Rabu, 28 Oktober 2026

Danantara Ungkap 52% BUMN Merugi Rp20 Triliun per Tahun, Transaksi Berlapis Jadi Sorotan

Foto: Dok. Danantara
Foto: Dok. Danantara

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, Jakarta — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengungkapkan bahwa sekitar 52% dari 1.074 perusahaan yang berada dalam pengelolaannya mengalami kerugian dengan nilai mencapai Rp20 triliun per tahun. Kondisi ini mendorong evaluasi terhadap struktur bisnis dan efisiensi operasional badan usaha milik negara (BUMN).

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan temuan tersebut dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026). Berdasarkan pemaparannya, sekitar 558 perusahaan tercatat merugi dengan nilai setara US$1,5 miliar setiap tahun.

Dony juga menyoroti praktik transaksi berlapis antarperusahaan dalam ekosistem BUMN. Menurutnya, sejumlah perusahaan menjalankan fungsi operasional yang saling terhubung, tetapi masing-masing tetap mengambil keuntungan. Pola tersebut dinilai menambah biaya dan menurunkan efisiensi secara keseluruhan.

Transaksi Berlapis Bebani Biaya Operasional

Dony mencontohkan proses pembangunan jaringan serat optik untuk layanan IndiHome di lingkungan PT Telkom Indonesia Tbk. Menurut penjelasannya, pekerjaan tersebut harus melewati empat perusahaan berbeda, dengan masing-masing mengambil keuntungan.

Ia menyebut struktur tersebut menyebabkan biaya menjadi 150% lebih tinggi dibandingkan para pesaing. Pernyataan itu disampaikan sebagai gambaran mengenai dampak struktur bisnis yang dinilai terlalu berlapis terhadap daya saing perusahaan.

Praktik serupa, lanjut Dony, juga ditemukan dalam rantai bisnis Pertamina. Dalam skema yang ia paparkan, Patra Niaga memegang kepemilikan produk, sedangkan perusahaan pelayaran dalam grup bertugas mengangkutnya. Namun, perusahaan pelayaran tersebut kemudian menyewa pihak swasta untuk melakukan pengangkutan.

Menurut Dony, mekanisme tersebut membuat keuntungan berputar di antara perusahaan dalam satu ekosistem, sementara biaya tambahan tetap harus ditanggung dalam proses operasional.

Penggabungan Entitas Hilir Pertamina

Sebagai langkah perbaikan, Danantara menggabungkan tiga entitas bisnis hilir Pertamina, yakni Patra Niaga, Pertamina International Shipping (PIS), dan satu entitas internasional, ke dalam struktur yang lebih terintegrasi.

Dony menyatakan penghematan dari penggabungan tersebut mulai terlihat dalam enam bulan. Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi transaksi berlapis dan meningkatkan efisiensi operasional di lingkungan BUMN.

Secara agregat, Danantara memperkirakan inefisiensi akibat transaksi berlapis di lingkungan perusahaan yang dikelolanya mencapai US$2 miliar per tahun.

Temuan tersebut menempatkan penataan struktur usaha, pengurangan duplikasi fungsi, dan pengendalian biaya sebagai isu penting dalam pembenahan BUMN. Namun, besaran penghematan yang dapat dicapai secara berkelanjutan akan bergantung pada pelaksanaan integrasi dan evaluasi kinerja masing-masing perusahaan.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!