Sabtu, 30 Mei 2026 Indonesia

Kalau Aku Mengutuk LGBT, Apakah Aku Sok Suci?

G
Gibran Duarta Pandiangan
30 May 2026
7
Kalau Aku Mengutuk LGBT, Apakah Aku Sok Suci?

Coba jujur sebentar.

Saat kamu melihat dua pria bergandengan tangan di mal, atau mendengar seseorang dengan bangga mengumumkan identitasnya sebagai transgender di media sosial apa yang pertama kali bergerak di dalam dadamu?

Bagi sebagian besar orang Indonesia, jawabannya mungkin: tidak nyaman. Mungkin marah. Mungkin langsung jari bergerak ke kolom komentar, mengetikkan sesuatu yang keras. Dan setelah itu, ada perasaan yang samar-samar entah itu kepuasan moral, atau justru sebuah pertanyaan kecil yang mengganggu: Apakah aku berhak?

Pertanyaan itulah yang ingin kita dudukkan bersama hari ini. Bukan untuk menjawabnya dengan cepat. Tapi untuk menelaahnya dengan jujur.


Dua Kelompok yang Sama-Sama Yakin Benar

Di satu sisi, ada orang-orang yang dengan tegas berkata: "LGBT itu dosa. Titik. Tidak ada diskusi." Mereka bersandar pada teks-teks agama yang nyata, pada konsensus moral lintas peradaban, dan pada keprihatinan tulus terhadap nilai-nilai keluarga dan masyarakat. Bagi mereka, mengutuk bukan berarti membenci orangnya melainkan menolak perilakunya.

Di sisi lain, ada orang-orang yang bertanya balik: "Siapa kamu sampai merasa berhak menghakimi kehidupan orang lain?" Mereka berbicara soal martabat manusia, soal empati, soal bagaimana sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kelompok yang dikucilkan hari ini sering kali adalah kelompok yang dimaklumi di masa depan.

Keduanya bicara dengan suara yang lantang. Keduanya merasa sedang membela sesuatu yang penting.

Dan di antara dua kutub ini, banyak dari kita diam-diam terombang-ambing.


Soal Keyakinan Moral yang Tidak Perlu Dipertanyakan

Mari kita akui sesuatu terlebih dahulu: memiliki keyakinan moral yang kuat itu bukan kejahatan.

Dalam Islam, larangan terhadap hubungan sesama jenis tercantum dengan jelas dan tidak ambigu. Dalam Kristen, pandangan tradisional yang sama juga dipegang teguh oleh mayoritas komunitas beriman di seluruh dunia. Bahkan di luar konteks agama, banyak filsuf dan pemikir moral yang berpendapat bahwa ada nilai-nilai yang bersifat universal dan komitmen terhadap nilai-nilai itu adalah tanda kedewasaan berpikir, bukan fanatisme.

Maka, jika seseorang berkata "saya tidak setuju dengan gaya hidup LGBT" itu adalah hak setiap orang yang memiliki keyakinan. Tidak ada yang salah dengan memiliki pendirian moral. Bahkan dalam masyarakat yang paling liberal sekalipun, setiap individu diakui memiliki hak untuk tidak menyetujui sesuatu.

Masalahnya bukan di sana.


Masalahnya Ada di Cermin

Masalah mulai muncul ketika keyakinan moral bertransformasi menjadi sesuatu yang lain: menjadi sumber rasa unggul.

Psikolog moral Jonathan Haidt dalam karyanya The Righteous Mind mencatat sesuatu yang mengganggu tentang sifat manusia: kita tidak menggunakan nalar untuk mencari kebenaran. Kita menggunakan nalar untuk membenarkan apa yang sudah kita rasakan. Dan salah satu hal yang paling mudah dirasakan manusia adalah: "aku lebih baik dari dia."

Di sinilah "mengutuk" bisa berbelok menjadi "sok suci."

Bukan karena kutukan itu salah secara isi. Tapi karena di balik kata-kata yang tampak peduli pada kebenaran, sering kali tersembunyi sesuatu yang jauh lebih primitif: kebutuhan untuk merasa lebih bersih, lebih benar, lebih selamat dengan cara menunjuk ke orang lain yang lebih berdosa.

Ini bukan sekadar teori psikologi. Tradisi-tradisi keagamaan sendiri telah lama memperingatkan soal jebakan ini.


Ketika Agama Memperingatkan Para Pengikutnya Sendiri

Ada sebuah hadis yang sangat terkenal dan sering diabaikan dalam diskusi seperti ini. Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa yang berkata, 'Celakalah manusia,' maka dialah yang paling celaka di antara mereka." (HR. Muslim)

Para ulama menafsirkan hadis ini sebagai peringatan keras terhadap sikap merendahkan sesama. Bukan larangan untuk menyebut sesuatu sebagai dosa tapi larangan untuk menjadikan dosa orang lain sebagai tonggak keagungan diri sendiri.

Dalam tradisi Kristen, Yesus sendiri yang mengucapkan kata-kata yang seharusnya membuat setiap orang yang rajin mengutuk terdiam sejenak:

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu." (Yohanes 8:7)

Kata-kata itu bukan diucapkan kepada para pendosa. Kata-kata itu diucapkan kepada orang-orang yang merasa paling berhak menghakimi.

Perhatikan: itu bukan berarti perilaku yang dianggap berdosa itu dibenarkan. Kisah itu tetap berakhir dengan kalimat "pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi." Tapi urutannya penting. Periksa dirimu sendiri dulu.


Dosa Yang Tidak Kita Posting di Media Sosial

Kita hidup di era di mana penghinaan terhadap LGBT mudah sekali viral. Sebuah meme, sebuah caption, sebuah komentar pedas langsung ratusan tanda suka, ratusan tanda setuju. Dan si pengunggah merasa... benar. Merasa berjasa. Merasa membela nilai.

Tapi mari kita jujur tentang sesuatu.

Berapa banyak di antara kita yang juga memposting kemarahan yang sama terhadap koruptor yang mencuri uang rakyat miskin? Terhadap pengusaha yang menzalimi buruh? Terhadap diri kita sendiri saat kita berbohong kepada orang-orang yang mempercayai kita?

Tentu tidak. Karena dosa-dosa itu tidak memberi kita rasa unggul yang sama. Dosa-dosa itu, kalau kita cermat, juga ada pada diri kita sendiri.

Ada sebuah ironi yang pahit di sini. Dosa yang paling mudah dikutuk adalah dosa yang tidak kita lakukan atau yang tidak kita akui kita lakukan. Sementara dosa yang kita sembunyikan dalam diam: kecurangan kecil, kemunafikan sehari-hari, prasangka yang kita pelihara, cinta yang kita khianati itu semua jarang sekali muncul di feed media sosial kita.


Jadi, Apakah Boleh Tidak Setuju?

Ya. Tentu saja boleh.

Berpegang pada keyakinan moral termasuk keyakinan bahwa hubungan sesama jenis adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai agama atau budaya adalah hak yang sah. Tidak ada seorang pun yang bisa mencabut hak seseorang untuk memiliki pandangan itu.

Yang perlu diperiksa adalah cara dan motivasi-nya.

Apakah kita menyampaikan pandangan ini karena peduli pada kebaikan termasuk kebaikan orang yang kita tidak setujui? Atau karena kita ingin terlihat benar di depan orang-orang yang se-pikiran dengan kita?

Apakah kita mengutuk sambil diam-diam sadar bahwa kita sendiri penuh dengan dosa-dosa yang berbeda? Atau kita benar-benar sedang berbicara dari tempat yang jernih?

Apakah kemarahan kita proporsional sama kerasnya terhadap ketidakadilan, kemunafikan, dan penindasan yang ada di sekitar kita? Atau kemarahan itu selektif, hanya menyala untuk hal-hal yang tidak mengancam kenyamanan kita sendiri?


Yang Lebih Sulit dari Mengutuk

Mengutuk itu mudah. Bahkan menyenangkan. Ada dopamin dalam kemarahan moral.

Yang jauh lebih sulit adalah ini: tetap berpegang pada nilai-nilai yang kita yakini, sambil tetap memperlakukan setiap manusia termasuk yang kita tidak setujui sebagai manusia yang utuh dan berharga.

Bukan berarti kita harus diam. Bukan berarti kita harus berpura-pura semua pilihan hidup adalah sama benarnya.

Tapi ada perbedaan besar antara menyampaikan keyakinan dan mempertontonkan kesucian. Ada perbedaan besar antara tidak setuju dan merendahkan. Ada perbedaan besar antara membela nilai dan mencari musuh untuk merasa lebih baik dari diri sendiri.

Para sufi menyebutnya dengan kalimat yang sederhana dan menggetarkan: "Sibuk mengurus dosa orang lain adalah tanda bahwa kita sedang lari dari dosa sendiri."


Penutup: Pertanyaan Yang Tidak Perlu Dijawab Dengan Keras

Kalau kamu mengutuk LGBT, apakah kamu sok suci?

Mungkin iya. Mungkin tidak. Hanya kamu yang tahu.

Yang pasti: pertanyaan itu layak untuk ditanyakan kepada diri sendiri sebelum jarimu bergerak ke papan ketik. Bukan karena keyakinanmu salah. Tapi karena kejujuran tentang motivasi kita sendiri adalah bagian yang paling berat dari kehidupan moral yang sesungguhnya.

Menghakimi itu mudah. Mengenal diri sendiri itu melelahkan.

Dan mungkin, justru di situlah di ruang jujur antara keyakinan dan kerendahan hati letak dari apa yang sebenarnya dimaksud dengan kebijaksanaan.

 


Daftar Pustaka

  1. Haidt, Jonathan. (2012). The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion. Pantheon Books.
  2. Al-Nawawi. Riyadhus Shalihin (Taman Orang-Orang Shalih) — kumpulan hadis-hadis tentang akhlak.
  3. Alkitab. Yohanes 8:7. Lembaga Alkitab Indonesia.
  4. Brown, Brené. (2010). The Gifts of Imperfection. Hazelden Publishing.
  5. Muslim, Imam. Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Al-Shilah wa Al-Adab.
  6. Pew Research Center. (2023). Religion and Attitudes Toward LGBT Issues Globally.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Gibran Duarta Pandiangan dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!