Minggu, 08 November 2026

PLN EPI Targetkan Pemanfaatan 10 Juta Ton Biomassa, Berpotensi Ciptakan 150 Ribu Green Jobs

Foto: PLN EPI
Foto: PLN EPI

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperluas pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif pembangkit listrik melalui penguatan program cofiring dan rantai pasok domestik. Perusahaan menargetkan kebutuhan biomassa mencapai 8–10 juta ton per tahun, yang berpotensi membuka hingga 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs).

Target tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam diskusi panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Hokkop menjelaskan bahwa peluang peningkatan penggunaan biomassa di pembangkit listrik masih sangat besar. PLN saat ini mengoperasikan 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan karakteristik teknologi berbeda yang memungkinkan penerapan biomassa dalam berbagai tingkat substitusi batu bara.

Pada pembangkit berteknologi pulverized coal (PC), penggunaan biomassa dapat didorong hingga 10 persen. Sementara itu, teknologi circulating fluidized bed (CFB) berpotensi melampaui 25 persen, sedangkan teknologi stoker bahkan dapat mencapai lebih dari 70 persen.

"Kalau seluruh potensi itu dikalkulasikan, kebutuhan biomassa PLN bisa mencapai sekitar 8–10 juta ton," ujar Hokkop.

Salah satu implementasi pemanfaatan biomassa dengan tingkat substitusi tinggi terlihat di PLTU Sanggau, Kalimantan Barat. Pembangkit berteknologi stoker tersebut telah mampu menggunakan biomassa sekitar 73 persen. Tingkat substitusi bahkan berpotensi mencapai 100 persen sepanjang kualitas bahan bakar memenuhi persyaratan teknis.

Pemanfaatan Biomassa melalui Cofiring Terus Berkembang

Program cofiring yang mulai dijalankan PLN pada 2020 menunjukkan peningkatan pemanfaatan biomassa secara signifikan. Pada tahun pertama, volumenya tercatat sebesar 9.728 ton, kemudian meningkat menjadi 2,352 juta ton sepanjang 2025.

Hingga 26 Oktober 2026, realisasi penggunaan biomassa mencapai 1,842 juta ton. Jenis biomassa yang dipasok secara berkelanjutan juga meningkat dari tiga jenis pada 2020 menjadi 18 jenis pada Oktober 2026.

Dari sisi kualitas, rata-rata nilai kalor biomassa meningkat dari 2.520 menjadi 3.440 kilokalori per kilogram. Peningkatan tersebut menjadi faktor penting untuk memastikan bahan bakar alternatif dapat digunakan sesuai spesifikasi dan kebutuhan masing-masing pembangkit.

Secara keseluruhan, PLN EPI telah mengidentifikasi sekitar 70 jenis biomassa yang pernah diuji maupun dimanfaatkan. Jenis tersebut antara lain tongkol jagung, sekam padi, cangkang sawit, limbah kayu, serta berbagai residu pertanian dan perkebunan.

Untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah bahan bakar, PLN EPI turut mendorong pengolahan biomassa menjadi produk seperti wood pellet dan wood chip. Pengolahan ini ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar dengan nilai kalor, kadar air, dan karakteristik material yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit.

Penguatan Rantai Pasok dan Industri Biomassa Lokal

Di balik potensi pengembangan biomassa, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Persaingan dengan pasar ekspor, keterbatasan fasilitas pengolahan, tingginya biaya logistik, serta belum terintegrasinya rantai pasok menjadi kendala dalam memperluas pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan domestik.

Hokkop menilai kepastian pasokan dalam negeri perlu diperkuat melalui kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi pemanfaatan biomassa di Indonesia. Ia mengusulkan agar sekitar 30 persen dari potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Kami tidak meminta seluruh produksi biomassa dialokasikan untuk PLN. Kami hanya meminta sekitar 30 persen untuk kebutuhan domestik. Dengan alokasi tersebut, pemanfaatan biomassa untuk PLN berpotensi mencapai sekitar 10 juta ton," katanya.

Penguatan rantai pasok tersebut juga dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Saat ini, sekitar 210 perusahaan telah memiliki kontrak aktif sebagai pemasok biomassa bagi PLN.

Dengan asumsi setiap perusahaan mempekerjakan 100 orang, aktivitas rantai pasok tersebut berpotensi menyerap sekitar 21 ribu tenaga kerja. Menariknya, sekitar 70–80 persen perusahaan mitra berasal dari kalangan pelaku usaha muda di daerah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar pembangkit, tetapi juga membuka peluang kewirausahaan dan pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal.

Potensi Perputaran Ekonomi Capai Rp11,7 Triliun

PLN EPI memperkirakan manfaat ekonomi biomassa dapat meningkat seiring bertambahnya volume pemanfaatan. Berdasarkan perhitungan perusahaan, penggunaan sekitar 2,5 juta ton biomassa berpotensi menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp4 triliun per tahun.

Apabila volumenya meningkat menjadi 20 juta ton, nilai ekonomi yang terbentuk diproyeksikan mencapai Rp11,7 triliun.

Pengembangan ekosistem biomassa juga berpotensi menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp1,25 triliun, mengurangi emisi hingga 12 juta ton CO₂ ekuivalen, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau. Selain itu, hingga 20 juta ton limbah per tahun berpeluang diolah menjadi sumber energi bernilai ekonomi.

Untuk merealisasikan potensi tersebut, PLN EPI mendorong keterlibatan lintas kementerian dalam memperkuat ekosistem industri biomassa nasional.

Kementerian ESDM diharapkan mendukung kebijakan harga biomassa yang kompetitif, sementara Kementerian Perdagangan berperan memperkuat tata niaga dan pengaturan ekspor. Dukungan pembiayaan diharapkan datang dari Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian dibutuhkan untuk mempercepat pengembangan fasilitas pengolahan, sedangkan Kementerian Perhubungan diharapkan meningkatkan efisiensi transportasi dan distribusi biomassa.

"Kalau seluruh kementerian dan pemangku kepentingan bisa bergerak bersama dalam melihat biomassa dan bioenergi, saya optimistis pemanfaatannya dapat meningkat sesuai kebutuhan, yakni mencapai sekitar 10 juta ton per tahun," ujar Hokkop.

PLN EPI selanjutnya akan memperkuat optimalisasi cofiring, meningkatkan standar kualitas bahan bakar, serta memperluas kemitraan dengan pemasok lokal.

Pengembangan biomassa diharapkan tidak hanya menjadi alternatif untuk mengurangi penggunaan batu bara pada pembangkit listrik, tetapi juga mendorong terbentuknya industri energi berbasis sumber daya lokal yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Keberhasilan program tersebut akan bergantung pada kepastian pasokan, kualitas bahan bakar, efisiensi logistik, serta dukungan kebijakan yang mampu memperkuat industri biomassa domestik. Dengan demikian, pemanfaatan biomassa berpeluang menjadi bagian penting dalam pengembangan energi berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi daerah.

Disclaimer

Artikel ini merupakan rilis publikasi dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!