Sabtu, 30 Mei 2026 Indonesia

Minyak Rakyat Mau Dongkrak Lifting Nasional: Sebuah Narasi "Bisa, Bisa, Bisa" di Tengah Senggolan Iran-Israel

J
Josua Sondakh
16 May 2026
187
Minyak Rakyat Mau Dongkrak Lifting Nasional: Sebuah Narasi "Bisa, Bisa, Bisa" di Tengah Senggolan Iran-Israel

​Di tengah pusingnya kepala pemerintah memikirkan harga minyak dunia yang naik-turun gara-gara Iran, Israel, dan Amerika Serikat hobi saling sindir dan saling lempar rudal, Indonesia tiba-tiba punya jurus pamungkas yang sangat lokalitas, sangat gotong royong, dan tentu saja: sangat membumi.

​Jurus itu bernama: Sumur Minyak Rakyat.

​Kepala SKK Migas, Bapak Djoko Siswanto, baru saja membawa kabar yang bikin dada kita mendadak busung karena bangga. Beliau melaporkan bahwa gelombang masyarakat yang punya sumur minyak tradisional kini sudah mulai tobat massal. Mereka gak lagi menjual minyaknya ke pasar gelap atau kilang ilegal, melainkan berbondong-bondong menyetorkannya ke Pertamina dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

​Dari wilayah abu-abu menuju jalur resmi yang penuh cahaya. Sungguh sebuah plot twist birokrasi yang estetik.

​"Alhamdulillah, masyarakat bersama pemerintah pusat dan daerah, mulai dari Bapak Presiden hingga kepala desa, TNI-Polri, Kejaksaan, hingga seluruh elemen bangsa mulai bergerak bersama..." ujar Pak Djoko dengan nada optimis.


​Membaca daftar pihak yang terlibat, kita kayak lagi absensi upacara hari Senin. Lengkap kap! Dari Presiden sampai Kepala Desa, ditambah bumbu aparat keamanan. Ini mau mengelola sumur minyak atau mau bikin hajatan nikahan massal? Ramai betul.

​Tapi ya wajar kalau ramai. Urusan lifting minyak kita itu sudah lama menderita penyakit "penurunan alamiah". Sumur-sumur gede kita sudah pada tua dan jompo, sementara kita hobi banget naik motor matic buat beli seblak yang jaraknya cuma dua tikungan. Konsumsi BBM naik, produksi minyak turun. Rumus yang bikin menteri keuangan senam jantung tiap malam.

​Nah, masuknya puluhan ribu sumur rakyat ini diharapkan jadi penambal kebocoran tersebut. Bayangkan, minyak yang tadinya disuling mandiri pakai drum bekas di belakang rumah—yang kalau meledak bikin sekampung panik—sekarang mau ditata rapi. Gak tanggung-tanggung, Bank Mandiri dan BNI sudah siap siaga bawa koper duit buat urusan pembayarannya. Kurang formal apa coba? Penambang minyak tradisional sekarang kalau ditanya kerjanya apa, bisa jawab: "Mitra strategis BUMN, Mas."

​Tentu saja, kita harus mengapresiasi langkah ini. Mengubah sesuatu yang ilegal menjadi legal itu susahnya minta ampun. Lebih susah daripada ngajak mantan balikan. Butuh pendekatan persuasif, ketegasan aparat, dan yang paling penting: harga beli yang cocok dari Pertamina. Kalau harganya kerendahan, ya jangan kaget kalau besok-besok minyaknya balik lagi ke pasar gelap.

​Kita semua tentu berharap jargon penutup dari Pak Djoko bukan sekadar mantra pengusir kantuk di kala rapat:

"Bersama kita BISA. Lifting naik: BISA, BISA, BISA."

​Sebab kalau sampai target lifting ini gak naik juga setelah puluhan ribu sumur rakyat dikerahkan, ya terpaksa kita pakai rencana cadangan: menyuruh seluruh rakyat Indonesia beralih ke sepeda onthel, atau berdoa semoga kendaraan dinas pejabat bisa jalan pakai bahan bakar minyak goreng curah.

​Mari kita aminkan bersama: Bisa, bisa, (semoga) bisa!

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Josua Sondakh dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!