SINERGYNEWS.ID, Makassar – PT PLN (Persero) mempercepat pemulihan dan optimalisasi sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk menjaga keandalan pasokan listrik di sistem Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Langkah ini dilakukan menyusul penurunan kapasitas produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso akibat berkurangnya ketersediaan air di wilayah tangkapan Danau Poso, Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut dipengaruhi fenomena iklim El Nino yang berdampak pada ketersediaan air untuk operasional pembangkit hidro. Penurunan produksi PLTA Poso menjadi tantangan bagi keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Didik Wicaksono, mengatakan percepatan pemulihan pembangkit berbasis energi termal, khususnya PLTU, menjadi langkah penting untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan listrik dari pembangkit hidro.
“Di tengah kondisi menurunnya kemampuan pasok pembangkit hidro akibat keterbatasan air, PLN terus mengupayakan penguatan pasokan melalui percepatan pemulihan dan optimalisasi pembangkit lainnya, khususnya PLTU,” ujar Didik, Jumat (6/11/2026).
PLTU Jeneponto dan Barru Kembali Beroperasi
Berdasarkan data kondisi sistem Sulbagsel per 5 November 2026, sejumlah unit pembangkit strategis telah kembali beroperasi dan terhubung ke jaringan utama atau on-grid.
PLTU Jeneponto dan PLTU Barru tercatat telah kembali beroperasi penuh untuk memperkuat ketersediaan pasokan listrik di sistem Sulbagsel.
Sementara itu, PLN masih mengawal proses penyelesaian perbaikan pada sejumlah unit pembangkit lainnya, termasuk PLTU Moramo dan PLTU Palu 3 yang telah memasuki tahap akhir pekerjaan teknis.
Didik menjelaskan bahwa percepatan pemulihan dilakukan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan kerja dan keandalan operasional pembangkit.
“Sejumlah unit telah kembali beroperasi, sementara beberapa unit lainnya masih dalam proses penyelesaian pekerjaan agar dapat kembali mendukung sistem kelistrikan Sulbagsel secara penuh dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan keandalan,” jelasnya.
Pasokan PLTA Poso Turun dari 515 MW Menjadi 200 MW
Di sisi lain, PLTA Poso selama ini memiliki peran penting dalam menopang sistem kelistrikan Sulbagsel, dengan kontribusi pasokan berbasis hidro lebih dari 30 persen terhadap kebutuhan sistem.
Namun, berdasarkan data per 5 November 2026, daya mampu pasok PLTA Poso tercatat hanya sekitar 200 megawatt (MW), jauh di bawah kapasitas normal yang mencapai 515 MW.
Artinya, terjadi penurunan daya mampu pasok sebesar 315 MW akibat keterbatasan ketersediaan air di Danau Poso. Kondisi ini menuntut penguatan pembangkit lain agar keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, PLN juga mengajak masyarakat berpartisipasi menjaga stabilitas sistem kelistrikan melalui penggunaan listrik secara bijak dan efisien, terutama pada periode beban puncak.
Didik berharap dukungan masyarakat dapat membantu menjaga kondisi sistem selama proses pemulihan pembangkit berlangsung.
“Dukungan serta doa dari masyarakat sangat kami harapkan agar seluruh proses pemulihan pembangkit berjalan lancar dan kondisi curah hujan di wilayah tangkapan Danau Poso bisa segera membaik,” tutup Didik.
Upaya pemulihan sejumlah PLTU tersebut menjadi bagian dari strategi PLN dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan di tengah tantangan perubahan kondisi iklim dan penurunan pasokan energi hidro. Optimalisasi pembangkit yang tersedia diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan Sulawesi Bagian Selatan.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.