Kamis, 23 April 2026 Indonesia

Dari Potensi hingga Tantangan: Jalan Panjang Menuju Kedaulatan Energi Indonesia

J
Josua Sondakh
01 April 2026
60
Dari Potensi hingga Tantangan: Jalan Panjang Menuju Kedaulatan Energi Indonesia

Manado, 31 Maret 2026 – Simposium Nasional Kedaulatan Energi (SINERGI) 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Energi Mahasiswa Sulawesi Utara (DEM Sulut) menegaskan urgensi transformasi sistem energi Indonesia dari sekadar ketahanan menuju kedaulatan energi yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis potensi lokal.

Bertempat di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara, kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, industri, akademisi, dan generasi muda dalam satu forum strategis guna membahas tantangan struktural serta peluang transisi energi nasional, dengan fokus pada pengembangan energi baru terbarukan, khususnya panas bumi (geothermal).

Kearifan Lokal sebagai Fondasi Transisi Energi

Simposium dibuka dengan prosesi penyematan kain Tenun Kawanua kepada tamu kehormatan serta pertunjukan seni budaya Minahasa. Momentum ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi merepresentasikan integrasi nilai-nilai kearifan lokal dalam pembangunan energi berkelanjutan di daerah.

Geothermal: Potensi Besar, Tantangan Nyata

Diskusi menyoroti bahwa Indonesia saat ini memiliki kapasitas terpasang panas bumi sekitar 2,7 GW, menjadikannya sebagai salah satu produsen terbesar di dunia. Sulawesi Utara sendiri diposisikan sebagai kawasan strategis dengan potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan energi panas bumi di Indonesia Timur.

Namun demikian, forum ini secara kritis mengungkap sejumlah persoalan mendasar:

Ketimpangan infrastruktur energi, terutama keterbatasan integrasi jaringan listrik di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo

  • Inefisiensi sistem distribusi energi, yang menyebabkan sekitar 20 MW energi tidak terserap, dengan estimasi kerugian mencapai ± Rp8 miliar per tahun
  • Penurunan bauran energi terbarukan di tingkat daerah, yang justru berbanding terbalik dengan peningkatan kapasitas produksi energi bersih
  • Tingginya risiko eksplorasi geothermal, baik dari sisi biaya, ketidakpastian geologi, maupun kesiapan infrastruktur pendukung
  • Temuan ini menegaskan bahwa tantangan utama dalam transisi energi tidak lagi terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kesiapan sistem, kebijakan, dan tata kelola energi secara menyeluruh.

Energi sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Simposium ini juga menyoroti bahwa pemanfaatan energi panas bumi tidak terbatas pada pembangkitan listrik, tetapi memiliki potensi hilirisasi yang luas, antara lain:

  • Produksi pupuk berbasis silika untuk sektor pertanian
  • Teknologi pengeringan hasil pertanian yang lebih efisien
  • Pengembangan ekowisata berbasis sumber air panas
  • Pemanfaatan langsung untuk kebutuhan industri lokal

Dengan pendekatan ini, energi diposisikan sebagai penggerak ekosistem ekonomi daerah, bukan sekadar komoditas penyedia listrik.

Transformasi Industri dan Tantangan Kepercayaan Publik

Dalam konteks industri, khususnya peran Pertamina, disampaikan bahwa transformasi menuju energi berkelanjutan sedang berlangsung melalui strategi ganda yang mencakup pengembangan energi fosil dan energi baru terbarukan.

Langkah konkret yang telah dilakukan meliputi:

  • Pengembangan biofuel, termasuk uji coba bahan bakar berbasis minyak jelantah
  • Proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
  • Inisiatif pengembangan green hydrogen
  • Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG)

Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi industri adalah membangun kepercayaan publik, menjaga konsistensi arah transisi energi, serta menghadapi dinamika geopolitik global yang berdampak langsung pada stabilitas energi nasional.

Dimensi Sosial dan Risiko Transisi Energi

Simposium ini juga mengangkat isu kritis yang sering terabaikan dalam diskursus energi, yaitu potensi konflik sosial akibat transisi energi, termasuk:

  • Risiko perampasan ruang hidup masyarakat
  • Ketegangan antara kepentingan energi dan ketahanan pangan
  • Dampak lingkungan dari eksploitasi sumber daya

Hal ini menegaskan bahwa transisi energi harus dilakukan secara adil (just transition) dengan memastikan perlindungan terhadap masyarakat lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Peran Strategis Generasi Muda: Dari Diskursus ke Aksi

Salah satu kesimpulan utama forum adalah bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, harus bertransformasi dari sekadar partisipan diskusi menjadi aktor utama dalam ekosistem energi nasional.

Peran yang diharapkan meliputi:

  • Inovator dalam pengembangan teknologi energi terbarukan
  • Edukator dalam meningkatkan literasi energi di masyarakat
  • Advokator dalam mendorong kebijakan energi yang berkelanjutan
  • Kolaborator lintas sektor dalam model penta-helix

Keterlibatan aktif generasi muda menjadi kunci dalam mempercepat transformasi menuju kemandirian energi yang berdaulat dan berkelanjutan.

Arah Kebijakan: Dari Ketahanan Menuju Kedaulatan Energi

Simposium ini menegaskan bahwa Indonesia perlu segera melakukan pergeseran paradigma dari ketahanan energi menuju kedaulatan energi, yang ditandai dengan:

  • Optimalisasi potensi energi lokal
  • Penguatan infrastruktur dan integrasi sistem energi
  • Peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi energi
  • Kolaborasi strategis antara pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, dan media 

Penutup

Simposium Nasional Kedaulatan Energi 2026 menjadi forum strategis yang tidak hanya menghasilkan diskursus, tetapi juga menegaskan urgensi aksi nyata dalam menghadapi tantangan energi masa depan.

Dewan Energi Mahasiswa Sulawesi Utara menegaskan komitmennya untuk terus mendorong peran aktif generasi muda dalam memperkuat posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu pusat pengembangan energi terbarukan di Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam pencapaian target Net Zero Emission nasional.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Google Masuk dengan Google
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!