Sabtu, 31 Oktober 2026

Bahlil Buka Peluang Pangkas Ekspor LNG ke Singapura, Pasokan Domestik Jadi Prioritas

Foto: Dok. Istimewa
Foto: Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Pemerintah membuka peluang untuk menyesuaikan volume ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Singapura pada 2027. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan keputusan tersebut akan mempertimbangkan perkembangan kebutuhan gas dalam negeri.

Bahlil menegaskan, pemenuhan kebutuhan domestik menjadi prioritas sebelum pemerintah mengalokasikan gas untuk ekspor. Jika pasokan dalam negeri telah mencukupi, ekspor ke negara lain tetap dapat dilakukan.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil setelah mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (29/10/2026). Rapat tersebut berlangsung sehari setelah Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan bertemu dengan Prabowo di Hambalang.

“Nanti kita lihat perkembanganlah, ya. Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita, tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan.

Indonesia Pangkas Sebagian Ekspor Gas Pipa

Dalam keterangannya, Bahlil menjelaskan bahwa ekspor gas bumi melalui pipa ke Singapura saat ini mencapai sekitar 409,5 miliar British thermal unit per hari (BBtud), yang bersumber dari wilayah Natuna dan Sumatra.

Dari total tersebut, Indonesia telah mengurangi sebagian volume ekspor sebesar 31 BBtud. Menurut Bahlil, pengurangan itu masih berada dalam batas minimum yang diatur dalam kontrak sehingga tidak melanggar ketentuan perjanjian yang berlaku.

“Sekarang ini kan yang kita lakukan pemotongan sebagian itu kan adalah 31 [BBtud] dari total 409 [BBtud] dari kontrak yang ada. Dengan yang ada itu, kita belum melanggar kontrak karena ada batas minimum,” ujarnya.

Selain gas pipa, Indonesia juga mengirimkan LNG ke Singapura sebanyak 148 kargo. Bahlil menyebut volume tersebut setara dengan sekitar 1.480 BBtud.

Ia menduga tidak seluruh LNG yang dikirimkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik Singapura. Sebagian pasokan, menurutnya, kemungkinan dimanfaatkan untuk kegiatan perdagangan atau dijual kembali ke negara lain.

Singapura Tekankan Komitmen Kontrak Gas

Isu pasokan gas Indonesia menjadi salah satu pembahasan dalam hubungan energi kedua negara setelah pemerintah Indonesia mengurangi sebagian ekspor gas pipa ke Singapura.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan sebelumnya menyampaikan bahwa Indonesia dan Singapura memiliki komitmen bersama untuk menghormati kontrak gas jangka panjang.

Pernyataan tersebut disampaikan Balakrishnan setelah bertemu Presiden Prabowo di Hambalang pada Rabu (28/10/2026). Ia menilai penghormatan terhadap kontrak penting untuk menjaga kredibilitas serta daya saing perekonomian kedua negara.

Balakrishnan juga menyatakan Singapura memiliki kemampuan untuk menghadapi gangguan pasokan melalui diversifikasi sumber energi dan pengembangan infrastruktur terminal LNG.

Selain itu, Singapura tengah menjajaki sejumlah langkah untuk mengamankan pasokan kebutuhan esensial, termasuk rencana penyimpanan minyak strategis bersama Arab Saudi serta kunjungan para menteri ke sejumlah negara.

Menurut Balakrishnan, langkah-langkah tersebut ditujukan untuk memastikan pasokan kebutuhan penting tetap tersedia dalam berbagai situasi.

Kebutuhan Gas Domestik Jadi Pertimbangan

Prioritas pemenuhan gas dalam negeri berkaitan dengan kebutuhan sejumlah sektor strategis, terutama industri manufaktur dan pembangkitan listrik.

Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), distribusi gas bumi domestik sepanjang 2025 rata-rata mencapai 5.597 BBtud.

Sektor industri menjadi salah satu pengguna utama. Sebanyak 225 perusahaan penerima fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) memperoleh alokasi sebesar 693,31 BBtud sepanjang tahun tersebut.

Sementara itu, konsumsi gas untuk industri non-HGBT atau kategori komersial reguler berada pada kisaran 1.073,69 hingga 1.200 BBtud. Pasokan untuk sektor ini disalurkan melalui jaringan pipa PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) maupun penyalur swasta dengan harga komersial.

Di sektor ketenagalistrikan, kebutuhan gas untuk pembangkit yang dikelola PT PLN (Persero) dan penyedia listrik swasta tercatat sebesar 724 BBtud melalui pasokan pipa.

Jika memperhitungkan alokasi LNG domestik yang lebih dari 90% dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, total kebutuhan gas sektor ketenagalistrikan mencapai sekitar 1.456 BBtud.

Besarnya kebutuhan dari sektor industri dan kelistrikan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan alokasi gas bumi. Kebijakan ekspor LNG ke Singapura pada 2027 pun masih akan melihat perkembangan kebutuhan domestik serta ketersediaan pasokan nasional.

Dengan demikian, pemerintah menghadapi kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara pemenuhan energi dalam negeri, keberlanjutan kontrak ekspor, dan kepentingan perdagangan gas dengan negara mitra.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!