Rabu, 28 Oktober 2026

METI Apresiasi Transformasi Energi Terbarukan di Dua Tahun Pemerintahan Prabowo

Foto: Ketua Umum METI
Foto: Ketua Umum METI

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengapresiasi arah kebijakan energi terbarukan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah program, mulai dari biodiesel B50, pengembangan bioetanol E20, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GWp, hingga pengolahan sampah menjadi energi, dinilai menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Ketua Umum METI, Norman Ginting, menilai program-program tersebut menunjukkan upaya menghubungkan transisi energi dengan kemandirian energi, penguatan industri, pertumbuhan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

“Dalam pandangan kami, pemerintahan Presiden Prabowo menunjukkan kepemimpinan yang paling transformatif dalam mendorong akselerasi energi terbarukan nasional,” ujar Norman.

Menurutnya, keberhasilan transisi energi tidak cukup diukur dari jumlah program yang diluncurkan. Manfaatnya juga perlu dirasakan masyarakat melalui berkurangnya ketergantungan impor energi, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya peluang usaha, serta tersedianya energi yang andal dan terjangkau.

B50 Dorong Kemandirian Energi

METI menilai penerapan mandatori biodiesel B50 sebagai langkah penting dalam meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Pada peluncuran program B50 pada Juli 2026, pemerintah menyampaikan potensi penghentian impor produk solar dan penghematan devisa hingga Rp170 triliun.

Norman mengatakan, pemanfaatan biodiesel dapat memperluas pasar komoditas dalam negeri sekaligus memperkuat industri pengolahan dan mata pencaharian masyarakat.

“B50 menunjukkan bahwa Indonesia mampu membangun solusi energi dengan kekuatan sumber dayanya sendiri,” katanya.

Meski demikian, METI menekankan perlunya pengelolaan insentif dan pembiayaan secara efisien agar manfaat ekonomi program tersebut tetap sejalan dengan keberlanjutan fiskal dan pengendalian beban subsidi energi.

E20 Buka Peluang bagi Sektor Pertanian

Selain biodiesel, METI menyambut pengembangan E20, yakni campuran bensin dengan 20 persen bioetanol, sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap bensin impor.

Pengembangan bioetanol dinilai berpotensi menciptakan rantai nilai baru yang menghubungkan sektor pertanian, industri pengolahan, logistik, dan distribusi bahan bakar.

Sejumlah bahan baku yang dapat dikembangkan meliputi tebu, jagung, sorgum, dan singkong, dengan mempertimbangkan kelayakan produksi serta kebutuhan pangan.

“Melalui tebu, jagung, sorgum, singkong, dan bahan baku lain yang layak dikembangkan, petani berpeluang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi nasional,” ujar Norman.

METI mendorong kemitraan yang adil dengan petani, peningkatan produktivitas, kepastian penyerapan hasil panen, serta pemanfaatan lahan yang bertanggung jawab agar pengembangan bioetanol tidak mengganggu ketahanan pangan.

PLTS 100 GWp untuk Pemerataan Energi

Program PLTS berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) juga menjadi perhatian METI. Program tersebut dinilai berpotensi memperbesar kontribusi energi surya dalam sistem kelistrikan nasional sekaligus memperluas akses energi di wilayah kepulauan, daerah terluar, dan kawasan yang masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel.

Menurut Norman, pengembangan PLTS dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari penyimpanan dingin hasil perikanan, pengolahan hasil pertanian, hingga operasional usaha kecil, sekolah, dan fasilitas kesehatan.

“Arti strategis PLTS 100 GWp adalah menghadirkan kesempatan ekonomi yang lebih merata,” jelasnya.

Namun, realisasi program tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur dan sistem kelistrikan yang memadai. METI menekankan pentingnya integrasi PLTS dengan baterai penyimpanan energi, penguatan jaringan listrik, serta pengelolaan operasional yang tepat.

Pengembangan PLTS juga diharapkan dapat mendorong industri dalam negeri, termasuk produksi panel surya, baterai, jasa rekayasa, konstruksi, serta layanan operasi dan pemeliharaan.

Pengolahan Sampah Menjadi Energi

Di sektor perkotaan, METI mengapresiasi percepatan pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy. Program ini dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir sekaligus menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan.

Norman menekankan bahwa keberhasilan program harus diukur melalui dampak nyata terhadap pengelolaan sampah dan kualitas lingkungan.

“Kita mengapresiasi dorongan Presiden untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah. Program ini harus menghasilkan manfaat yang terukur,” katanya.

METI mendorong pelaksanaan program secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknis dan keekonomian setiap daerah. Pengendalian emisi, pengelolaan residu yang aman, serta upaya pengurangan, pemilahan, dan daur ulang sampah tetap perlu menjadi bagian dari sistem pengelolaan.

Kapasitas EBT dan Penyimpanan Energi Jadi Prioritas

METI juga mendukung pengembangan sumber energi terbarukan lainnya, termasuk panas bumi, tenaga air, angin, biomassa berkelanjutan, dan biogas. Selain itu, pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan serta hidrogen hijau dinilai perlu dilanjutkan sesuai kesiapan teknologi dan pasar.

Arah pengembangan energi terbarukan tersebut tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. Rencana itu mencakup tambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan sebesar 42,6 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,3 GW dari total rencana penambahan kapasitas 69,5 GW.

Keduanya mencakup sekitar 76 persen dari total rencana penambahan kapasitas tersebut.

Norman menegaskan bahwa tantangan berikutnya adalah memastikan rencana dan target kebijakan dapat diwujudkan menjadi proyek yang beroperasi serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kepastian regulasi, pembiayaan yang kompetitif, kesiapan jaringan listrik, dan koordinasi lintas sektor menjadi sejumlah faktor yang perlu diperkuat.

“Dua tahun pertama telah meletakkan arah transformasi yang kuat. METI siap menjadi mitra strategis pemerintah untuk mempercepat pelaksanaannya. Tujuan kita adalah Indonesia yang semakin mandiri energinya, semakin kuat industrinya, dan semakin sejahtera rakyatnya,” tutup Norman.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!