MANADO — Pemahaman terhadap industri panas bumi tidak cukup berhenti pada pengetahuan mengenai produksi energi terbarukan. Calon tenaga kerja juga perlu memahami bagaimana keandalan aset, manajemen risiko, serta budaya keselamatan diterapkan dalam operasi industri.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Industrial Safety Talk 2026 yang digelar oleh Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Sulawesi Utara bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong di Aula Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), Manado.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kedua Geothermal Energy Future Fest (GEFF) 2026 dengan mengangkat tema “Understanding Geothermal Energy Safety Culture and Future Energy Careers”. Forum mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri untuk membahas aspek keselamatan, pemeliharaan aset, operasional pembangkit, serta kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki industri energi.
Ketua Panitia Industrial Safety Talk 2026, Tesalonika Damanik, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi yang menghubungkan pengetahuan akademik mahasiswa dengan praktik industri.
Menurutnya, pemahaman mengenai Health, Safety, and Environment (HSE) serta manajemen operasional menjadi bekal penting bagi mahasiswa, khususnya mereka yang nantinya akan bekerja pada sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti industri energi.
Keandalan Aset Menjadi Bagian Penting Operasi Geothermal
Aspek keandalan aset menjadi salah satu materi utama yang disampaikan Muliadi Abdi, Asisten Manajer Maintenance PGE Area Lahendong.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan aset di industri geothermal tidak hanya berkaitan dengan memperbaiki peralatan ketika terjadi kerusakan. PGE menerapkan pendekatan Asset Integrity Management System (AIMS) untuk memantau kondisi aset, memperkirakan sisa umur pakai, mengidentifikasi potensi kegagalan, serta memastikan aset dapat beroperasi secara aman dan andal.
Dalam pemaparannya, Muliadi juga menjelaskan penerapan prinsip manajemen aset yang mengacu pada ISO 55000. Pengelolaan aset dilakukan sepanjang siklus hidupnya, mulai dari tahap studi kelayakan dan Front End Engineering Design (FEED), tahap operasi dan pemeliharaan, hingga evaluasi pada akhir umur desain aset.
Menurut Muliadi, pembangkit dirancang dengan pertimbangan umur operasi tertentu. Karena itu, ketika aset mendekati batas umur desain atau masa kontraknya, perusahaan perlu melakukan kajian untuk menentukan opsi seperti life extension atau penggantian aset.
Dalam menjaga keandalan, PGE memperhatikan tiga aspek yang dikenal sebagai RAM, yakni Reliability, Availability, dan Maintainability.
“Reliability” berkaitan dengan kemampuan peralatan menjalankan fungsinya secara andal. “Availability” berkaitan dengan tingkat kesiapan aset untuk digunakan, termasuk dukungan suku cadang dan akses terhadap peralatan. Sementara “Maintainability” berkaitan dengan kemudahan suatu aset untuk dipelihara atau diperbaiki.
Pendekatan tersebut semakin didukung oleh digitalisasi.
Muliadi menjelaskan bahwa sistem seperti Plant Information Management System (PIMS) memungkinkan pemantauan sejumlah parameter pembangkit dari pusat secara lebih terintegrasi. Data operasional seperti temperatur, tekanan, hingga putaran turbin dapat digunakan untuk membantu proses pemantauan kondisi pembangkit.
Selain itu, setiap gangguan atau kerusakan didokumentasikan melalui sistem pelaporan untuk kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Root Cause Analysis.
PGE juga menerapkan pendekatan Risk Based Inspection (RBI). Melalui pendekatan ini, inspeksi tidak dilakukan dengan intensitas yang sama terhadap seluruh peralatan. Aset dengan tingkat risiko kegagalan yang lebih tinggi mendapatkan prioritas inspeksi berdasarkan tingkat risikonya.
Bagi mahasiswa, Muliadi menekankan pentingnya memahami standar dan perkembangan teknologi yang digunakan industri.
Mahasiswa teknik, menurutnya, perlu mulai mengenal berbagai standar seperti API, ASME, dan SNI serta mengikuti perkembangan digitalisasi pemeliharaan yang semakin terintegrasi dengan sistem informasi.
Safety Culture Tidak Berhenti pada Kepatuhan
Sementara itu, Leri Wenur, Manajer Health, Safety, Security and Environment (HSSE) PGE Area Lahendong, menempatkan budaya keselamatan sebagai bagian fundamental dalam keberlangsungan operasi industri.
Dalam materinya mengenai pembangunan safety culture, Leri membedakan antara occupational safety dan process safety.
Keselamatan kerja individu berkaitan dengan perlindungan pekerja dalam menjalankan aktivitasnya. Sementara process safety berfokus pada pencegahan kegagalan proses yang dapat memicu kecelakaan besar atau major accident.
Ia menjelaskan bahwa kecelakaan besar dalam industri dapat memberikan dampak yang jauh melampaui korban langsung. Dampaknya dapat menyentuh aspek manusia, lingkungan, aset perusahaan, hingga reputasi. Dalam pemaparannya, empat aspek tersebut dirangkum dalam pendekatan PEAR, yakni People, Environment, Asset, dan Reputation.
Karena itu, keselamatan tidak cukup diposisikan sebagai seperangkat prosedur yang harus dipatuhi pekerja. Keselamatan harus berkembang menjadi budaya yang tercermin dalam perilaku dan pengambilan keputusan sehari-hari.
Leri memaparkan tahapan perkembangan budaya keselamatan mulai dari pathological, reactive, calculative, proactive, hingga generative. Pada tingkat yang lebih matang, keselamatan tidak lagi hanya bergantung pada pengawasan, tetapi telah menjadi bagian dari pola pikir dan perilaku setiap individu.
Untuk membangun budaya tersebut, perusahaan perlu memastikan adanya komitmen pimpinan, sistem reward and consequence, mekanisme pelaporan bahaya, serta ruang belajar dari kejadian dan potensi kejadian.
Salah satu prinsip yang ditekankan adalah Stop Work Authority, yaitu kewenangan bagi pekerja untuk menghentikan pekerjaan ketika menemukan kondisi yang dinilai tidak aman.
Pengendalian Risiko Menjadi Bagian dari Operasi Geothermal
Dalam konteks operasi panas bumi, Leri juga menjelaskan sejumlah risiko spesifik yang harus dikendalikan.
Salah satunya adalah keberadaan hidrogen sulfida (H₂S) yang bersifat beracun. Karena itu, pengendalian risiko memerlukan sistem deteksi, pemantauan, perencanaan keadaan darurat, serta prosedur untuk mengisolasi sumber bahaya apabila terjadi kondisi abnormal.
Penerapan barrier integrity juga menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko. Prinsipnya adalah memastikan terdapat lapisan perlindungan yang memadai sehingga apabila satu penghalang mengalami kegagalan, masih terdapat penghalang lain untuk mencegah berkembangnya kejadian menjadi insiden yang lebih besar.
Leri juga menjelaskan bahwa operasi geothermal PGE menggunakan sistem yang terintegrasi dari produksi fluida panas bumi hingga pemanfaatannya untuk pembangkitan listrik dan reinjeksi kembali ke reservoir.
Selain aspek keselamatan operasi, perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah kerja. Pemantauan lingkungan, penetapan zona penyangga, serta edukasi kepada masyarakat menjadi bagian dari upaya pengelolaan risiko dan hubungan dengan pemangku kepentingan.
Kampus dan Industri Perlu Memperkuat Kolaborasi
Dari sisi akademik, Plt. Dekan FKM UNSRAT Prof. Ir. Steenie Edward Wallah, M.Sc., Ph.D., IPU, menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi persoalan energi dan lingkungan.
Dalam sambutannya, Steenie mengaitkan isu energi dengan persoalan emisi pada sektor konstruksi. Ia menyoroti kontribusi industri semen terhadap emisi karbon serta pentingnya pengembangan material konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Salah satu riset yang dikembangkannya adalah geopolymer concrete, yang diarahkan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan semen dan dampak emisi dari proses produksi material konstruksi.
Menurut Steenie, persoalan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu. Karena itu, kolaborasi antara bidang teknik, kesehatan masyarakat, energi, lingkungan, industri, dan disiplin lainnya diperlukan untuk menghasilkan solusi yang memiliki dampak nyata.
Ia juga menyampaikan bahwa UNSRAT memiliki Pusat Studi Energi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), yang menjadi salah satu ruang akademik untuk pengembangan kajian energi.
Pada kesempatan tersebut, Steenie menyerahkan buku karyanya berjudul Potensi Material Lokal Sulawesi Utara untuk Beton Berkelanjutan kepada Ketua Panitia sebagai simbol kontribusi akademik terhadap upaya pengembangan material konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Mahasiswa Diminta Menyiapkan Kompetensi Sejak di Bangku Kuliah
Selain membahas aspek teknis, Industrial Safety Talk 2026 juga memberikan perhatian terhadap kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja.
Leri Wenur mendorong mahasiswa untuk tidak menunggu sampai lulus untuk mulai membangun kompetensi profesional. Mahasiswa perlu memahami proses bisnis perusahaan yang ingin dituju, memperluas literasi terhadap standar industri, serta mempertimbangkan sertifikasi kompetensi yang relevan dengan bidang yang diminati.
Menurut Leri, perkembangan teknologi informasi juga membuka akses pembelajaran yang lebih luas. Mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, untuk memahami standar teknis maupun perkembangan industri, dengan tetap melakukan verifikasi terhadap sumber yang digunakan.
Ia juga menyampaikan bahwa kesempatan untuk belajar langsung melalui program magang dapat menjadi bagian penting dari proses pengembangan kompetensi mahasiswa.
Pesan tersebut menempatkan kesiapan kerja bukan sekadar pada kemampuan akademik, tetapi juga pada kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, pemahaman terhadap keselamatan, serta kemampuan memahami kebutuhan nyata industri.
Membangun Ruang Pertemuan Kampus dan Industri
Industrial Safety Talk 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum penyampaian materi mengenai keselamatan kerja. Kegiatan ini memperlihatkan pentingnya ruang pertemuan antara perguruan tinggi dan industri dalam mempersiapkan sumber daya manusia sektor energi.
Kolaborasi DEM Sulawesi Utara, FKM UNSRAT, organisasi mahasiswa, dan PGE Area Lahendong menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman praktis industri.
Bagi mahasiswa, forum tersebut memberikan gambaran bahwa karier di sektor energi membutuhkan lebih dari sekadar latar belakang pendidikan. Pemahaman terhadap proses bisnis, standar industri, teknologi, manajemen risiko, keselamatan, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bagian dari kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak masa perkuliahan.
Melalui kegiatan seperti Industrial Safety Talk, hubungan antara kampus dan industri diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih konkret dalam bidang pengembangan kompetensi, penelitian, magang, dan pengembangan pengetahuan mengenai energi panas bumi.
Komentar (0)
Masuk untuk Berkomentar
Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.