhan industri tetap didukung oleh sistem kelistrikan yang andal.

Keberhasilan Tidak Cukup Diukur dari Kapasitas

Tenggara Strategics menilai program PLTS 100 GWp dapat menjadi momentum untuk mengatasi hambatan struktural pengembangan energi terbarukan. Elektrifikasi dapat menciptakan permintaan listrik baru, sedangkan pengembangan PLTS menyediakan alternatif pasokan energi yang lebih bersih.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah kapasitas pembangkit yang dibangun. Pemerintah juga perlu memastikan permintaan listrik berkembang, jaringan transmisi siap menyalurkan pasokan, dan sistem penyimpanan energi mendukung keandalan listrik.

Sinkronisasi antara pembangunan pembangkit, pertumbuhan kebutuhan listrik, dan kesiapan infrastruktur akan menjadi faktor penting agar kapasitas PLTS yang direncanakan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!