SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga kuartal III-2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar US$126,62 juta atau sekitar Rp2,3 triliun, meningkat 21,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$104,26 juta.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan dan produksi listrik panas bumi. Pendapatan PGEO tercatat mencapai US$352,20 juta, naik 10,46% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari US$318,86 juta pada kuartal III-2025.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan capaian keuangan tersebut sejalan dengan peningkatan produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan langsung oleh perusahaan (own operation).
Sepanjang Januari hingga September 2026, produksi listrik panas bumi PGEO mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh). Angka tersebut meningkat 9,79% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi perusahaan.
“Produksi ini meningkat 9,79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus mencetak rekor produksi tertinggi (all time high) dan mencapai 108,22% dari target 3.801 GWh,” kata Fransetya dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2026).
Laba Usaha dan Margin Menguat
Penguatan kinerja operasional turut tercermin pada peningkatan laba usaha. PGEO membukukan laba usaha sebesar US$186,26 juta hingga kuartal III-2026, tumbuh 17,44% dibandingkan capaian US$158,60 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain pertumbuhan laba usaha, margin laba bersih perseroan juga mengalami peningkatan. Rasio tersebut naik dari 32,70% menjadi 35,95%, menunjukkan peningkatan proporsi laba bersih terhadap pendapatan perusahaan.
Dari sisi neraca keuangan, total liabilitas PGEO tercatat sebesar US$955,55 juta. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan total liabilitas pada akhir 2025 yang mencapai US$988,89 juta.
Sementara itu, kas dan setara kas perseroan berada di level US$713,68 juta. Ketersediaan dana tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional serta mendukung rencana pengembangan bisnis berikutnya.
Keandalan Operasional Pembangkit
Di sisi operasional pembangkit, PGEO mencatatkan Equivalent Availability Factor (EAF) sebesar 98,51%. Realisasi tersebut melampaui target perusahaan yang ditetapkan sebesar 92,20%.
Adapun Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat sebesar 0,21%. Indikator ini menggambarkan tingkat gangguan paksa ekuivalen pembangkit selama periode pelaporan, dengan capaian yang relatif rendah.
Kombinasi peningkatan produksi listrik, pertumbuhan pendapatan, serta indikator keandalan pembangkit menjadi faktor yang mendukung penguatan kinerja PGEO hingga kuartal III-2026. Capaian tersebut juga menjadi bagian dari kapasitas perusahaan dalam menjaga kinerja operasional sekaligus mempersiapkan pengembangan bisnis panas bumi ke depan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.