Sabtu, 30 Mei 2026 Indonesia

Kenalan dengan Sripeni Inten Cahyani, Satu-satunya Srikandi di DEN yang Siap Mengawal Proyek "Matahari" 100 GW Sambil Tetap Anggun

J
Josua Sondakh
16 May 2026
96
Kenalan dengan Sripeni Inten Cahyani, Satu-satunya Srikandi di DEN yang Siap Mengawal Proyek "Matahari" 100 GW Sambil Tetap Anggun

Kalau kamu mengira sektor energi Indonesia itu isinya cuma bapak-bapak berhelm proyek yang hobi ngomongin kabel, batubara, dan kuota subsidi sambil ngopi hitam, pikiran itu harus segera kamu update. Sini, kenalan dulu sama Ibu Sripeni Inten Cahyani.

Ibu Inten—begitu beliau akrab disapa—baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi bagian dari formasi elite Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030. Yang bikin makin keren, di antara deretan Anggota Pemangku Kepentingan dari unsur industri, beliau ini adalah satu-satunya perempuan. Srikandi tunggal, Bos! Sebuah bukti sahih bahwa urusan masa depan listrik kita gak melulu soal otot, tapi juga soal otak dan manajemen risiko yang presisi.

Nah, tugas Ibu Inten di DEN ini gak main-main. Beliau datang di saat pemerintah lagi punya mimpi yang indahnya mirip lirik lagu anak-anak: Menatap matahari. Ya, Indonesia sedang bersiap mengeksekusi proyek raksasa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW).

Bayangkan, 100 Gigawatt! Itu kalau dipakai buat ngecas HP seluruh warga se-RT, mungkin HP-nya langsung berubah jadi robot saking luber dayanya. Ini adalah proyek transisi energi terbesar sepanjang sejarah republik ini.

Di sinilah indahnya menaruh orang yang tepat di posisi yang tepat. Ibu Inten ini rekam jejaknya di dunia perlistrikan sudah sekebun. Beliau adalah mantan Plt Direktur Utama PT PLN (Persero) dan pernah memimpin PT Indonesia Power. Jadi, kalau soal bagaimana mengalirkan listrik dari hulu ke hilir tanpa bikin mati lampu pas malam minggu, beliau sudah hafal di luar kepala. Ditambah gelar Doktor di bidang Ilmu Ekonomi, klop sudah. Beliau tahu cara bikin proyek ini berjalan efisien tanpa bikin kantong negara jebol.

Sebagai wakil dari unsur industri, misi Ibu Inten adalah memastikan proyek 100 GW ini gak cuma jadi panggung buat barang-barang impor. Beliau pengen pabrik-pabrik lokal kita ikut kecipratan berkah—mulai dari yang bikin panel surya, penyedia baterai, sampai teknisi lokal. Istilah kerennya: memajukan industri dalam negeri lewat jalur mandiri energi. Mantap, kan?

Selain fokus mengawal "proyek matahari" tersebut, kehadiran Ibu Inten di DEN juga membawa angin segar buat isu kesetaraan gender. Sektor energi yang selama ini kaku dan maskulin, pelan-pelan mulai disentuh oleh perspektif perempuan yang terkenal lebih detail, telaten, dan visioner.

Dalam sebuah diskusi, Ibu Inten sempat membagikan statistik yang bikin kita manggut-manggut setuju. Kata beliau, sekitar 77 persen perempuan di Indonesia itu terbukti sukses menjalankan peran ganda: mengurus rumah tangga sekaligus jadi profesional di tempat kerja. Jadi, kalau cuma disuruh mengawasi proyek energi nasional agar selaras antara rencana pusat dan daerah, ya jelas secuil daging bagi kapasitas perempuan Indonesia.

Melihat semangat dan optimisme yang dibawa Ibu Inten di DEN, kita patut optimis bahwa mimpi swasembada energi hijau berkapasitas 100 GW ini bukan sekadar angan-angan di siang bolong.

Selamat bertugas, Ibu Inten! Kami siap mendukung dari bawah, minimal dengan cara tidak lupa mematikan lampu kamar kalau mau pergi ngedate. Biar beban listrik nasional agak ringan dikit. Tabik!

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Josua Sondakh dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!