SINERGYNEWS.ID, Rembang 29 Oktober 2026 – Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, mengapresiasi pelaksanaan program co-firing biomassa di PLTU Rembang, Jawa Tengah, dan PLTU Tanjung Awar-Awar, Tuban, Jawa Timur. Kedua unit pembangkit tersebut dinilai memiliki praktik operasional yang mendukung pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendamping batu bara dalam upaya mengurangi emisi karbon.
Apresiasi tersebut disampaikan Hokkop saat mengunjungi kedua PLTU pada pekan lalu. Dalam kunjungan itu, ia berdiskusi dengan Senior Manager PLN Nusantara Power UP Rembang, Jayadi, beserta jajaran, serta Senior Manager PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-Awar, Tri Wahyudi, dan jajaran.
Di PLTU Rembang, Hokkop menyoroti peningkatan penerimaan biomassa dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, volume penerimaan biomassa tercatat sekitar 76 ribu ton, kemudian meningkat menjadi sekitar 118 ribu ton pada 2024. Pada 2025, jumlahnya mendekati 185 ribu ton.
“PLTU Rembang menjadi salah satu PLTU dengan penerimaan terbanyak di tahun 2025. Saya sangat senang dengan penerimaan dan inovasi yang dilakukan,” ujar Hokkop.
Sistem Penerimaan Biomassa Dukung Kelancaran Operasional
Salah satu praktik yang mendapat perhatian adalah pengelolaan area penerimaan dan penyimpanan biomassa di PLTU Rembang. Fasilitas tersebut memiliki dua zona dan dua akses masuk, sehingga proses penerimaan dapat dialihkan ketika salah satu zona telah penuh.
Pengaturan ini memungkinkan kegiatan penerimaan dan penyimpanan biomassa berlangsung lebih fleksibel. Selain mendukung kelancaran pembongkaran dan penataan material, sistem tersebut juga membantu menjaga keselamatan kerja serta mengoptimalkan proses pencampuran atau blending biomassa dengan batu bara.
Menurut Hokkop, masing-masing akses, yakni pintu selatan dan utara, memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 13 ribu ton biomassa. Adapun tingkat co-firing di PLTU Rembang saat ini berada pada kisaran 5–10 persen.
Hokkop bersama jajaran pimpinan unit juga meninjau langsung sejumlah fasilitas operasional, mulai dari area stockpile hingga jetty. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat proses penerimaan dan pengelolaan biomassa secara langsung.
“Saya sangat mengapresiasi pelaksanaan co-firing biomassa di PLTU Rembang. Target co-firing dan MWh Green PLTU Rembang selalu tercapai. Saya berharap target co-firing bisa tercapai sehingga mendukung program pengurangan emisi,” kata Hokkop.
Ia berharap penerimaan biomassa di PLTU Rembang dapat terus dioptimalkan agar mendukung pencapaian target program pada 2026.
Digitalisasi Monitoring di PLTU Tanjung Awar-Awar
Selain mengunjungi PLTU Rembang, Hokkop juga meninjau pelaksanaan co-firing di PLTU Tanjung Awar-Awar, Tuban. Dalam kunjungan tersebut, ia mengapresiasi penerapan digitalisasi untuk memantau pelaksanaan program co-firing.
Sistem pemantauan digital dinilai dapat membantu proses pengawasan dan pengelolaan pelaksanaan co-firing secara lebih terukur. Dengan dukungan data operasional, pemantauan diharapkan dapat mempermudah evaluasi serta mendukung pencapaian target pemanfaatan biomassa.
Implementasi co-firing merupakan salah satu langkah PLN dalam meningkatkan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendamping batu bara di pembangkit listrik. Pelaksanaannya membutuhkan kesiapan pasokan, fasilitas penerimaan dan penyimpanan, pengelolaan operasional, serta pemantauan yang konsisten.
Pengalaman PLTU Rembang dalam mengelola penerimaan biomassa dan penerapan sistem digital di PLTU Tanjung Awar-Awar menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan pelaksanaan program tersebut. Pencapaian target tetap memerlukan dukungan rantai pasok biomassa yang andal dan pengelolaan operasional yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pembang
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.