Senin, 26 Oktober 2026

Harga Batu Bara Newcastle Naik Empat Pekan Beruntun, Permintaan Asia Jadi Penopang

Foto: Dok. Istimewa
Foto: Dok. Istimewa

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Harga batu bara acuan Newcastle melanjutkan tren penguatan selama empat pekan berturut-turut hingga perdagangan Jumat (23/10/2026). Permintaan energi dari sejumlah negara Asia dan ketidakpastian pasokan global masih menopang harga, meskipun kenaikannya mulai melambat.

Mengacu pada data perdagangan yang dilaporkan CNBC Indonesia, kontrak batu bara Newcastle ditutup di level US$155 per ton pada Jumat (23/10). Harga tersebut naik US$0,40 per ton atau 0,26% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya sebesar US$154,60 per ton.

Kenaikan mingguan ini lebih rendah dibandingkan penguatan 2,72% pada pekan sebelumnya. Sepanjang pekan, harga sempat ditutup di level US$156,05 per ton pada Senin, sebelum terkoreksi ke US$152,50 per ton pada Rabu dan kembali menguat dalam dua sesi perdagangan terakhir.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa permintaan masih menopang harga ketika terjadi koreksi. Namun, pasar belum menunjukkan momentum yang cukup kuat untuk mempertahankan harga di atas posisi awal pekan.

Stok Batu Bara India Menjadi Perhatian

Kondisi persediaan batu bara untuk pembangkit listrik di India menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Berdasarkan laporan Reuters yang dirujuk dalam pemberitaan tersebut, sebanyak 96 dari 191 pembangkit listrik di India memiliki persediaan pada tingkat kritis per 19 Oktober 2026. Jumlah ini meningkat dari 60 pembangkit pada pertengahan September.

Stok di pembangkit-pembangkit tersebut dilaporkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkitan listrik kurang dari tiga hari.

Peningkatan kebutuhan listrik akibat cuaca panas, ditambah rendahnya curah hujan yang membatasi produksi pembangkit listrik tenaga air, mendorong pembangkit berbasis batu bara untuk memenuhi kebutuhan pasokan.

Meski demikian, keterbatasan stok belum tentu langsung meningkatkan impor. Bloomberg melaporkan bahwa pemerintah India menangguhkan rencana kewajiban pencampuran batu bara impor karena tingginya harga internasional dan pelemahan rupee yang meningkatkan biaya pembelian.

Pemerintah India memilih mendorong produksi domestik melalui Coal India serta mempercepat pengiriman batu bara menggunakan kereta api.

Pada 22 Oktober, pejabat Kementerian Ketenagalistrikan India menyebut pasokan batu bara ke pembangkit telah mencapai rekor 2,6 juta ton per hari. Pemerintah juga memperkirakan kondisi pasokan akan segera kembali normal.

Dengan demikian, kebutuhan pengisian stok pembangkit India masih berpotensi mendukung permintaan batu bara. Namun, besarnya kebutuhan impor akan bergantung pada kemampuan produksi domestik dan distribusi dalam memenuhi kebutuhan pembangkit.

Jepang dan Korea Selatan Menopang Permintaan

Selain India, permintaan dari Jepang dan Korea Selatan turut menjadi faktor pendukung pasar batu bara Asia.

Fitch Ratings, dalam laporan tertanggal 19 Oktober 2026, menyoroti peralihan penggunaan gas ke batu bara di kedua negara tersebut di tengah gangguan pasar energi Timur Tengah.

Peralihan bahan bakar ini berpotensi menjaga permintaan batu bara, khususnya jenis berkalori tinggi. Selain itu, kebutuhan pengisian persediaan menjelang musim dingin diperkirakan menjadi faktor yang menopang harga dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, perkembangan harga tetap akan dipengaruhi oleh dinamika pasar energi secara keseluruhan, termasuk harga gas, kebutuhan listrik, dan kebijakan persediaan di negara-negara konsumen utama.

Ekspor Indonesia Menghadapi Kendala

Dari sisi pasokan, Indonesia menghadapi ketidakpastian terkait kuota produksi dan kebijakan ekspor. Kondisi cuaca juga memengaruhi kelancaran distribusi batu bara, terutama akibat kekeringan yang menurunkan permukaan air Sungai Barito dan membatasi pengangkutan menggunakan tongkang.

Laporan yang dipublikasikan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) pada pekan tersebut menyebut ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut pada September 2026 turun 18,1% secara tahunan.

Kendala produksi dan pengiriman membuat ketersediaan pasokan ekspor lebih sulit diprediksi. Situasi ini dapat mendukung harga di pasar internasional apabila pasokan tidak mampu mengimbangi permintaan.

Di sisi lain, gangguan pengiriman juga berpotensi meningkatkan biaya logistik dan menghambat penjualan produsen domestik. Karena itu, dampaknya terhadap industri batu bara Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kenaikan harga acuan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menjaga produksi dan mengirimkan komoditas kepada pembeli.

Produksi China Berpotensi Membatasi Kenaikan

Perkembangan produksi batu bara China menjadi faktor lain yang dapat memengaruhi arah harga. Jika produksi tambang kembali meningkat setelah pemeriksaan keselamatan, tambahan pasokan domestik berpotensi mengurangi kebutuhan impor negara tersebut.

Sebagai salah satu konsumen batu bara terbesar di dunia, perubahan keseimbangan pasokan dan permintaan China dapat memengaruhi perdagangan batu bara internasional.

Secara keseluruhan, kenaikan harga batu bara Newcastle selama empat pekan berturut-turut menunjukkan bahwa pasar masih memperoleh dukungan dari permintaan Asia dan ketidakpastian pasokan. Namun, kenaikan mingguan yang hanya mencapai 0,26% mengindikasikan bahwa penguatan harga mulai kehilangan momentum.

Ke depan, arah harga akan bergantung pada sejumlah faktor, antara lain pemulihan stok pembangkit India, kebutuhan energi Jepang dan Korea Selatan, kelancaran ekspor Indonesia, serta perkembangan produksi domestik China.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!