Kamis, 22 Oktober 2026

Produksi Tembus Rekor 4.114 GWh, PGE Perkuat Kinerja Operasional dan Keuangan

Foto: Dok. PGE
Foto: Dok. PGE

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGE) (IDX: PGEO) mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri sepanjang Januari–September 2026. Capaian tersebut menjadi rekor produksi tertinggi Perseroan untuk periode sembilan bulan, sekaligus mencapai 108,22% dari target sebesar 3.801 GWh.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, realisasi produksi tersebut meningkat 9,8% dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 3.747 GWh. Kinerja ini didukung oleh keandalan pembangkit, optimalisasi produksi, serta pengelolaan pasokan uap di berbagai wilayah kerja panas bumi.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pencapaian tersebut menjadi pijakan bagi perusahaan untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis dengan tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.

“Rekor produksi ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami. Kami optimistis dapat terus tumbuh secara disiplin, sehingga keunggulan operasional PGE memberi manfaat bagi pemegang saham, masyarakat, dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Ahmad Yani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Memasuki kuartal IV-2026, PGE berfokus menjaga keandalan pembangkit untuk mendukung target produksi tahunan sebesar 5.255 GWh. Hingga akhir September, perusahaan telah merealisasikan sekitar 78,29% dari target tersebut.

Keandalan Pembangkit Dukung Produksi

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan, pencapaian produksi ditopang oleh disiplin operasi dan pemeliharaan pembangkit, pengelolaan reservoir, optimalisasi produksi, serta kesiapan pasokan uap.

Hingga September 2026, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif PGE mencapai 98,51%, melampaui rencana sebesar 92,20%. Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat sebesar 0,21%, lebih rendah dibandingkan batas rencana 1,48%.

Kedua indikator tersebut menggambarkan tingkat kesiapan pembangkit dan frekuensi gangguan paksa dalam operasional. Capaian EAF yang tinggi dan EFOR yang rendah mendukung upaya perusahaan menjaga pasokan listrik panas bumi secara stabil.

Dari lima area operasi yang dikelola, sejumlah wilayah mencatatkan produksi di atas target.

Area Kamojang menghasilkan 1.438 GWh atau 118,77% dari target, dengan kontribusi sekitar 35% terhadap total produksi. Lumut Balai mencatatkan produksi 702 GWh atau 115,84% dari target, sedangkan Lahendong menghasilkan 658 GWh atau 106,44% dari target.

Kinerja tersebut memperlihatkan kontribusi sejumlah wilayah kerja dalam menopang produksi listrik panas bumi PGE selama sembilan bulan pertama 2026.

Pendapatan Semester I Tumbuh 15,48%

Kinerja operasional yang meningkat turut menjadi bagian dari penguatan fundamental keuangan perusahaan. Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyampaikan bahwa pada semester I-2026, Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$79,61 juta, meningkat 15,48%.

Menurut Fransetya, perusahaan juga berupaya memperluas akses terhadap sumber pembiayaan dengan biaya yang kompetitif. Sejumlah proyek strategis PGE telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026, sehingga membuka peluang memperoleh pembiayaan konsesional (concessional financing) dari lembaga pembiayaan internasional.

Skema pembiayaan tersebut diharapkan dapat mendukung keekonomian proyek dan daya saing investasi. Selain memperluas akses pendanaan, PGE menyatakan akan menjaga keseimbangan struktur permodalan antara ekuitas dan utang serta mempertahankan profil kredit perusahaan.

Meski demikian, perkembangan kinerja keuangan secara menyeluruh tetap perlu dilihat berdasarkan laporan keuangan periode berjalan, termasuk realisasi laba, arus kas, dan kebutuhan investasi perusahaan.

Ekspansi Kapasitas Menuju 1,8 GW

PGE melanjutkan strategi pertumbuhan melalui optimalisasi aset eksisting, ekspansi kapasitas, serta pengembangan sumber pendapatan baru. Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan meliputi Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.

Perseroan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034.

Target tersebut menempatkan keandalan operasional dan pengembangan proyek baru sebagai dua aspek penting dalam strategi perusahaan. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi rendah karbon, realisasi ekspansi akan bergantung pada kesiapan proyek, pendanaan, serta keberhasilan pengembangan sumber daya panas bumi.

Dengan produksi yang melampaui target sembilan bulanan dan rencana peningkatan kapasitas jangka panjang, PGE berupaya memperkuat perannya dalam penyediaan listrik panas bumi dan mendukung transisi energi Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!