Sabtu, 27 Juni 2026 Indonesia

Genjot Produksi Kuartal I, Kinerja Listrik Hijau PGE Tumbuh 15,22%

J
Josua Sondakh
27 June 2026
68
Genjot Produksi Kuartal I, Kinerja Listrik Hijau PGE Tumbuh 15,22%

JAKARTA, 27 Juni 2026 — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatatkan awal tahun yang gemilang pada kuartal I-2026. Melalui strategi optimalisasi aset dan efisiensi operasional yang kuat, Perseroan sukses membukukan pertumbuhan produksi listrik sebesar 15,22 persen secara year-on-year (YoY) menjadi 1.370 gigawatt hour (GWh).

Lonjakan volume produksi ini menjadi katalis utama bagi pertumbuhan finansial PGE yang solid. Capaian positif tersebut dipaparkan langsung oleh manajemen PGE dalam acara Earnings Call bersama para investor dan analis pada Selasa (5/5/2026).

Lompatan Kinerja Keuangan dan Efisiensi Operasional

Seiring dengan meningkatnya produksi energi bersih, PGE berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$116,56 juta di kuartal pertama ini, naik 14,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (US$101,51 juta).

Berkat efisiensi biaya dan optimalisasi di berbagai lini operasional, PGE sukses mencetak lompatan laba bersih sebesar 40 persen menjadi US$43,899 juta, jauh melampaui raihan kuartal I-2025 yang sebesar US$31,352 juta.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa tren positif ini adalah hasil dari keandalan aset hulu yang terjaga dengan sangat baik.

"Tren positif ini mencerminkan kinerja operasional yang semakin optimal, seiring dengan terjaganya keandalan aset dan peningkatan efisiensi produksi," ujar Andi Joko Nugroho.

Kontribusi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Utama

Akselerasi produksi pada awal tahun ini ditopang secara signifikan oleh performa solid dari sejumlah WKP utama, serta kontribusi penuh dari PLTP Lumut Balai Unit 2 (55 MW) yang telah beroperasi sejak pertengahan tahun 2025.

Berikut adalah rincian kontribusi produksi listrik dari berbagai wilayah operasi PGE selama Kuartal I-2026:

  • WKP Kamojang: 483 GWh

  • WKP Ulubelu: 408 GWh

  • WKP Lumut Balai: 240 GWh

  • WKP Lahendong: 213 GWh

  • WKP Karaha: 26 GWh

Penerapan teknologi hulu yang andal juga mendongkrak capacity factor PGE sebesar 5,03 persen (YoY) menjadi 90,77 persen, sementara availability factor naik menjadi 99,63 persen. Angka ini menegaskan posisi energi panas bumi sebagai pilar keandalan energi nasional yang stabil dan bernilai komersial tinggi.

Ringkasan Indikator Keuangan & Operasional (Kuartal I-2026)

Parameter KinerjaCapaian Kuartal I-2026Pertumbuhan (YoY)
Produksi Listrik1.370 GWh+15,22%
Pendapatan BersihUS$116,56 Juta+14,82%
Laba BersihUS$43,899 Juta+40,00%
Capacity Factor90,77%+5,03%
Availability Factor99,63%+0,27%

Strategi Jangka Panjang dan Ekspansi Berkelanjutan

Menatap masa depan, PGE menargetkan total peningkatan produksi listrik dan uap terkonsolidasi mampu mencapai 5.255 GWh pada akhir tahun 2026. Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa portofolio proyek strategis nasional terus diakselerasi untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

"Kami memastikan seluruh proyek berjalan sesuai rencana agar dapat menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang Perseroan. Saat ini kami tengah mempercepat pengembangan PLTP Hululais Unit 1 & 2 (2x55 MW) serta proyek co-generation dengan total kapasitas mencapai 230 MW," jelas Ahmad Yani.

Dalam peta jalan (roadmap) bisnisnya, PGE membidik target kapasitas terpasang yang agresif:

  • Tahun 2028: Target kepemilikan kapasitas terpasang sebesar 1 GW.

  • Tahun 2034: Target tumbuh menjadi 1,8 GW, di samping mengoptimalkan potensi intermedit sebesar 3 GW.

Beberapa target operasional komersial (Commercial Operation Date/COD) terdekat meliputi Ulubelu Binary Unit (30 MW) pada 2027, disusul pengerjaan sejumlah proyek skala medium (Low Pressure & Binary Unit) pada 2028, serta PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) pada 2030.

Komitmen Nyata Terhadap ESG dan Net Zero Emission

PGE membuktikan bahwa profitabilitas yang kuat berjalan selaras dengan tanggung jawab lingkungan. Hingga 31 Maret 2026, operasional hijau PGE sukses mencatatkan penghindaran emisi (carbon avoidance) masif sebesar 1.167.992,70 ton CO2e jika dibandingkan dengan pembangkit konvensional berbasis batu bara. Seluruh langkah ekspansi komersial ini didedikasikan penuh untuk mendukung ketahanan energi nasional menuju target Net Zero Emission 2060.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Josua Sondakh dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!