Sabtu, 30 Mei 2026 Indonesia

Vox Cum Ethica: DPM Unisbank Gelar Kelas Legislatif dengan Logika Toulmin untuk Suarakan Aspirasi Berbasis Data

K
Kayla Achri
15 May 2026
149
Vox Cum Ethica: DPM Unisbank Gelar Kelas Legislatif dengan Logika Toulmin untuk Suarakan Aspirasi Berbasis Data

SEMARANG – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang sukses menggelar agenda "Kelas Legislatif 2026" di Ruang Seminar Fakultas Vokasi, Kampus Kendeng, Sabtu (09/05/2026). Mengusung tema “Vox Cum Ethica: Bagaimana Implementasinya bagi Mahasiswa?”, forum ini diikuti oleh 150 aktivis mahasiswa yang berkomitmen merestorasi kualitas diskursus publik melalui penguatan nalar dan etika.

Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.30 WIB ini dihadiri oleh peserta internal Unisbank serta delegasi dari berbagai universitas yang tergabung dalam Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Semarang Raya. Kehadiran lintas kampus ini mempertegas urgensi standarisasi cara mahasiswa menyuarakan pendapat di era digital.

Image
Rektor Unisbank foto bersama Narasumber dan Jajaran Pengurus DPM UNISBANK

Rektor Unisbank Semarang periode 2026-2029, Dr. Elen Puspitasari, S.E., M.Si., secara resmi membuka acara dengan pesan kuat. 

"Mahasiswa harus memiliki kecerdasan dalam membedah kebijakan. Vox Cum Ethica adalah janji bahwa setiap suara yang keluar dari kampus ini telah melalui proses dialektika yang matang dan etis," tegasnya.

Membedah Kebijakan dengan Pisau Logika Toulmin Sebagai narasumber utama, pakar hukum Dede Indraswara, S.H., M.H., mengajak para legislator mahasiswa untuk tidak sekadar vokal, tetapi juga tangguh secara metodologis. Ia memperkenalkan enam elemen logika fundamental Stephen Toulmin, mulai dari Claim, Grounds, Warrant, Backing, Qualifier, dan Rebuttal, dimana kesemuanya merupakan senjata utama dalam membedah kebijakan publik.

"Suara yang paling kuat bukan suara yang paling keras, melainkan suara yang paling berkelas"  ungkap Dede. 

Ia menekankan bahwa kritik yang etis adalah kritik yang berbasis substansi dan mampu memisahkan antara ide dengan individu (Disagree Without Disrespect).

Dinamika FGD: Perdebatan Objektif Berbasis Fakta 

Suasana memuncak saat sesi Focus Group Discussion (FGD). Ruang seminar menjadi saksi perdebatan sengit namun tetap kondusif saat para peserta membedah mosi mengenai kredibilitas gerakan mahasiswa. Berbeda dengan debat emosional, para peserta menunjukkan kedewasaan berpolitik dengan saling melempar argumen yang didukung data dan fakta empiris.

Kondisi forum yang aktif dan bersahaja ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih memegang teguh prinsip demokrasi deliberatif. Mereka mampu menyuarakan aspirasi secara benar agar dapat terdengar secara efektif oleh para pemangku kebijakan tanpa harus merendahkan martabat lawan bicara.

Ketua DPM Universitas, Anisa Ragil Saputri, menutup acara dengan harapan besar agar output dari kelas ini menjadi standar baru bagi mahasiswa Unisbank dalam mengawal isu-isu nasional ke depan. 

"Kami siap melahirkan pemimpin yang tidak hanya vokal di jalanan, tetapi juga tangguh dalam perundingan," pungkasnya.
Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Kayla Achri dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!