SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan kebutuhan liquefied natural gas (LNG) untuk memasok pembangkit listrik mencapai 120 kargo pada 2027. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan perkiraan pengadaan LNG sepanjang 2026 yang mencapai 108 kargo.
Pelaksana Harian (Plh.) Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, peningkatan kebutuhan LNG sejalan dengan semakin besarnya peran gas dalam memenuhi kebutuhan energi primer pembangkit listrik di lingkungan PT PLN (Persero). Kondisi ini juga dipengaruhi penurunan pasokan gas melalui pipa dari sejumlah lapangan yang mulai mengalami penurunan produksi.
"Tahun ini 108 kargo. Tahun depan 120 kargo, insyaallah," ujar Rakhmad dalam acara Minerba Convex 2026, Selasa (3/11/2026).
Menurut Rakhmad, PLN EPI bertanggung jawab mengonsolidasikan pengadaan energi primer untuk pembangkit listrik PLN Group, termasuk subholding pembangkitan dan sejumlah perusahaan pembangkit listrik swasta atau independent power producer (IPP).
Kebutuhan gas yang dikelola perusahaan juga terus meningkat. Pada 2026, volume pengelolaan gas diperkirakan mendekati 1.374 juta kaki kubik, meningkat dibandingkan sekitar 1.200 juta kaki kubik pada periode sebelumnya.
Rakhmad menyebutkan, volume tersebut setara dengan sekitar 40% dari total kebutuhan gas domestik nasional. Hal ini menjadikan PLN EPI sebagai salah satu konsumen gas terbesar di Indonesia.
Peningkatan kebutuhan LNG menjadi bagian dari strategi menjaga kesinambungan pasokan energi pembangkit, terutama ketika produksi gas dari lapangan-lapangan tua yang selama ini memasok melalui jaringan pipa mengalami penurunan.
Pada 2023, kebutuhan LNG PLN EPI tercatat sekitar 68 kargo. Angka tersebut terus meningkat hingga diperkirakan mencapai 108 kargo pada 2026.
"Di dalam angka yang tadi saya sebutkan itu ada kargo, jumlah kargo. Karena produksi gas pipa dari lapangan yang cukup tua, jadi dia menurun. Ini kita gantikan dengan gas alam cair atau LNG," kata Rakhmad.
Konsolidasi Pasokan Batu Bara dan BBM
Selain gas, PLN EPI juga mengelola pengadaan batu bara dan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Perusahaan yang dibentuk pada September 2022 sebagai bagian dari transformasi holding dan subholding PLN tersebut memiliki peran dalam mengonsolidasikan kebutuhan energi primer di lingkungan PLN Group.
Untuk batu bara, volume yang dikelola PLN EPI meningkat dari sekitar 67 juta ton pada 2023 menjadi 97 juta ton pada 2026.
Namun, kebutuhan batu bara PLN Group secara keseluruhan masih lebih besar dibandingkan volume yang dikelola perusahaan. Rakhmad menyebutkan terdapat tambahan kebutuhan sekitar 60 juta ton, sehingga total kebutuhan batu bara pembangkit PLN diperkirakan mencapai sekitar 150 juta ton.
"Sebenarnya yang dibutuhkan oleh PLN itu ada tambahan 60 juta ton di atas ini. Jadi sekitar 150 juta ton," tuturnya.
Sementara itu, konsumsi BBM untuk pembangkit listrik berada di kisaran 4,6 juta kiloliter. Penggunaan bahan bakar tersebut terutama masih diperlukan untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.
Menurut Rakhmad, pembangkit diesel masih dibutuhkan karena pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas besar tidak selalu ekonomis untuk melayani kebutuhan listrik di wilayah dengan konsumsi relatif kecil dan tersebar.
Meski demikian, kontribusi BBM terhadap total produksi listrik nasional relatif terbatas, yakni sekitar 4%.
"Ini sebenarnya hanya 4% dari produksi listrik," ujarnya.
PLN EPI Perluas Pemanfaatan Biomassa
Di tengah kebutuhan energi primer yang terus meningkat, PLN EPI juga mendorong pemanfaatan biomassa sebagai bahan campuran batu bara atau co-firing di PLTU.
Sepanjang 2026, pemanfaatan biomassa diperkirakan mencapai 2,4 juta ton. Bahan baku tersebut berasal dari berbagai jenis limbah dan residu biomassa, seperti serbuk gergaji, sekam, jerami, hingga batang kelapa sawit.
Pemanfaatan biomassa ditujukan untuk mengurangi konsumsi batu bara sekaligus menekan emisi karbon dari operasional pembangkit listrik. Rakhmad menyebutkan, penggunaan 2,4 juta ton biomassa diklaim dapat mengurangi emisi karbon hingga sekitar 2,4 juta ton CO2.
Ke depan, PLN EPI menargetkan peningkatan pemanfaatan biomassa hingga 10 juta ton yang akan diterapkan di 51 lokasi PLTU di Indonesia.
"Ke depan targetnya ini kalau yang biomassa sampai 10 juta di 51 titik PLTU di Indonesia," kata Rakhmad.
Peningkatan kebutuhan LNG dan pengembangan biomassa tersebut menunjukkan tantangan pengelolaan energi primer PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus mendorong transisi energi.
Di satu sisi, LNG semakin dibutuhkan untuk mengantisipasi penurunan pasokan gas pipa dari lapangan yang menua. Di sisi lain, pemanfaatan biomassa terus dikembangkan sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan menekan emisi dari sektor ketenagalistrikan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.