JAKARTA, Senin 24 Agustus 2026 — Persoalan energi surya Indonesia tidak hanya membutuhkan investasi dan pembangunan pembangkit, tetapi juga gagasan kebijakan yang mampu menjawab tantangan di lapangan. Ruang tersebut dihadirkan melalui Youth Solar Policy Competition 2026, sebuah kompetisi yang mempertemukan mahasiswa dengan isu kebijakan dan pengembangan energi surya nasional.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian IndoSolar 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) pada 19–20 Agustus 2026 di Fairmont Hotel Jakarta. IndoSolar 2026 sendiri mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, lembaga keuangan, akademisi, mitra pembangunan, serta penyedia teknologi untuk membahas pengembangan ekosistem energi surya Indonesia.
Youth Solar Policy Competition 2026 mengusung tema “Menggerakkan Akselerasi Energi Surya: Perspektif Kebijakan dari Generasi Muda.” Melalui program tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada perkembangan teknologi energi surya, tetapi juga diarahkan untuk menyusun gagasan dan rekomendasi kebijakan yang dapat menjawab persoalan pengembangan energi surya di Indonesia.
Empat Perspektif Kebijakan
Dalam penyelenggaraannya, Youth Solar Policy Competition 2026 membuka empat fokus utama yang dapat dipilih peserta, yakni Ekonomi Hijau, Teknologi dan AI, Ekologi dan Keberlanjutan, serta Hukum dan Politik Kebijakan.

Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa energi surya tidak ditempatkan semata sebagai persoalan teknologi pembangkit. Pengembangannya juga berkaitan dengan bagaimana investasi dan model ekonomi dibangun, bagaimana teknologi dimanfaatkan, bagaimana dampak lingkungan dikelola, serta bagaimana regulasi dan kebijakan publik mampu menciptakan kepastian bagi pengembangan energi surya.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa ditantang untuk melihat persoalan energi surya dari berbagai sudut pandang dan menerjemahkannya menjadi gagasan kebijakan.
Tidak Berhenti pada Kompetisi
Youth Solar Policy Competition 2026 dirancang dengan rangkaian kegiatan yang mencakup Training Session, Coaching Clinic, Case Study, Innovation Showcase, dan Networking Opportunity. AESI menyebut rangkaian tersebut sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dari para ahli sekaligus membangun jejaring dengan akademisi, pemimpin industri, dan penggerak transisi energi di Indonesia.
Peserta yang berhasil mencapai tahap final juga mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan gagasannya dalam IndoSolar 2026. Dengan demikian, gagasan mahasiswa tidak berhenti pada naskah kompetisi, tetapi dibawa ke ruang yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor energi surya.
Pendaftaran kompetisi dibuka pada 30 Juli hingga 11 Agustus 2026. Kompetisi diperuntukkan bagi mahasiswa jenjang D3, D4, dan S1 dengan format dua mahasiswa dalam satu tim.

Mahasiswa dan Tantangan Energi Surya Indonesia
Kehadiran kompetisi ini berlangsung ketika pengembangan energi surya Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Dalam IndoSolar 2026, sejumlah isu strategis yang dibahas mencakup peluang percepatan 10 GW energi surya hingga 2028, pengembangan PLTS Atap dan PLTS Terapung, pemanfaatan microgrid dan sistem hybrid untuk de-dieselisasi wilayah terisolasi, penguatan rantai pasok, pembiayaan proyek, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Konteks tersebut menunjukkan bahwa tantangan energi surya tidak lagi sebatas pertanyaan mengenai apakah Indonesia memiliki potensi matahari yang besar. Persoalan berikutnya adalah bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi proyek yang layak secara teknis dan ekonomi, dapat memperoleh pembiayaan, terintegrasi dengan sistem kelistrikan, memiliki dukungan regulasi, serta ditopang tenaga kerja yang kompeten.
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia, Mada Ayu Habsari, mengatakan pengembangan energi surya membutuhkan ekosistem yang bergerak bersama, mulai dari kesiapan proyek, akses pembiayaan, teknologi, kapasitas industri hingga sumber daya manusia.
Dalam konteks itulah keterlibatan mahasiswa menjadi relevan. Kebijakan energi yang menentukan arah pengembangan sektor surya pada akhirnya membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu membaca persoalan regulasi, ekonomi, lingkungan, investasi, dan implementasi.
Mempertemukan Kampus dengan Industri
Youth Solar Policy Competition 2026 juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri energi surya.
IndoSolar 2026 menghadirkan program tersebut melalui kolaborasi dengan JA Solar, Xingtai Polytechnic Institute of New Energy, dan ATW Solar. Kolaborasi tersebut juga mencakup program pelatihan yang diarahkan untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia dalam industri PLTS.
Keterhubungan antara mahasiswa, akademisi dan industri menjadi penting karena pertumbuhan energi surya membutuhkan lebih dari sekadar penambahan kapasitas pembangkit. Industri membutuhkan sumber daya manusia yang memahami teknologi, sementara pemerintah dan masyarakat membutuhkan generasi yang mampu membaca dampak serta konsekuensi kebijakan energi yang diambil.
Dari Gagasan Menuju Kebijakan
Youth Solar Policy Competition 2026 pada akhirnya menawarkan ruang yang berbeda bagi mahasiswa: bukan hanya menjadi pengguna teknologi energi terbarukan, tetapi ikut memikirkan bagaimana kebijakan energi surya seharusnya dibangun.
Empat fokus yang ditawarkan—ekonomi hijau, teknologi dan AI, ekologi dan keberlanjutan, serta hukum dan politik kebijakan—membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk melihat persoalan energi surya secara lebih utuh.
Di tengah agenda percepatan energi terbarukan nasional, gagasan generasi muda menjadi penting bukan karena seluruh gagasan mahasiswa otomatis menjadi kebijakan, melainkan karena ruang diskusi kebijakan membutuhkan perspektif baru yang mampu menghubungkan kepentingan teknologi, ekonomi, lingkungan dan masyarakat.
Melalui Youth Solar Policy Competition 2026, ruang tersebut dibuka: mahasiswa tidak hanya diajak berbicara tentang energi surya, tetapi mulai ditantang untuk memikirkan kebijakan yang dapat menentukan masa depannya.
Youth Solar Policy Competition 2026, energi surya, energi terbarukan, energi Indonesia, kebijakan energi, mahasiswa, IndoSolar 2026, AESI, transisi energi, PLTS, solar energy, energi bersih, generasi muda, kebijakan energi surya
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.