MANADO 10/08/2026 — Dewan Energi Mahasiswa Sulawesi Utara (DEM Sulut) menegaskan komitmennya untuk menjadikan gerakan mahasiswa sebagai bagian dari proses pengawalan transisi energi di Sulawesi Utara melalui Renewable Energy Forum 2026.yang dilaksanakan di Graha Gubernuran Bumi Beringin.
Renewable Energy Forum 2026 tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai energi terbarukan, tetapi juga menjadi momentum bagi DEM Sulut untuk mempertegas posisi mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki tanggung jawab intelektual dalam mengawal arah transisi energi di Sulawesi Utara.
Transisi Energi Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan Daerah dan menekankan bahwa energi terbarukan tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan daerah. ujar Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H. dalam pesannya sebagai pembicara kunci di REF 2026
Sulawesi Utara memiliki potensi energi terbarukan yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.“Potensi energi terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan daerah, ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Mailangkay.

Ia juga menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam perjalanan transisi energi.
“Kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, masyarakat dan generasi muda menjadi sangat penting agar pengembangan energi terbarukan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Sulawesi Utara,” katanya.
Pandangan tersebut sekaligus menempatkan transisi energi bukan hanya sebagai persoalan teknis penyediaan listrik, tetapi sebagai bagian dari arah pembangunan Sulawesi Utara.
Sementara itu, Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Andi Joko Nugroho menyoroti pentingnya sumber daya manusia dalam pengembangan energi panas bumi.
Menurutnya, pengembangan panas bumi membutuhkan lebih dari sekadar investasi dan teknologi.
“Pengembangan panas bumi tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang memahami energi panas bumi serta ekosistem pengembangannya,” ujar Andi Joko Nugroho.

Andi mengapresiasi ruang kolaborasi yang dibangun DEM Sulut bersama PGE melalui Geothermal Energy Future Feast 2026. Program tersebut dinilai dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dunia panas bumi kepada mahasiswa secara lebih dekat, termasuk memahami proses pengembangan, teknologi, tantangan dan manfaat panas bumi bagi masyarakat. Ujarnya
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Norman Ginting, mengajak mahasiswa bahwa transisi energi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau industri menjadi perjuangan bersama dengan generasi muda serta “Transisi energi tidak dapat berjalan hanya melalui kebijakan pemerintah atau investasi industri. Kita membutuhkan ekosistem yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, masyarakat dan generasi muda,” kata Norman.
Sulawesi Utara memiliki posisi penting dalam pengembangan energi terbarukan, khususnya panas bumi. Karena itu, keterlibatan generasi muda perlu diperkuat melalui ruang pendidikan, kajian dan kolaborasi dengan Mahasiswa serta harus memiliki ruang untuk belajar, melakukan kajian dan membangun gagasan mengenai masa depan energi terbarukan di Sulawesi Utara ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum DEM Sulut Ariyanto Magenda menegaskan bahwa mahasiswa harus mengambil posisi lebih aktif dalam agenda transisi energi. “Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan transisi energi. Kami ingin mahasiswa memiliki ruang untuk belajar, memahami potensi energi di daerahnya, berdialog dengan pemerintah dan industri, serta membangun gagasan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman,” ujar Ariyanto.
Menurut Ariyanto, posisi mahasiswa dalam isu energi harus berkembang dari sekadar memberikan kritik menjadi kelompok yang mampu membaca persoalan secara utuh, mengawal kebijakan, melakukan kajian dan menawarkan solusi. “Kami ingin memastikan bahwa suara mahasiswa dalam isu energi bukan hanya suara kritik, tetapi juga suara yang menawarkan pengetahuan, gagasan, solusi dan kolaborasi. Mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari solusi dan ikut mengawal masa depan energi Sulawesi Utara,” katanya.
Ariyanto juga menegaskan melalui peluncuran Geothermal Energy Future Feast 2026 adalah komitmen kami dari mahasiswa untuk mengawal pengembangan dan pembangunan energi panas bumi di Sulawesi Utara Bersama PGE Area Lahendong.
Program GEFF 2026 dirancang bukan sebagai kegiatan satu kali, tetapi menjadi agenda tahunan yang secara konsisten membawa isu panas bumi lebih dekat kepada generasi muda Sulawesi Utara. Melalui program tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai panas bumi, mulai dari potensi, teknologi hingga aspek kebijakan, lingkungan, sosial dan manfaat ekonomi.
Panas bumi tidak cukup hanya dipromosikan sebagai energi bersih. Pengembangannya harus terus dikawal serta dipastikan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat ujar Aryanto
General Manager PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong, Yanuaris Dwi Cahyono, menyambut baik program yang diinisiasi oleh DEM Sulut.
Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan industri memiliki arti penting dalam membangun pemahaman generasi muda terhadap sektor panas bumi yang selama ini menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan energi terbarukan di Sulawesi Utara.
“Kami menyambut baik program yang diinisiasi oleh DEM Sulut, yaitu Geothermal Energy Future Feast 2026. Kami melihat program ini sebagai salah satu instrumen jangka panjang DEM Sulut bersama PGE Area Lahendong untuk membangun generasi muda yang memahami panas bumi sekaligus memiliki keberanian untuk mengawal arah pengembangannya di Sulawesi Utara,” ujar Yanuaris.
Ia menilai, keterlibatan mahasiswa perlu terus dibangun melalui ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman industri.
“Lahendong memiliki perjalanan panjang dalam pengembangan panas bumi. Pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang penting untuk dibagikan kepada mahasiswa agar mereka dapat memahami secara lebih dekat bagaimana panas bumi dikembangkan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan energi,” katanya.
Menurut Yanuaris, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi hubungan jangka panjang antara DEM Sulut dan PGE Area Lahendong. “Kami berharap kolaborasi bersama DEM Sulut melalui program ini dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi generasi muda serta ekosistem energi terbarukan di Sulawesi Utara,” ujarnya.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.