Minggu, 08 November 2026

Menembus Batas Papua, PLN Hadirkan Listrik hingga Pelosok Negeri

Foto.Dok. Istimewa
Foto.Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jayapura – PT PLN (Persero) terus memperluas pemerataan akses listrik hingga ke wilayah pedalaman Papua melalui program Listrik Desa (Lisdes). Hingga akhir Oktober 2026, PLN telah berhasil melistriki 128 kampung yang tersebar di Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.

Upaya tersebut dilakukan di tengah berbagai tantangan geografis, mulai dari jarak antarkampung yang berjauhan, keterbatasan transportasi, hingga belum tersedianya akses jalan yang memadai di sejumlah wilayah. Kondisi ini membuat pembangunan infrastruktur kelistrikan di Papua membutuhkan perencanaan dan metode pelaksanaan yang disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menjelaskan bahwa untuk mendukung elektrifikasi 128 kampung tersebut, PLN telah membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 742,58 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 286,71 kms, serta gardu distribusi dengan kapasitas total 7.450 kilovolt ampere (kVA).

Menurut Roberth, capaian tersebut merupakan hasil kerja tim PLN di lapangan dalam menghadapi kondisi alam dan keterbatasan infrastruktur di Tanah Papua.

"Keberhasilan melistriki 128 desa hingga tahun ini adalah bukti nyata komitmen kami dalam menghadirkan terang hingga ke ujung negeri. Kami menyadari bahwa tantangan alam dan infrastruktur di Tanah Papua sangatlah berat, namun hal itu tidak menyurutkan dedikasi tim kami di lapangan," kata Roberth, Kamis (4/11/2026).

PLN juga telah menyiapkan program elektrifikasi lanjutan untuk 199 desa yang tersebar di enam provinsi di Tanah Papua. Program tersebut ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2027.

Gambar Artikel

Kembangkan PLTS untuk Wilayah Terpencil

Untuk wilayah yang belum memungkinkan dijangkau jaringan listrik konvensional, PLN mengembangkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), terutama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Teknologi ini menjadi salah satu alternatif penyediaan listrik yang dapat disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat setempat.

Asisten Manajer Jaringan dan Konstruksi PLN UP3 Jayapura, Rian Adhimas Putra, menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya telah diterapkan melalui sejumlah program, termasuk pemasangan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS).

Pada semester pertama 2026, PLN mendapat penugasan dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan untuk memasang 100 titik PJUTS. Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah.

Selain PJUTS, PLN juga mengembangkan PLTS yang dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS). Sistem tersebut memungkinkan energi yang dihasilkan panel surya disimpan dalam baterai untuk digunakan ketika matahari tidak lagi menghasilkan listrik.

"Jadi kita juga memanfaatkan energi bersih dari matahari, melalui PLTS yang dipasang untuk memenuhi kebutuhan listrik dasar di tengah masyarakat. Listrik yang dihasilkan, selanjutnya ditampung menggunakan baterai, yang nantinya digunakan sesuai dengan peruntukannya,” tutur Rian.

Pengembangan PLTS diarahkan ke sejumlah wilayah, termasuk kampung-kampung dalam program listrik desa di kawasan Sentani dan Sarmi. Kapasitas pembangkit disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi sistem kelistrikan setempat.

Rian menyebutkan, satu unit PLTS berkapasitas sekitar 100 kilowatt peak (kWp) dapat melayani sekitar 50 hingga 80 rumah. Namun, penggunaan listrik perlu diatur agar kapasitas penyimpanan baterai dapat dimanfaatkan secara optimal.

"Biasanya cuma 2 sampai 4 ampere per rumahnya, karena kalau melebihi itu nanti akan berpengaruh ke penyimpanan daya baterainya. Dia akan lebih cepat habis, sehingga ini yang kita atur agar masyarakat di kampung-kampung yang jauh dari akses jaringan listrik utama, juga bisa menikmati layanan listrik," jelasnya.

Gambar Artikel

Kolaborasi untuk Mendukung Pembangunan Infrastruktur

Pemerataan akses listrik di Papua juga membutuhkan dukungan keamanan dan koordinasi lintas sektor. Dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah Papua Barat Daya, PLN UIW Papua dan Papua Barat menjalin kerja sama dengan Kepolisian setempat.

Kerja sama tersebut mencakup pengamanan infrastruktur serta dukungan terhadap personel PLN yang bertugas di lapangan.

Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Pol. Hengki Haryadi, menyatakan kesiapan kepolisian untuk mendukung kelancaran pembangunan fasilitas kelistrikan. Ia menilai ketersediaan listrik menjadi salah satu kebutuhan dasar yang turut menunjang pembangunan daerah.

"Kami menyambut baik upaya PLN menghadirkan listrik hingga ke pelosok. Papua saat ini menjadi pusat perhatian dan fokus utama kita semua. Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan harus dioptimalkan. Apa pun bentuk dukungan yang bisa kami berikan untuk kelancaran tugas PLN ke depan, pasti akan kami bantu semaksimal mungkin," tegas Hengki.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pembangunan jaringan listrik melibatkan berbagai kebutuhan dan tanggung jawab. Pemerintah daerah berperan memberikan informasi mengenai kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat, PLN menangani aspek teknis pembangunan serta pengoperasian infrastruktur, sementara kepolisian mendukung aspek keamanan.

Asisten III Setda Provinsi Papua, Suzana Wanggai, juga menyoroti kondisi geografis dan keterbatasan transportasi sebagai tantangan dalam pemerataan pembangunan di Papua. Menurutnya, perluasan akses energi membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar manfaatnya dapat menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.

"Kondisi geografis dan keterbatasan transportasi di Papua menjadi tantangan nyata yang membutuhkan kerja bersama. Kehadiran layanan listrik dari PLN bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat, sehingga ini bisa dijadikan ruang kolaborasi, agar masyarakat bisa lebih mengenal, merasakan dan menikmati masa depan energi bersih yang terus dihadirkan PLN,” ujar Suzana.

Ia turut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pemanfaatan teknologi energi. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki pemahaman dan kemampuan untuk mengambil bagian dalam perkembangan teknologi tersebut.

Akses Listrik Membuka Peluang bagi Masyarakat

Perluasan elektrifikasi di Papua tidak hanya berkaitan dengan pembangunan jaringan dan penambahan kapasitas pembangkit. Ketersediaan listrik juga diharapkan membuka peluang peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dengan adanya layanan listrik, anak-anak di kampung-kampung memiliki dukungan untuk kegiatan belajar. Fasilitas kesehatan dapat memanfaatkan energi untuk menunjang pelayanan, sementara masyarakat memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kegiatan produktif.

Pembangunan 128 kampung hingga Oktober 2026 dan rencana elektrifikasi 199 desa berikutnya menjadi bagian dari upaya PLN memperluas akses energi di Tanah Papua.

Tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi pekerjaan yang harus diatasi. Karena itu, pengembangan jaringan konvensional, pemanfaatan energi surya, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian dari strategi pemerataan listrik.

Disclaimer

Artikel ini merupakan rilis publikasi dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!