Selasa, 27 Oktober 2026

Menjelang 1 Abad Sumpah Pemuda: Organisasi Kepemudaan harus Berani Buka Suara atas Gagalnya Pemerintahan Tangani Karhutla

Foto: Kongres Pemuda II - yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 menghasilkan ikrar bersejarah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Kongres ini dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito
Foto: Kongres Pemuda II - yang diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928 menghasilkan ikrar bersejarah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Kongres ini dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, JAKARTA, 27 Oktober 2026 – Momentum sakral Hari Sumpah Pemuda tahun 2026 dinilai telah ternoda oleh matanya sikap kritis sebagian kelompok pemuda yang memilih menjadi tameng politik kekuasaan di tengah bencana ekologis nasional. Aktivis Energi dan Lingkungan, Erwin Damanik, melayangkan kritik paling tajam terhadap fenomena mandulnya gerakan kepemudaan kontemporer yang terindikasi kuat telah tersandera oleh kepentingan partisan.

Erwin menuding ada upaya sistematis untuk meredam kemarahan publik atas kegagalan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lima bulan terakhir, melalui aksi-aksi karitatif yang tidak menyentuh akar masalah.

"Menjelang Hari Sumpah Pemuda ini, kita dipertontonkan sebuah ironi yang menjijikkan. Jangan kita biarkan ada sekelompok anak muda yang terafiliasi dengan partai politik atau lingkaran kekuasaan, berlagak bicara atas nama gerakan kepemudaan, tetapi mendadak bisu terhadap perusakan lingkungan. Mereka hanya diam di bawah ketiak pemerintah dan sibuk membagi-bagikan masker atau air bersih seolah-olah itu adalah solusi," cerdas Erwin Damanik dengan nada sarkastis dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Menurut Erwin, tindakan kelompok pemuda bentukan penguasa tersebut tak lebih dari sekadar public relations stunt atau kosmetik politik untuk menutupi kegagalan nyata rezim dalam melakukan mitigasi bencana ekologis. Ia menegaskan bahwa pembagian logistik darurat hanyalah cara melanggengkan penderitaan rakyat tanpa pernah meminta pertanggungjawaban dari para korporasi dan pembuat kebijakan yang membiarkan jutaan hektare hutan hangus terbakar.

Gambar Artikel

"Yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah penuntasan total karhutla, penegakan hukum pidana yang radikal bagi pembakar hutan, dan evaluasi total jajaran menteri kabinet yang impoten! Kami tidak butuh pemuda penikmat kekuasaan yang mengemis panggung dengan cara memvalidasi kelalaian pemerintah lewat pembagian masker. Itu bukan gerakan pemuda, itu adalah perpanjangan tangan birokrasi yang korup secara moral," tegas Erwin.

Pernyataan keras ini membakar ruang publik di tengah situasi darurat nasional di mana puluhan ribu titik api termasuk di episentrum Kalimantan Tengah dan Papua Selatan telah melumat habis ekosistem gambut lindung, memicu kelangkaan air bersih massal, serta menggagalkan ambisi klaim perdagangan karbon internasional pemerintah di bawah payung Asta Cita.

Erwin menyerukan kepada seluruh elemen pemuda, mahasiswa, dan aktivis lingkungan untuk merebut kembali muruah Sumpah Pemuda dari tangan para oportunis politik. Generasi muda didorong untuk turun ke jalan dan menggunakan hak suaranya demi mendesak Presiden Prabowo Subianto agar segera membersihkan kroni-kroni politiknya yang gagal total mengelola bentang alam Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!