Selasa, 13 Oktober 2026 Indonesia
TERKINI
Sustainability Sinergi anak bangsa untuk kedaulatan energi negeri • Hukum Kapolri Suyudi dan Harapan Penegakan Hukum yang Berkeadilan • News Sertipikat Tanah Elektronik, Ancaman Kejahatan Digital Jadi Sorotan • Energy DPD IMM Sumatera Utara Dukung Dialog PP Muhammadiyah dan FSPPB untuk Pembenahan Tata Kelola Migas Nasional • Energy PP Muhammadiyah Dalami RUU Migas dalam Audiensi Bersama FSPPB • Energy PP Muhammadiyah dan FSPPB Bahas Arah Baru Tata Kelola Migas Nasional • Energy PLN Batam Pulihkan Listrik Bertahap, Sejumlah Wilayah Kembali Normal • Energy Listrik Batam Pulih Bertahap Setelah Padam Berjam-jam, Warga Keluhkan Air Masih Mati • Energy PLN Batam Pulihkan Jaringan Listrik di Delapan Wilayah • Energy Blackout Batam Jadi Sorotan, Keandalan Sistem Kelistrikan Dipertanyakan • Energy Blackout Batam Lumpuhkan Aktivitas Warga, PLN Masih Telusuri Penyebab •

Ketika Kekuasaan Berlutut, Apakah Keadilan Ikut Merendah?

Foto: Dok. ANTARA FOTO/Galih Pradipta. Presiden Prabowo Subianto menyematkan tanda pangkat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat pelantikan Kapolri.
Foto: Dok. ANTARA FOTO/Galih Pradipta. Presiden Prabowo Subianto menyematkan tanda pangkat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat pelantikan Kapolri.

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

Ada momen ketika kekuasaan terlihat begitu manusiawi. Seorang pejabat yang baru menerima amanah besar menundukkan dirinya di hadapan seorang ibu. Pemandangan itu sederhana, tetapi maknanya tidak kecil. Di tengah jabatan, kewenangan, dan penghormatan publik, ada pengingat bahwa setiap manusia tetap memiliki batas di hadapan nilai-nilai yang lebih tinggi.

Namun, penghormatan terhadap seorang ibu hanyalah satu sisi dari kerendahan hati. Sisi lainnya justru terlihat ketika seseorang memegang kekuasaan: bagaimana ia mendengarkan mereka yang tidak memiliki pengaruh, bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki akses, dan bagaimana ia memastikan bahwa hukum tidak berubah menjadi sesuatu yang hanya mudah dijangkau oleh mereka yang kuat.

Sebab keadilan tidak cukup terlihat dalam sebuah gestur. Ia harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di berbagai tempat, masyarakat masih berhadapan dengan sengketa lahan, ketidakpastian penyelesaian perkara, dan pertanyaan tentang sejauh mana suara mereka benar-benar didengar. Setiap persoalan tentu memiliki latar belakang dan pembuktian yang berbeda. Tidak semua tuduhan dapat dianggap sebagai kebenaran, dan tidak setiap konflik dapat disederhanakan menjadi pertarungan antara pihak yang benar dan pihak yang salah.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tetap layak diajukan: ketika warga biasa berhadapan dengan persoalan hukum, apakah mereka memperoleh kejelasan, perlindungan, dan kesempatan yang sama untuk memperjuangkan haknya?

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!