Minggu, 08 November 2026

DEN Dorong Diversifikasi Energi, Perkuat Ketahanan Nasional dan Kurangi Ketergantungan Impor

Foto: Dok. Istimewa
Foto: Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong diversifikasi sumber dan jalur pasokan energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini dinilai penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi serta fluktuasi harga energi global.

Anggota DEN, Surono, mengatakan diversifikasi diperlukan untuk mengoptimalkan potensi energi dalam negeri, mengurangi risiko ketergantungan pada satu jenis sumber energi, serta meningkatkan keandalan sistem pasokan nasional, Sabtu (7/11/2026).

Menurut Surono, pemerintah menargetkan kontribusi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi mencapai 70–72 persen pada 2060. Target tersebut direncanakan melalui optimalisasi berbagai sumber energi yang tersedia di Indonesia.

"Diversifikasi sumber energi penting untuk mencapai ketahanan energi karena dapat mengurangi risiko ketergantungan pada sumber tertentu," kata Surono.

Sejumlah sumber energi yang diperhitungkan untuk mendukung pencapaian target tersebut meliputi energi surya, hidro, bioenergi, panas bumi, nuklir, serta energi laut. Potensi energi laut mencakup energi pasang surut, gelombang, dan arus laut.

"Ini telah mempertimbangkan optimalisasi seluruh potensi energi dan keterbauran sejenisnya yaitu energi surya, hidro, bioenergi, panas bumi, nuklir, dan energi terbarukan lainnya seperti energi pasang surut gelombang laut, dan arus laut," ujar Surono.

Porsi Batu Bara Diproyeksikan Menurun

Seiring dengan peningkatan kontribusi EBT, porsi batu bara dalam bauran energi primer diproyeksikan mengalami penurunan secara bertahap.

Surono menyampaikan, kontribusi batu bara diperkirakan mencapai 40,7 persen pada 2030. Angka tersebut kemudian turun menjadi 28,9 persen pada 2040, 19,1 persen pada 2050, dan 7,8 persen pada 2060.

Proyeksi tersebut mencerminkan perubahan komposisi sumber energi primer dalam jangka panjang, sejalan dengan upaya meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Impor Masih Penuhi Sebagian Besar Kebutuhan LPG

Di sisi lain, ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri masih menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia.

Surono mengungkapkan, pada 2025 impor memenuhi 38,7 persen kebutuhan minyak mentah untuk kilang domestik. Sementara itu, impor juga mencakup 34,2 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan 80,6 persen kebutuhan liquefied petroleum gas (LPG) nasional.

"Angka 38,7 persen kebutuhan minyak mentah kilang domestik di 2025 dipenuhi dari impor, 34,2 persen kebutuhan BBM domestik di 2025 dipenuhi dari impor, dan 80,6 persen kebutuhan LPG domestik di 2025 dipenuhi dari impor," kata Surono.

Besarnya porsi impor tersebut menunjukkan pentingnya penguatan strategi pengadaan energi nasional. Upaya diversifikasi tidak hanya perlu dilakukan melalui pengembangan berbagai jenis energi domestik, tetapi juga dengan memperluas sumber dan jalur impor.

"Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi sumber dan jalur impor energi agar tidak bergantung pada sumber tertentu. Hal tersebut menjadi satu dari empat langkah prioritas untuk mengurangi ketergantungan akan impor," ujar Surono.

Penguatan diversifikasi diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan dan dampak gejolak harga energi global, sekaligus mendukung pemanfaatan potensi energi domestik untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Disclaimer

Artikel ini merupakan rilis publikasi dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!