Sabtu, 31 Oktober 2026

Laba PGE Tumbuh 21,45%, Produksi Listrik Panas Bumi Tembus Rekor 4.114 GWh

PT Pertamina Geothermal Energy
PT Pertamina Geothermal Energy

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional sepanjang Januari hingga September 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$126,62 juta atau meningkat 21,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$104,26 juta.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan produksi listrik panas bumi dan upaya efisiensi operasional yang dilakukan perusahaan.

Dalam laporan kinerja yang disampaikan pada Kamis (29/10/2026), PGE mencatat pendapatan sebesar US$352,20 juta, naik 10,46% dibandingkan US$318,86 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Sementara itu, laba usaha meningkat 17,44% menjadi US$186,26 juta.

Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan mencerminkan penguatan profitabilitas perusahaan. Capaian tersebut didukung peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, serta disiplin dalam pengelolaan biaya.

Penguatan profitabilitas juga terlihat dari margin laba bersih yang meningkat menjadi 35,95%, dibandingkan 32,70% pada periode sebelumnya.

Dari sisi neraca, total liabilitas PGE tercatat sebesar US$955,55 juta, turun dari US$988,89 juta pada akhir 2025. Adapun kas dan setara kas perusahaan mencapai US$713,68 juta.

Produksi Listrik Panas Bumi Lampaui Target

Dari sisi operasional, produksi listrik panas bumi dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh) sepanjang Januari–September 2026. Angka tersebut meningkat 9,79% secara tahunan dan menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan.

Realisasi produksi itu juga mencapai 108,22% dari target yang ditetapkan sebesar 3.801 GWh.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menjelaskan bahwa pencapaian tersebut didukung optimalisasi pengelolaan reservoir, pemeliharaan pembangkit, serta peningkatan keandalan operasional.

Kinerja pembangkit tercermin dari Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,51%, melampaui target 92,20%. Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat sebesar 0,21%, menunjukkan tingkat gangguan paksa pembangkit yang terkendali.

Kedua indikator tersebut menjadi bagian dari pengukuran keandalan pembangkit dalam menjaga ketersediaan pasokan listrik.

PGE Bidik Kapasitas Terpasang 1,8 GW pada 2034

Di tengah penguatan kinerja operasional, PGE juga melanjutkan pengembangan sejumlah proyek panas bumi strategis untuk meningkatkan kapasitas terpasang.

Beberapa proyek yang tengah dikembangkan meliputi Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa pengembangan panas bumi merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus memperluas pemanfaatan energi bersih bagi masyarakat.

PGE menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028. Target tersebut kemudian ditingkatkan menjadi 1,8 GW pada 2034.

Peningkatan kapasitas tersebut diarahkan untuk memperkuat kontribusi energi panas bumi dalam bauran energi nasional dan mendukung agenda transisi energi Indonesia.

Dengan pertumbuhan laba, rekor produksi listrik, serta pengembangan proyek baru, PGE berupaya menjaga kinerja bisnis sekaligus memperluas pemanfaatan panas bumi sebagai salah satu sumber energi domestik.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!