SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), dengan minyak Brent turun 0,6 persen ke level USD97,75 per barel. Pelemahan tersebut memperpanjang tren penurunan harga minyak global yang sepanjang pekan tercatat hampir 17 persen.
Mengutip Investing pada Sabtu (7/11/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari ditutup turun 0,6 persen menjadi USD97,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember terkoreksi 0,2 persen ke level USD90,36 per barel.
Secara mingguan, harga Brent mengalami penurunan sebesar 16,9 persen. Adapun WTI melemah 13,2 persen, menjadi salah satu penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan April.
Pergerakan harga minyak tersebut dipengaruhi oleh evaluasi pelaku pasar terhadap perkembangan politik Amerika Serikat, terutama kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela yang memberikan partai tersebut kendali atas DPR dan Senat.
Hasil Pemilu AS Pengaruhi Prospek Konflik Iran
Kemenangan Partai Demokrat memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump untuk mencari jalan keluar dari konflik dengan Iran.
Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie, menilai perubahan komposisi Kongres AS dapat meningkatkan konsekuensi politik bagi pemerintahan Trump apabila konflik terus berlanjut atau mengalami eskalasi.
Menurutnya, meskipun hasil pemilu sela tidak secara langsung menghilangkan kewenangan eksekutif presiden dalam mengambil tindakan militer, perubahan peta politik di Kongres dapat memengaruhi kemampuan pemerintah mempertahankan strategi militernya, termasuk melalui kewenangan anggaran.
Ekspektasi terhadap kemungkinan meredanya konflik menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor dalam menentukan arah harga minyak.
Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar Energi
Selain perkembangan politik AS, kondisi keamanan di Timur Tengah tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar minyak global.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan strategis tersebut, khususnya Selat Hormuz.
Jalur perairan ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah konflik dimulai turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi internasional.
Data pelayaran terbaru menunjukkan sebagian arus pasokan minyak dari kawasan tersebut mulai pulih secara bertahap dengan dukungan pengawalan keamanan laut oleh militer AS. Namun, risiko serangan terhadap kapal tanker masih membayangi aktivitas pelayaran.
Laporan mengenai serangan baru terhadap kapal tanker di Teluk Persia dan Selat Hormuz sebelumnya sempat mendorong kenaikan harga minyak pada perdagangan Kamis. Data United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga menunjukkan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut masih berlangsung pada tingkat yang mendekati rekor tertinggi.
Kondisi ini membuat pasar energi global masih menghadapi ketidakpastian. Perkembangan konflik, keamanan jalur pelayaran, serta prospek pemulihan distribusi minyak menjadi sejumlah faktor yang akan memengaruhi pergerakan harga minyak dunia ke depan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.