Senin, 09 November 2026

Talenta Muda Jadi Kunci Megaproyek PLTS 100 GWp, Pemuda Energi Indonesia Dorong Kementerian Dikti Saintek Transformasi Kurikulum Perguruan Tinggi

Foto.Dok. Istimewa
Foto.Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta – Pemuda Energi Indonesia menegaskan bahwa kesuksesan implementasi program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto bertumpu penuh pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam negeri. Menanggapi potensi penyerapan hingga 5,52 juta tenaga kerja hijau (green jobs), Pemuda Energi Indonesia mendesak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk segera melakukan transformasi radikal di dunia perguruan tinggi demi menyiapkan talenta muda yang kompeten.

Ketua Umum Pemuda Energi Indonesia, Erwin Damanik, mengungkapkan bahwa ambisi swasembada energi ini akan pincang jika Indonesia terus bergantung pada teknologi dan tenaga ahli asing akibat kurikulum pendidikan tinggi yang belum adaptif terhadap perkembangan energi terbarukan.

"Presiden telah membuka gerbang transisi energi melalui target PLTS 100 GWp, namun kunci keberlanjutannya ada pada talenta muda kita. Saat ini, terdapat ketimpangan besar antara masifnya target pembangunan dengan ketersediaan SDM lokal yang siap pakai di bidang teknologi surya. Kami mendesak Menteri Dikti Saintek untuk mentransformasi dunia perguruan tinggi secara menyeluruh. Kampus-kampus di Indonesia harus segera menyiapkan program studi baru, pemakatan keahlian, dan pusat riset spesifik yang menjawab langsung rantai pasok industri surya," ujar Erwin Damanik 

"Dengan lebih dari 4.500 perguruan tinggi di seluruh penjuru negeri, Indonesia memiliki modal sosial dan akademik yang sangat masif. Sayangnya, mayoritas program studi teknik kita saat ini masih menitikberatkan pada sektor energi fosil konvensional. Sebaran kampus yang luas ini harus dioptimalkan. Kemdiktisaintek harus mendorong dan memfasilitasi kampus-kampus di daerah agar berani membuka program vokasi maupun sarjana di bidang Solar PV Technology, manajemen grid pintar (smart grid), hingga sistem penyimpanan energi (energy storage)," jelas Erwin.

Pemuda Energi Indonesia menilai transformasi kurikulum ini menjadi bentuk tanggung jawab moral dunia akademik agar bonus demografi Indonesia benar-benar melahirkan generasi produktif yang memimpin transisi energi bersih, bukan sekadar menjadi penonton di negeri sendiri.

"Pendidikan tinggi adalah hulu dari kemandirian teknologi bangsa. Jika kementerian terkait bergerak cepat menata ekosistem pendidikan tinggi, maka target PLTS 100 GWp bukan hanya akan menghasilkan swasembada energi bersih, melainkan juga melahirkan lompatan kelas bagi talenta muda dan intelektual Indonesia di kancah global," pungkas Erwin Damanik.

Disclaimer

Artikel ini merupakan rilis publikasi dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!