Senin, 19 Oktober 2026

Geonusa Institute Ingatkan Pemerintah: Libatkan Masyarakat Lokal, Akademisi, dan Mahasiswa untuk Cegah Hambatan Proyek Geothermal

Foto: Dok. PLTP Dieng
Foto: Dok. PLTP Dieng

Dengarkan artikel ini:
0:00 / 0:00

SINERGYNEWS.ID, JAKARTA — Geothermal Energy Nusantara Institute (Geonusa Institute) secara tegas mengingatkan Pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan pendekatan humanis dalam akselerasi transisi energi nasional. Pemerintah didesak untuk melibatkan secara aktif masyarakat lokal, kalangan akademisi, serta kelompok mahasiswa dalam setiap tahapan pengembangan energi panas bumi (geothermal) di seluruh penjuru tanah air.

Direktur Komunikasi dan Publikasi Geonusa Institute, Dede Indraswara, S.H., M.H., menyampaikan bahwa minimnya edukasi dan sosialisasi di tingkat akar rumput memicu resistensi yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hingga saat ini, isu seputar dampak lingkungan dari proyek hulu geothermal masih menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan masyarakat setempat serta kelompok pemerhati lingkungan.

"Ketidakpahaman masyarakat terhadap karakteristik proyek panas bumi dapat menjadi faktor penghambat utama dalam pengembangan energi hijau di Indonesia. Sering kali muncul kekhawatiran keliru bahwa pengeboran geothermal merusak ketahanan air tanah atau memicu bencana vulkanik. Di sinilah pentingnya peran akademisi dan mahasiswa untuk turun menjembatani edukasi ilmiah yang mudah dipahami warga," jelas Dede Indraswara dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Komitmen Mengawal Transisi Energi dan Menghentikan Ketergantungan Batu Bara

Lebih lanjut, Dede menegaskan bahwa Geonusa Institute berkomitmen penuh untuk mengawal peta jalan pengembangan panas bumi di Nusantara. Lembaga ini menilai panas bumi bukan sekadar alternatif, melainkan jangkar utama masa depan kelistrikan nasional.

"Kami dari Geonusa Institute akan mengawal ketat pengembangan Panas Bumi Nusantara karena kami berpandangan bahwa panas bumi adalah potensi energi terbesar Indonesia yang akan terus ada dan dapat dimanfaatkan tanpa merusak alam. Berbeda dengan komoditas fosil, panas bumi tidak akan habis dan memiliki jejak karbon yang sangat minim," tambahnya.

Geonusa Institute menggarisbawahi bahwa momentum pergantian direksi baru PT PLN (Persero) di bawah kepemimpinan Suroso Isnandar harus menjadi titik balik pergeseran paradigma energi nasional yang radikal. Ketergantungan terhadap energi kotor harus segera diakhiri melalui kebijakan diversifikasi yang berani.

"Sudah saatnya kita tidak lagi mengandalkan batu bara sebagai sumber energi nasional. Indonesia tidak boleh terjebak dalam kenyamanan semu komoditas fosil. Dengan mengoptimalkan potensi geothermal yang dipadukan bersama keterlibatan sosial yang inklusif, kita bisa mewujudkan kedaulatan energi yang bersih sekaligus adil bagi masyarakat lokal," tutup Dede.

Disclaimer — Konten Kontributor

Artikel ini ditulis oleh kontributor Jeski dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan dan opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan sikap resmi redaksi Sinergy News. Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca Syarat & Ketentuan kami.

Komentar (0)

Masuk untuk Berkomentar

Silakan login menggunakan akun Google Anda untuk berdiskusi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!