SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Serapan bijih nikel dari perusahaan smelter di Indonesia menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan aktivitas penambang setelah muncul rencana pemangkasan produksi oleh sejumlah perusahaan smelter asal China yang beroperasi di Indonesia.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat rata-rata produksi bijih nikel hingga Agustus 2026 berada di kisaran 22–25 juta metrik ton (mt) per bulan. Namun, dalam dua bulan terakhir, angka tersebut mulai turun menjadi sekitar 20 juta mt per bulan.
Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey mengatakan penurunan produksi tersebut mencerminkan melemahnya serapan bijih oleh smelter. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kamis (29/10/2026).
“Pasti, udah pasti [serapan bijih semakin turun]. Untuk bulan-dua bulan ini masih agak kelihatan ada penurunan, karena rata-rata tahun ini kan 22–25 juta [mt] per bulan. Dua bulan terakhir ini mungkin ada pengurangan, mungkin 20 jutaan [mt],” ujar Meidy.
Permintaan Produk Olahan Melemah
Meidy menduga penurunan serapan bijih berkaitan dengan melemahnya permintaan produk olahan nikel. Kondisi pasar yang mengalami kelebihan pasokan atau oversupply membuat sejumlah smelter perlu menyesuaikan tingkat produksinya.
Menurutnya, persediaan nikel yang tinggi di sejumlah pusat perdagangan logam dunia, termasuk China, London Metal Exchange (LME), dan Shanghai Futures Exchange (SHFE), turut memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengatur produksi.
“Kenapa pangkas produksi? Kan sudah saya sampaikan, demand itu lagi berkurang, di mana lagi overstock. Di China lagi overstock, Shanghai Future Exchange lagi overstock, LME lagi overstock,” tutur Meidy.
Ia menambahkan, pelemahan permintaan di pasar akhir membuat smelter harus menyesuaikan produksi agar tidak menambah tekanan terhadap kelebihan pasokan global.
Kuota RKAB 2027 Berpotensi Lebih Rendah
Tekanan pasar tersebut juga menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun kuota produksi bijih nikel untuk Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan pemerintah akan memperhitungkan kelebihan stok nikel di LME dan SHFE yang diperkirakan mencapai sekitar 750.000 mt.
Tri memberikan sinyal bahwa kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 berpotensi lebih rendah dibandingkan kuota RKAB 2026 hasil revisi yang berada di kisaran 290–300 juta mt.
“Kemarin untuk nikel itu kan ada pembahasan yang terkait dengan stok yang ada di LME sama SHFE. Nah itu kan over sekitar 750.000 ton. Nah itu juga mesti kita exercise supaya nanti jangan sampai produksi kita menambah lagi over-nya,” kata Tri.
Pada 2026, kuota produksi bijih nikel dalam RKAB hasil revisi tercatat sekitar 290–300 juta mt, meningkat dari kuota awal yang berada di kisaran 260–270 juta mt.
Proyeksi Pasar Nikel Global
Di tengah kondisi tersebut, BMI, lembaga riset dari Fitch Solutions Company, mempertahankan proyeksi harga rata-rata nikel sepanjang 2026 sebesar US$17.000 per metrik ton.
BMI memperkirakan surplus pasar nikel global akan menyusut menjadi 75.500 mt pada 2026, dibandingkan 284.000 mt pada 2025. Meski keseimbangan pasokan dan permintaan mulai membaik, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk membawa pasar nikel ke posisi defisit.
Produksi nikel olahan global diproyeksikan turun 1% secara tahunan menjadi 3,84 juta mt pada 2026. Penurunan tersebut dikaitkan dengan ketidakpastian kebijakan di Indonesia dan semakin ketatnya ketersediaan bijih.
Sementara itu, konsumsi nikel global diperkirakan tumbuh 4,7% menjadi 3,77 juta mt pada tahun yang sama. Permintaan terutama ditopang oleh industri baja nirkarat yang masih menjadi pengguna utama nikel.
Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di LME dan SHFE mencapai 349.000 mt per 30 September 2026, meningkat 24,6% sejak awal tahun.
BMI menyatakan proyeksi harga tersebut turut mempertimbangkan kebijakan Indonesia yang dinilai lebih akomodatif terhadap sektor nikel domestik sehingga meredakan kendala pasokan bahan baku.
Empat Smelter China Dikabarkan Siapkan Pemangkasan
Tekanan terhadap industri nikel Indonesia juga berpotensi meningkat jika rencana pemangkasan produksi oleh empat perusahaan smelter asal China terealisasi.
Mengutip Shanghai Metals Market (SMM), rencana pengurangan produksi tersebut mencakup produk mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte sebesar 50%, serta nickel pig iron (NPI) sebesar 20% dari kapasitas produksi.
Jika diterapkan sesuai besaran tersebut, pasokan MHP diperkirakan berkurang hingga 18.000 mt nikel per bulan, nickel matte sekitar 7.900 mt nikel per bulan, dan NPI lebih dari 20.000 mt nikel per bulan.
Namun, SMM menyebut besaran pasti pemangkasan tersebut masih belum dikonfirmasi kepada perusahaan smelter maupun otoritas terkait.
Empat perusahaan yang disebut dalam laporan tersebut adalah Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Perusahaan-perusahaan itu dikabarkan tengah merencanakan skala pengurangan produksi yang diperlukan.
Apabila rencana tersebut terealisasi, penurunan produksi smelter berpotensi menambah tekanan terhadap serapan bijih nikel dari penambang domestik, terutama ketika pasar global masih menghadapi kelebihan pasokan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.