Sinergynews.id, JAKARTA — Nilai ekspor produk nikel Indonesia diproyeksikan menembus sekitar US$40 miliar hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan peningkatan nilai ekspor meskipun volume produksi nikel secara metal justru mengalami penurunan.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan, realisasi ekspor produk nikel Indonesia hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar US$25–26 miliar secara year to date (YTD). Dengan tren tersebut, nilai ekspor hingga akhir tahun diperkirakan dapat menembus US$40 miliar.
Menurut Septian, peningkatan nilai ekspor tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam mengendalikan produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Pengendalian produksi dinilai berpengaruh terhadap keseimbangan pasokan nikel global yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga komoditas.
“Kalau kita lihat sampai dengan Agustus, ekspor nikel produk kita sudah sekitar US$25–26 miliar year to date. Estimasi kami sampai dengan akhir tahun ini akan tembus kira-kira sekitar US$40 miliar,” kata Septian dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Volume Turun, Nilai Ekspor Justru Naik
Septian menjelaskan, kondisi ekspor nikel saat ini menunjukkan perbedaan antara pertumbuhan volume dan nilai. Volume nikel dalam satuan ton metal tercatat turun sekitar 3,8%. Namun, nilai ekspornya justru meningkat hampir 17%.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian produksi dapat memberikan dampak terhadap peningkatan nilai ekonomi komoditas.
“Artinya kita kendalikan produksinya, supply dunia kita kendalikan, harganya naik. Jadi kalau kita lihat value-nya naik hampir sekitar 17% walaupun volume turun 3,8%,” ujarnya.
Kondisi tersebut menandai perubahan pendekatan dalam pengelolaan industri nikel Indonesia. Ketika pangsa produksi nasional telah mendominasi pasar global, peningkatan volume tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
Indonesia Kuasai Mayoritas Produksi Nikel Dunia
Indonesia saat ini menjadi salah satu produsen nikel terbesar dunia. Septian menyebut kontribusi Indonesia berada di kisaran 65–66% dari total produksi nikel global pada 2025.
Besarnya kontribusi tersebut membuat kebijakan produksi Indonesia memiliki pengaruh terhadap keseimbangan pasar internasional.
Menurut Septian, situasi tersebut membuat pemerintah perlu lebih selektif dalam menentukan tingkat produksi. Ketika pasar global mengalami kelebihan pasokan, penambahan produksi justru berpotensi memberikan tekanan terhadap harga.
Karena itu, pengendalian melalui RKAB dinilai menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan antara produksi, permintaan, dan harga nikel.
“Ketika kita sudah 65% produksi dunia, kita tahu market-nya oversupply, kenapa kemudian kita harus tambah produksi? Makanya ini perlu ada pengendalian di sisi RKAB,” jelasnya.
Hilirisasi Dorong Investasi Masuk
Selain pengendalian produksi, peningkatan nilai ekspor nikel juga tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi yang telah dibangun pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu kebijakan utama adalah larangan ekspor bijih nikel yang mendorong pengolahan dan pemurnian dilakukan di dalam negeri. Kebijakan tersebut kemudian menjadi salah satu faktor penarik investasi ke sektor pengolahan nikel Indonesia.
Septian menyebut sebelum kebijakan tersebut diterapkan, sekitar 95% bijih nikel Indonesia diekspor ke China. Setelah ekspor bijih dibatasi, komoditas tersebut harus diolah di dalam negeri sehingga mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian.
“Nikel ore yang tadinya keluar diekspor ke China hampir sekitar 95% itu sekarang tidak boleh dan harus diproduksi di Indonesia. Makanya kita bisa menarik investasi-investasi itu,” katanya.
Dengan meningkatnya kapasitas pengolahan dan nilai ekspor, produk nikel kini menjadi salah satu penyumbang ekspor penting bagi Indonesia, bahkan berada di atas sejumlah komoditas utama seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan nikel Indonesia mulai bergeser dari sekadar meningkatkan volume produksi menuju pengelolaan pasokan dan penciptaan nilai ekonomi yang lebih optimal dari sumber daya mineral nasional.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.