SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Di tengah dominasi tenaga kerja usia senior, keterlibatan generasi muda dibutuhkan untuk menghadirkan sumber daya manusia pertanian yang terampil, inovatif, dan mampu mengelola usaha tani secara modern.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Upaya tersebut dilakukan melalui dukungan sarana produksi, pembiayaan, pendidikan vokasi, hingga pelatihan penerapan teknologi pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak anak muda memanfaatkan berbagai dukungan pemerintah, terutama bagi mereka yang memiliki akses terhadap lahan pertanian melalui keluarga.
Menurut Amran, pemerintah telah menyiapkan bantuan bibit, pupuk, serta dukungan anggaran untuk membantu generasi muda mengembangkan usaha pertanian.
Selain tanaman pangan, pemerintah juga mendorong pengembangan komoditas perkebunan seperti kakao, kelapa, kopi, lada, dan pala yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan oleh generasi muda.
Pendidikan Vokasi Disiapkan untuk Cetak Agripreneur Muda
Selain dukungan sarana produksi, pendidikan menjadi salah satu fondasi dalam mempercepat regenerasi petani. Kementan berupaya mendorong perubahan cara pandang terhadap pertanian, dari sekadar kegiatan budidaya menjadi sektor usaha yang dapat dikelola secara profesional.
Melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementan meluncurkan dan menyosialisasikan penerimaan mahasiswa baru Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) untuk Tahun Akademik 2026/2027.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa pendidikan vokasi pertanian diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang siap terjun langsung ke lapangan. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga mampu mengembangkan usaha pertanian melalui penerapan inovasi dan teknologi.
Polbangtan dan PEPI dirancang untuk menyiapkan pelaku utama pertanian, agripreneur muda, serta agen perubahan yang dapat membawa inovasi ke dalam praktik pertanian.
Untuk memperluas akses pendidikan bagi keluarga petani, kebijakan penerimaan mahasiswa baru memberikan prioritas hingga 70 persen bagi anak petani.
Selain jalur undangan bagi siswa SMK pertanian binaan dan anak petani, penerimaan mahasiswa juga dibuka melalui jalur prestasi, kerja sama dan tugas belajar, serta jalur umum.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat keterlibatan keluarga petani dalam menyiapkan generasi penerus yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola usaha tani secara modern.
Teknologi Pertanian Perkuat Kapasitas Petani Muda
Pendidikan formal perlu dilengkapi dengan pelatihan dan pendampingan agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung. Perkembangan teknologi membuka peluang bagi petani muda untuk meningkatkan efisiensi produksi, memperbaiki manajemen usaha tani, dan memperluas akses pemasaran.
Salah satu upaya peningkatan kapasitas dilakukan Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Selatan (BRMP Sulsel) melalui bimbingan teknis bagi petani milenial di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, pada 26 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri atas petani milenial, kelompok Brigade Pangan, dan penyuluh pertanian. Materi pelatihan mencakup manajemen agribisnis, transparansi dan akuntabilitas usaha tani, serta teknologi budidaya padi menggunakan metode PM-AAS.
Peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan drone untuk mendukung kegiatan budidaya, mulai dari pemetaan lahan hingga pemupukan presisi. Teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional dan ketepatan pengelolaan lahan.
Dalam kegiatan itu, Brigade Pangan juga didorong menjadi pengelola lapangan yang membantu mengonsolidasikan lahan petani tradisional agar dapat dikelola secara lebih produktif dan modern.
Sejalan dengan upaya tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan mendorong petani milenial memanfaatkan berbagai teknologi, termasuk mekanisasi pertanian, irigasi hemat air, dan pemasaran digital.
Pemanfaatan teknologi diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membantu petani mengambil keputusan berdasarkan informasi dan data yang lebih akurat.
Akses Modal dan Pendampingan Tetap Dibutuhkan
Meski pendidikan dan penguasaan teknologi menjadi faktor penting, regenerasi petani tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan keterampilan. Generasi muda juga membutuhkan akses terhadap permodalan, sarana produksi, pendampingan, dan kepastian dukungan agar dapat membangun usaha tani secara berkelanjutan.
Ketersediaan dukungan tersebut menjadi penting agar anak muda tidak hanya tertarik memasuki sektor pertanian, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya.
Regenerasi petani pada akhirnya bukan sekadar menggantikan tenaga kerja yang lebih senior. Proses ini juga menyangkut pembaruan keterampilan, penguatan manajemen usaha, dan penerapan teknologi untuk menjawab tantangan produksi pangan.
Melalui pendidikan vokasi, pelatihan teknis, dukungan sarana produksi, serta modernisasi pertanian, generasi muda diharapkan dapat berkembang sebagai petani profesional dan wirausaha pertanian.
Penguatan regenerasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional di masa depan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.