SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Pemantauan kualitas perairan dan rehabilitasi ekosistem laut menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di tengah aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, kondisi ekosistem laut dan pesisir menjadi perhatian karena berkaitan dengan keanekaragaman hayati serta sumber penghidupan masyarakat setempat.
Harita Nickel melalui tim Environmental Marine melakukan pemantauan kualitas air laut dan kondisi ekosistem bawah laut secara berkala. Tim yang berada di bawah Departemen Health, Safety, and Environment (HSE) tersebut menjalankan pengamatan terhadap kualitas air, pertumbuhan terumbu karang, ikan karang, serta kondisi meteorologi dan oseanografi.
Environment Marine Foreman Harita Nickel, Putri Wullandari Hamid, mengatakan pemantauan dilakukan secara intensif untuk mengetahui kondisi perairan dan ekosistem laut di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Saya dan tim bertugas secara intens memantau kualitas perairan dan ekosistem laut agar dampak baiknya bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga masyarakat sekitar,” kata Putri, Jumat (23/10/2026).
VP Environmental Marine Harita Nickel, Windy Prayogo, menjelaskan bahwa frekuensi pemantauan disesuaikan dengan aspek yang diamati, mulai dari mingguan, bulanan, hingga triwulanan.
Dalam pelaksanaannya, tim mengambil sampel air laut dan memeriksa kondisi bawah laut, termasuk area yang sulit dijangkau penyelam. Untuk mendukung pengamatan, perusahaan menggunakan remotely operated vehicle (ROV), yakni kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh.
Sampel air kemudian dianalisis di laboratorium eksternal terakreditasi dan hasilnya dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku. Menurut Laporan Keberlanjutan Harita Nickel, sepanjang 2025 seluruh efluen yang dilepaskan dari fasilitas operasional perusahaan memenuhi baku mutu.
Pemantauan juga melibatkan pihak eksternal, termasuk perguruan tinggi, konsultan lingkungan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Sejumlah titik pemantauan air limbah turut terhubung secara daring dengan Kementerian Lingkungan Hidup sehingga dapat diawasi oleh regulator.
“Pengujian dan pemantauan ini penting untuk mengetahui kondisi perairan berdasarkan data. Kami juga bekerja sama dengan pihak eksternal agar pengamatan lingkungan dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang,” ujar Windy.
Rehabilitasi Terumbu Karang dan Konservasi Mangrove
Selain pemantauan, Harita Nickel menjalankan upaya rehabilitasi terumbu karang dengan menempatkan reef cube di dasar laut. Struktur buatan tersebut berfungsi sebagai tempat menempel dan tumbuhnya karang sekaligus menyediakan habitat bagi berbagai organisme laut.
Hingga 2025, lebih dari 2.500 reef cube telah ditempatkan di perairan Obi. Pertumbuhan karang tercatat mencapai 18,9 sentimeter, sementara ikan karang dari 28 famili mulai ditemukan berkoloni di area tersebut.
Terumbu karang merupakan habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan organisme laut. Kondisi ekosistem ini juga berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan yang dimanfaatkan masyarakat pesisir.
Pengelolaan lingkungan pesisir turut mencakup konservasi mangrove. Harita Nickel bekerja sama dengan Komunitas Tongke, kelompok masyarakat setempat, dalam kegiatan penanaman mangrove di Desa Soligi, Kecamatan Obi Selatan.
Mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai biota pesisir dan membantu meredam energi gelombang serta mengurangi risiko erosi pantai. Namun, upaya konservasi tidak berhenti pada penanaman bibit, melainkan membutuhkan pemantauan dan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
“Konservasi mangrove tidak bisa hanya mengandalkan penanaman bibit. Perlu ada pemantauan dan perawatan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Karena itu, kolaborasi dengan masyarakat seperti Komunitas Tongke menjadi penting dalam mendukung upaya pemulihan ekosistem pesisir,” kata Windy.
Libatkan Masyarakat dalam Menjaga Laut Obi
Hubungan masyarakat Pulau Obi dengan laut tidak hanya berkaitan dengan mata pencaharian, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Kedekatan tersebut turut diangkat melalui Festival Harmoni Obi yang dijadwalkan berlangsung pada 24–25 Oktober 2026.
Salah satu rangkaian kegiatan festival adalah lomba memancing yang menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat pesisir sekaligus merayakan tradisi setempat.
Windy mengatakan, tanggung jawab menjaga perairan Obi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan, masyarakat sekitar, dan masyarakat luas.
“Harapannya masyarakat juga bisa mengenal perairan Obi dari dekat, dan setelah mengenal timbul rasa untuk menjaga,” ujarnya.
Upaya menjaga ekosistem laut dan pesisir Obi membutuhkan pemantauan berbasis data, rehabilitasi habitat, serta kolaborasi berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat dan pengawasan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memastikan kondisi lingkungan terus diperhatikan seiring berlangsungnya aktivitas industri di pulau tersebut.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.