SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026, ditopang kontribusi signifikan dari bisnis aluminium. Diversifikasi ke sektor pengolahan logam tersebut mulai memberikan hasil dengan menyumbang lebih dari seperempat total pendapatan perusahaan hingga September 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, ADRO membukukan pendapatan sebesar US$1,90 miliar, meningkat sekitar 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,34 miliar.
Peningkatan pendapatan tersebut turut mendorong laba operasional perusahaan naik 96 persen menjadi US$699,78 juta. Sementara itu, laba bersih tercatat mencapai US$606,65 juta atau tumbuh 82 persen secara tahunan.
Aluminium Menjadi Kontributor Baru Pendapatan
Perubahan komposisi pendapatan menjadi salah satu perkembangan penting dalam kinerja ADRO tahun ini. Bisnis pertambangan mineral dan batu bara masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$725,07 juta atau sekitar 38 persen dari total pendapatan.
Namun, segmen aluminium mulai menunjukkan kontribusi besar. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, bisnis ini menghasilkan pendapatan US$522,41 juta atau sekitar 27 persen dari total pendapatan perusahaan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, segmen tersebut belum mencatatkan pendapatan.
Sementara itu, segmen jasa pertambangan membukukan pendapatan sebesar US$623,04 juta, turun sekitar 3,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Masuknya kontribusi aluminium memperlihatkan perkembangan strategi diversifikasi bisnis ADRO di luar komoditas batu bara. Pengolahan logam kini menjadi salah satu sumber pendapatan utama yang memperluas struktur bisnis perusahaan.
Swiss Menjadi Tujuan Ekspor Terbesar Kedua
Pertumbuhan bisnis aluminium turut memengaruhi distribusi penjualan ADRO ke pasar internasional. Hingga September 2026, penjualan domestik mencapai US$958,29 juta atau sekitar 50,4 persen dari total pendapatan.
Adapun penjualan ke pasar luar negeri tercatat sebesar US$943,21 juta. Singapura masih menjadi salah satu pasar utama, sementara Swiss muncul sebagai tujuan ekspor terbesar kedua melalui perusahaan Gunvor SA.
Berdasarkan laporan tersebut, transaksi dengan Gunvor SA mencapai US$221,56 juta. Kehadiran pasar Swiss memperlihatkan semakin luasnya jangkauan penjualan produk ADRO di pasar internasional.
Meski demikian, struktur pelanggan perusahaan masih terkonsentrasi pada sejumlah mitra utama. Sekitar 54,8 persen pendapatan ADRO berasal dari tiga pelanggan, yakni PT Adaro Indonesia, Adaro International Singapura, dan Gunvor SA.
Likuiditas dan Struktur Permodalan Tetap Terjaga
Dari sisi keuangan, ADRO memiliki aset lancar sebesar US$3,06 miliar, lebih tinggi dibandingkan kewajiban jangka pendek yang tercatat sekitar US$819,80 juta.
Sementara itu, total liabilitas perusahaan mencapai US$2,57 miliar dengan total ekuitas sebesar US$5,61 miliar. Struktur tersebut menunjukkan posisi aset lancar yang relatif kuat dalam memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan.
ADRO juga mencatatkan tingkat pengembalian modal sekitar 10 persen sepanjang periode sembilan bulan pertama 2026.
Kepemilikan Saham Masih Didominasi Investor Domestik
Berdasarkan struktur kepemilikan saham per 30 Oktober 2026, Adaro Strategic Investments menjadi pemegang saham terbesar dengan porsi 48,77 persen.
Garibaldi Thohir juga tercatat memiliki 6,86 persen saham dan berstatus sebagai pihak pengendali. Selain itu, sejumlah investor domestik yang tercatat dalam struktur kepemilikan antara lain Theodore Permadi Rachmat sebesar 4,11 persen, Edwin Soeryadjaya sebesar 3,65 persen, dan Sandiaga Salahuddin Uno sebesar 2,12 persen.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk juga tercatat memiliki 4,08 persen saham, sementara PT Triputra Investindo Arya menguasai 1,09 persen.
Dari kalangan investor institusi asing, Korea South-East Power Co. Ltd memiliki 1,67 persen saham. Sementara itu, Lazard Emerging Markets Equity Portfolio tercatat menguasai 1,05 persen.
Kinerja keuangan ADRO hingga kuartal III 2026 memperlihatkan meningkatnya kontribusi bisnis aluminium terhadap pendapatan perusahaan. Di tengah masih kuatnya bisnis pertambangan mineral dan batu bara, pengembangan sektor pengolahan logam mulai membentuk sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan.
Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari perubahan komposisi bisnis ADRO dalam menghadapi dinamika industri energi dan komoditas global.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.