Kamis, 29 Oktober 2026

Kader HMI Unsil: Patriotisme Harus Dibuktikan melalui Tindakan Nyata

Foto: Muhamad Ilham Maulana
Foto: Muhamad Ilham Maulana

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Tasikmalaya – Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Siliwangi, Muhamad Ilham Maulana, menegaskan bahwa patriotisme generasi muda tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau seremoni peringatan Hari Sumpah Pemuda. Semangat kebangsaan perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui perjuangan yang konsisten, kepedulian sosial, dan keberanian merespons persoalan masyarakat.

Dalam refleksinya menjelang Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, Ilham mengangkat tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Menurutnya, ketiga nilai tersebut perlu menjadi landasan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan bangsa, mulai dari ketimpangan sosial dan polarisasi politik hingga disinformasi digital dan terbatasnya partisipasi publik.

“Tema Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia mengingatkan kita bahwa pemuda tidak cukup hanya memiliki semangat mencintai tanah air. Patriotisme harus disertai kegigihan dalam memperjuangkan cita-cita bangsa dan empati terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujar Ilham.

Ia mengingatkan agar semangat nasionalisme tidak berhenti pada pernyataan, tetapi juga tercermin dalam keberpihakan terhadap keadilan dan kepedulian kepada sesama.

Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Tantangan Zaman

Ilham menilai, Sumpah Pemuda 1928 merupakan bukti bahwa generasi muda mampu melampaui perbedaan latar belakang dan identitas kelompok demi membangun cita-cita kebangsaan.

Namun, hampir satu abad setelah ikrar tersebut, generasi muda menghadapi tantangan yang berbeda. Perkembangan teknologi, ketimpangan kesempatan, serta polarisasi dalam kehidupan sosial dan politik menjadi persoalan yang membutuhkan respons kritis dan bertanggung jawab.

Menurutnya, kemajuan teknologi semestinya dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan partisipasi masyarakat, bukan memperbesar permusuhan akibat perbedaan pandangan.

“Kalau dahulu para pemuda berjuang menyatukan berbagai kelompok untuk melahirkan kesadaran sebagai satu bangsa, hari ini kita menghadapi tantangan untuk menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan pilihan politik,” katanya.

Ia menambahkan, perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Karena itu, generasi muda perlu menjaga ruang dialog agar perbedaan tidak menghilangkan rasa kemanusiaan dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Mahasiswa Perlu Menghubungkan Ilmu dan Kepedulian Sosial

Ilham juga menyoroti pentingnya kegigihan dalam membangun kapasitas generasi muda. Baginya, daya juang tidak hanya diukur dari ambisi atau keberanian menyampaikan gagasan, tetapi juga dari konsistensi dalam memperjuangkan perubahan.

Mahasiswa, menurutnya, memiliki tanggung jawab untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pembentukan kesadaran sosial.

Pendidikan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan perolehan gelar. Mahasiswa juga perlu memahami persoalan masyarakat, menguji berbagai persoalan secara kritis, serta menawarkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menilai, generasi muda yang berdaya saing bukan hanya mereka yang menguasai teknologi dan mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga mereka yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Daya saing itu penting, kreativitas juga penting, dan kepemimpinan harus terus dikembangkan. Namun, semuanya perlu berjalan bersama dengan integritas dan kepedulian sosial,” tegasnya.

Empati Harus Diwujudkan dalam Tindakan

Selain patriotisme dan kegigihan, Ilham menempatkan empati sebagai nilai penting dalam menjawab persoalan masyarakat, termasuk ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses pendidikan, dan kesenjangan kesempatan untuk berkembang.

Menurutnya, empati tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan keprihatinan. Kepedulian perlu disertai kesediaan mendengarkan pengalaman kelompok terdampak, memahami persoalan dari sudut pandang mereka, serta mengambil bagian dalam mencari penyelesaian.

Dalam kehidupan demokrasi, empati juga berarti menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat dan menolak kebencian sebagai cara memenangkan perdebatan.

Ia menegaskan bahwa persatuan nasional bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk hidup bersama secara adil di tengah keberagaman.

Organisasi Mahasiswa sebagai Ruang Pembentukan Karakter

Lebih lanjut, Ilham menilai organisasi kemahasiswaan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang berintegritas, kritis, dan memiliki orientasi pengabdian.

Organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi tempat berkumpul atau menjalankan agenda rutin, tetapi juga ruang pembelajaran kepemimpinan, pengembangan intelektualitas, dan keterlibatan dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Bagi HMI, nilai Sumpah Pemuda dapat menjadi momentum untuk memperkuat tanggung jawab mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam.

Tradisi intelektual, menurutnya, perlu dirawat melalui diskusi yang terbuka dan argumentasi yang kuat. Sementara itu, semangat pengabdian perlu diwujudkan melalui keterlibatan nyata dalam persoalan sosial.

“Organisasi mahasiswa harus menjadi tempat kita belajar memimpin sekaligus belajar mendengarkan. Kita tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga harus mampu mengorganisasi gagasan, membangun kolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Sumpah Pemuda Harus Melampaui Seremoni

Menutup refleksinya, Ilham menegaskan bahwa peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat akan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan Indonesia.

Ia mendorong pemuda memulai kontribusi dari langkah konkret, seperti menjaga ruang digital tetap sehat, membangun kebiasaan membaca dan berdiskusi, memperkuat solidaritas sosial, serta menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik secara bertanggung jawab.

Menurutnya, patriotisme harus tercermin dalam keberpihakan terhadap kepentingan bangsa, kegigihan melalui konsistensi memperjuangkan perubahan, dan empati melalui tindakan nyata kepada sesama.

“Jangan biarkan Sumpah Pemuda hanya menjadi kalimat yang kita hafal setiap Oktober. Patriotisme harus terlihat dalam keberpihakan kepada kepentingan bangsa, kegigihan harus tercermin dalam konsistensi memperjuangkan perubahan, dan empati harus hadir dalam tindakan nyata kepada sesama,” pungkas Ilham.

Ia berharap semangat tersebut dapat mendorong generasi muda untuk tidak hanya unggul secara intelektual dan kompetitif, tetapi juga memiliki keberanian moral serta kepedulian sosial dalam berkontribusi bagi Indonesia.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!